Showing posts with label thoughts. Show all posts
Showing posts with label thoughts. Show all posts

Friday, July 18, 2008

fenomena nonton konser: sebuah ke-eksis-an diri







Ckckck...
Lagak gw nulis ini thread udah kayak tukang nonton konser ato beda tipis lah sama calo penjual tiket konser aja. Padahal, hanya ada 2 konser musik yang pernah gw sambangi seumur hidup gw, dan itu berentang waktu kurang lebih sekitar 3 taonan. So... am I valid enough to write such a thread?

Eniwei, not much care about it, hanya bercerita sedikit ketermanguan gw saat mengantri nonton konser musik sebuah band besar di awal maret lalu yang threadnya udah gw umbar begitu banyak di blog ini.

Begini ceritanya....

Duduk-duduk di lantai paving dan dikelilingi para ABG yang gw yakin belum genap ¼ abad menjalani priviledge terberinya yaitu HIDUP, bikin gw amazed. Karena entah bagaimana, mereka bisa mengatur keuangannya untuk membeli tiket seharga setengah juta, yang bagi gw, yang sudah kerja pun, terasa begitu mencekik. Beruntunglah mereka, kata temen gw, “born as a rich-ass-kid” (sirik mode: ON), hahaha.

Tapi tidak hanya itu yang membuat gw cukup termangu dengan fenomena yang ada. Percaya atau enggak, mayoritas dari mereka yang menonton bukanlah mereka yang fasih dengan band yang akan manggung. Gak hanya soal personil (yang dimaklumi deh kalo yang cuma keliatan di mata itu sang vokalisnya doang), pun musiknya. Makanya, gak heran kalo selama nunggu, banyak yang nyumpel kuping mereka dengan earphone yang tersambung dengan ragam iPOD (asli iPOD, bukan mp3player abal-abal yang dijual di kereta). Komentar mereka, “iya, ngapalin nih, ketuker tuker gw lagu mereka”.

Gw dan teman gw pun saling tatap tak percaya.
They spent tho$$$e money untuk sesuatu yang gak mereka kenal?

Lucunya, ada lagi segerombolan cewek ABG yang, kalo gw bilang sih, dandanannya lebih cocok buat hang-out di mall, either itu ngadem sambil perawatan di salon, ato nyesap secangkir capuccino di starbucks. Sempet gak ngebayangin aja mereka berada diantara lautan moshing (walau emang gak ada moshing, tetep desak-desakan kan?), dan yaa, memang mereka tidak berada di kelas festival yang notabene sangat tidak mentolerir para putri keraton bergabung diantaranya, tapi di kelas tribune yang jauuh tapi bisa duduk dengan manis kalo bosen (baca: gak ngerti musik yang dimaenin).

Oke... sudahlah, they are indeed born as a rich-ass-kid, mau digimanain lagiih? Tinggal noel bokap ato nyokapnya, beberapa lembar keluaran Bank Indonesia itu pun langsung pindah tangan.

Tapi yang lucunya lagi, gw yang kebetulan dapet di barisan terdepan di kelas festival, kedapetan bersebelahan (temen gw sih yang bersebelahan), dengan seorang anak SM...P (!!) yang mengira kedua perempuan disebelahnya (gw ma temen gw, red!) adalah siswi SMA... lalu diralat.. kuliah. Sedikit terpana dan cukup termangu setengah gak percaya dengan kenyataan... “tampang kita semuda itu yaaa???”

Tapi tunggu dulu, bukan itu yang membuat gw semakin melebarkan bukaan rahang.
Anak ini dengan begitu lugasnya bertanya, “kemaren ke konsernya MCR?”
Eerrr.... gw pun mengerutkan kening dan menggeleng.
“kalo Black Dahlia? Wah, itu ya konsernya parah banget deh....”
gw cukup terkesima karena ternyata ada anak yang memang pecinta rock n roll dari semuda itu.
“enggak sih, gak gitu tau sama musiknya. Tapi suka aja dateng ke konser. Eh, gitarisnya Incubus siapa sih? Lagunya selaen Anna-Molly apa ya? gw belom ngapalin nih. Tadi dateng ke hotel Mulia gak? Oia, liat Muse gak dulu? Itu keren deh”

Dan gw hanya bengong sementara di otak gw, dengan cepat, bergerak angka-angka nominal harga tiket masuk konser yang rata-rata berkisar di pertengahan juta, alias, 500ribuan ke atas.
Misalnya nih, katakanlah dalam satu tahun itu ada 10 konser musik rock lalu dikalikanlah dengan harga 500ribuan itu... alamaaakkk... dengan duit segitu banyak, gw udah bisa muasin napsu traveling gw sampe mana yaa??? Korea ato Aussie kali ya minimal?

Ckckckck...
Kids today.

