Monday, September 08, 2008

Silverchair “Young Modern Station”: A Growing Chair


Oke, lagi-lagi gw membahas musik yang baru gw donlot: albumnya Silverchair yang berjudul “Young Modern Station” (YMS).

Harus gw akui kalau masa remaja gw dihabisi dengan melahap tiap track dari band asal Australia ini. Well, what do you expect? Grunge music, rebelious lyrics full of angst and darkside, cool-looking-teenagers... all in one-wrap called Silverchair (that day). Intinya adalah musik Silverchair pada jamannya itu sangat sealiran dengan aliran hidup gw. Mungkin sebenernya sih, musik mereka tuh memper Nirvana (yea, bahkan vokalisnya dibilang titisan Kurt Cobain), hanya saja, satu hal yang membuat lagu-lagu mereka menjadi anthem kehidupan remaja gw adalah karena mereka satu umur sama gw. Jadi bisa dibilang, we both walk in the same line.

Album yang asli gw miliki sampai saat ini berhenti di album ketiga yaitu “Neon Ballroom”. Album keempat dengan sangat menyesal tidak gw miliki, hanya merekam hits singlenya aja (The Greatest View) dan album kelima mereka, YMS, baru aja gw donlot sekitar semingguan lalu (walau keluarnya sih udah lebih dari setaon lalu).

Yang membuat gw tertarik, tentu saja diawali dengan berita kembali masuk dapur rekamannya ketiga cowok ini untuk membuat YMS. Namun setelah mendengar hits single pertamanya, “Straight Lines”, gw hampir mengira kalau Silverchair udah rombak personil dan gak ada satupun yang orisinil keanggotaannya dari taon ’95 dulu.
Apa yang gw denger sebagai single terbaru Silverchair di taon 2007, amat teramat berbeda dari apa yang biasa disebut single dari band ini selama kurun waktu 10 taonan dari taon ’95 itu. No more grunge. Hampir gw menangis saat mengetahui itu, “kemana penyanyi lagu kebangsaan remaja gw?”

Walau begitu, setelah mendengar sekian kali single terbarunya itu, gw pun berdamai dan pada akhirnya memutuskan untuk kembali mengujungi situsnya yang udah gak pernah gw buka sejak gw lulusan kuliah. Apa yang terjadi adalah neraka buat gw: bukan cuma musiknya yang berubah, MUKA mereka pun berubah! Sempet curiga mereka memang rombak komposisi personil saat gw tidak juga menemukan muka tirus berkulit pucat dengan rambut gimbal serta tubuh kurus menjulang milik Daniel Johns sang vokalis. Yang gw temukan adalah seorang laki-laki dengan tubuh sedikit berotot, rambut coklat cepak, dan.... wajah yang dihiasi kumis dan jenggot. Hampir gw kira mereka merekrut vokalis jenggo asal Meksiko. Terlebih dengan koleksi tattoo di badannya yang menurut gw sih, gak artistik banget.
Nyatanya, di situ ditulis dengan jelas pada caption foto: DANIEL JOHNS. *Klontaaanggg*

Yeah... indeed everybody’s changing kaan?

Yasud, physical appearance mereka memang berubah, dan single pertama mereka juga berubah. Mungkin saja ini sekedar trik jualan mereka bukan? Mungkin saja hanya satu single mereka yang tidak lagi menggusung warna grunge. Dengan keyakinan itu, gw pun memberanikan diri untuk memutar media audio dalam situsnya yang dengan baik hati menyediakan secara gratis seluruh isi albumnya, sebelum album itu keluar di pasaran (waktu awal 2007).

Apa yang menjadi keyakinan gw, secara perlahan meluruh, karena tidak juga gw temukan warna nada grunge sebagaimana gw temukan di album “Frogstomp”, “Freak Show”, maupun “Neon Ballroom”. Nyatanya, mereka memang sudah berubah menjadi “A Strangechair” (at least to me).

Namun saat gw membaca interview Daniel mengenai album-album mereka, gw pun menyunggingkan senyum. Dia bilang, “...The way I see it, the first album was naivety, the second one was anger, the third one was depression and the last one was escapism. Young Modern is all about acceptance. It's about embracing who we are as band and just really enjoying ourselves because that's all that really matters...” [taken from the official site]

Well, mungkin memang begitu adanya. Bagaimanapun, gak ada satu manusia yang tidak bergerak maju dalam perkembangannya bukan? Tidak ada tetap berdiri di satu tempat, atau malah berjalan mundur. Semua bergerak maju, berubah, apapun jenis perubahannya. Mau menjadi aneh, buruk atau malah menjadi spektakuler, toh pada akhirnya, ia pun masih punya waktu untuk kembali berubah, selama dirinya belum berubah menjadi debu. Bukan begitu?
I think, Silverchair indeed changes. Dan mungkin saja di album yang kemudian, mereka pun akan kembali berubah.

Minggu lalu, gw pun memutuskan untuk mendonlotnya (the full album). Seenggaknya, bisa jadi pengingat gw bahwa masa remaja akan tetap menjadi milik kita di saat remaja. Sedikit aneh juga kalau diusia yang sudah jauh dari belasan tahun masih memiliki sifat angst, rebel without a cause, escapism dan larut dalam kegelapan yang kelam. Hmm...

So, untuk beberapa waktu ini, gw lagi menikmati duduk di “kursi asing” sambil sedikit menyesap segelas kopi dingin, lalu mendecak “changes do you good, babe!

___________________________________

kickin’ the ears: "Reflection of A Sound"


oo, btw, i must admit that in this album, one thing that they finally found: a LIFE. Glad to know that. Although, well, Dan’s vocal is not as great as the studio album when they’re performing live (yes, indeed, i only experienced their live-act thru YouTube)


(ps: image cover YMS diambil tanpa permisi dari situs http://funkysouls.com ^_^V)


No comments:

Post a Comment