Teringat di benak gw, pada saat gw berada di umuran mereka, saat beberapa band asing berdatangan untuk ngadain konser disini, betapa gw berusaha mati-matian untuk mendapatkan tiketnya secara gratisan (tapi gak pernah dapet T.T) dengan modal telpon rumah (yang masih sistem puter itu, plus gak ada sistem redial!), karena gak mungkin tiket itu terbeli dengan uang jajan. Kalopun nekat minta duit ke bokap-nyokap, itu artinya gw udah bosen idup, ato minimal gw udah bosen idup di rumah itu dan siap ditaro begitu aja di jalanan ato lebih bagusan dikit, di panti asuhan antah berantah.
Intinya... nonton konser di jaman gw SMP/SMA/(bahkan) KULIAH adalah... ngimpi aja deh lo!!!

Padahal, dulu harga tiket nonton konser masih berkisaran seratus ribuan yaah paling mahal dua ratusan kali ya? Apa kabar kalo dari dulu udah setengah juta harganya?????

Tapi lalu ada selentingan yang berkelebat di benak gw. Beli tiket konser semahal itu, sesering itu, biarpun gak kenal siapa yang ditonton ato jenis musik apa yang dimaenin, bisa dengan mudahnya dilakukan tanpa ngeluh. Tapi kenapa ya, beli buku pelajaran yang harganya berkisaran disitu dan udah jelas hanya 6bulanan sekali, ngeluhnya bisa sepanjang hari sepanjang umur?

Kalo kata temen gw, perkara tau gak tau, itu belakangan, yang penting... eksis!

Gila, kalo demi ke-eksis-an gw musti menghabiskan satu bulan gaji dalam hitungan sekian jam, itu namanya gw bunuh diri dengan cara yang paling kejam namun bodoh.

Yaah... lagi-lagi gw hanya bisa meng-Amin-i komentar temen gw, “Thank God they’re born as a rich-ass-kid”

Tapi jadi kepikiran, kalo mereka biasa jajan begitu, berapa duit yang harus mereka peroleh saat kerja nanti buat nutupin gaya hidupnya yaa???

Ckckckck....
Again... kids today [geleng-geleng kepala mode: ON]

__________________________________


[onears] The Academy Is .... Everything We Had




Friday, November 30, 2007

Pure Morning: based on true story



A friend in need’s a friend indeed,
A friend with weed is better,
A friend with breasts and all the rest,
A friend who's dressed in leather,

A friend in need’s a friend indeed,
A friend who'll tease is better,
Our thoughts compressed,
Which makes us blessed,
And makes for stormy weather,

A friend in need’s a friend indeed,
My Japanese is better,
And when she's pressed she will undress,
And then she's boxing clever,

A friend in need’s a friend indeed,
A friend who bleeds is better,
My friend confessed she passed the test,
And we will never sever,

Day's dawning, skins crawling [repeat three more times]
Pure morning, [repeat this three more times]

@Placebo@
________________________

Kadang, gak perlu ungkapan ribuan kata untuk dilontarkan mengeluarkan seluruh perasaan dalam hati.
Kadang, hanya butuh 3 atau 4 menitan lagu yang utaian liriknya nonjok, buat memetakan perasaan itu.
Tapi terkadang pula, untaian lirik lagu itu sulit menonjok hati yang terbuat dari batu.
Bukan salah liriknya, tapi salah material dasar hatinya yang gak bisa ditembus.

Mencuri satu kalimat dari Placebo, “A friend in need is a friend indeed...” [cynical mode: *ON*]
Benarkah?
Itu yang masih gw pertanyakan.
Is there any true-friend outthere?
Tanpa disadari, kita mengklaim telah berlaku sebagai “teman baik”, tapi apakah memang benar, kita sudah menjadi “teman yang baik”?

Definisinya apa?
Ciri-cirinya apa?
Berapa persen dari ciri-ciri itu harus dimiliki sebelum mengklaim diri sendiri seorang "teman baik"?

Tell me then my ‘so-called’ good-friends...

[cynical mode: *still going ON*]

Monday, November 05, 2007

...how to save a life...




Step one, you say we need to talk
He walks, you say sit down it's just a talk
He smiles politely back at you
You stare politely right on through
Some sort of window to your right
As he goes left and you stay right
Between the lines of fear and blame
And you begin to wonder why you came

Where did I go wrong, I lost a friend
Somewhere along in the bitterness
And I would have stayed up with you all night
Had I known how to save a life

Let him know that you know best
Cause after all you do know best
Try to slip past his defense
Without granting innocence
Lay down a list of what is wrong
The things you've told him all along
And pray to God he hears you
And pray to God he hears you

Where did I go wrong, I lost a friend
Somewhere along in the bitterness
And I would have stayed up with you all night
Had I known how to save a life
As he begins to raise his voice
You lower yours and grant him one last choice
Drive until you lose the road
Or break with the ones you've followed
He will do one of two things
He will admit to everything
Or he'll say he's just not the same
And you'll begin to wonder why you came

Where did I go wrong, I lost a friend
Somewhere along in the bitterness
And I would have stayed up with you all night
Had I known how to save a life

@by the Fray@


When the tide of life turns against you

And the current upsets your boat,
Don't waste tears on what might have been,
Just lie on your back and float.
[anonymous-quoteland]
....who knows i’ll be on your very side, reaching out the hands, waiting for you to finally grasp them then you are saved...

_________________________________

lagu ‘kehilangan’, entah kenapa selalu bisa menyedot seluruh energi dan pada akhirnya, menghasilkan satu scene yang cantik. In my case, lagu bertema ‘lost’ inspires me the most.
Kheh, what do you know.... “every crowd has a silver lining” [phineas taylor barnum] ^_^

...have heart then you’ll know how to save a life...

Wednesday, June 27, 2007

Nowadays music? Or dare I [cynically] say… ‘nowadays boyband’?

Era boyband emang udah so-last-years.
Coba aja perhatiin, kancah dunia permusikan tidak lagi diwarnai dengan segerombolan laki-laki usia belia, bertampang imut nan menyejukkan jiwa, yang dipoles sedemikian rupa hingga memiliki kemampuan olah vokal yang melodik dan physically-trained mati-matian supaya bisa bergerak ritmis [baca: nari]. Ato, kalaupun bebel gak bisa nyanyi, bisa nari lah. Kalo pun emang bernasib buruk gak bisa nyanyi dan badan kaku, at least bisa berpose cool dan tetep... terlihat ganteng [terlepas dari apapun itu orientasi seksnya], toh ada teknologi bernama lipsync bukan??

Anyway...
Era itu memang sudah lama menjadi basi.
Terutama sih di Amrik.
Terbukti dari reuni beberapa boyband tidak cukup sukses di pasaran dan cenderung hanya jadi hiasan ala kadar di tangga-tangga lagu dunia. Lalu masing-masing anggotanya pun memilih untuk [sukur-sukur laku] bersolo karir.

Boyband... girlband... whatever you call it, is officially... DEAD!
Di belahan dunia manapun.

Namun, disadari atau tidak, muncul dalam bentuk lain.
Ato, kalo boleh dibilang sih, bereinkarnasi dengan sempurna.

Masih tetep sama sih formatnya.
Terdiri dari beberapa gelintir laki-laki. Berusia belia [DAMN! Youngsters ARE del.i.cious haha!]. Bertampang imut nan menyejukkan jiwa. Memiliki kemampuan vokal yang cukup melebihi tubuh terdahulunya [boyband dulu maksudnya]. Pun masih digila-gilai para perempuan terbukti dengan gerombolan groupies-cewek yang rela mengikutinya kemana pun demi secuil kemungkinan get laid. Pastinya sih masih juga bermusik dan punya titel band yang cukup catchy..

Namun, ada satu hal yang membedakannya..... kemampuan bermusik plus alirannya.

YUP!!
Dulu, boyband yang selaen nyanyi en nari pake maen instrumen juga, itu satu banding jutaan kali.
Dulu sih yang penting tampang, bisa cuap-cuap dan mampu menggerakkan tubuh.
Oh ya, dan alirannya, so pasti... POP [entah itu picisan ato pasaran]

Sekarang?
Boyband jaman sekarang sih, semuanya bisa maen alat musik [multi instrumen malah!], walau minus goyang koreografi, bisa nyiptain lagu, gak lagi bertampang manis dan berkelakuan anak mami, daan yang pasti tidak lagi beraliran musik pop.

Alirannya apa?
Well... you can say it.. alternative/modern rock/punk-rock/pop-punk even a socalled-emo ato buat yang sinis mungkin bakal nyebut bubblegum-poprock... apalah itu nama dan sebutannya, yang pasti musiknya sungguh ears-catchy walaupun berdandan gothic.
Intinya sih, the poppers can also shoe-gazing while listening to their music and the rockers take that as a side-dish or snack like fruit salad or potato chips.

Terserah deh mau protes gimana pun, tapi tetep aja mau gak mau ngaku juga kalo band yang lagi menjamur sekarang ini adalah kamuflase/reinkarnasi dari boyband jaman dulu.

I mean, c’mon guys!!
Fakta membuktikan bukan?
Musik yang ears-catchy [cenderung cheesy malah], mayoritas bertema cinta/relationship [juga], muka yang kamera-friendly, umur yang masih muda-muda, whatelse d’you call them?

Toh, pada kenyataannya secara musikalitas pun mereka gak jauh beda sama boyband jaman dulu, nilai plusnya hanya di alat musik dan kemampuan nyiptain lagu aja [temanya sih sama-sama cinta tapi racikan notasinya sedikit lebih rockin’].
Akuilah, they sux live [okay, sometimes not but most yeah!]
Buy the record, don’t go to any concert unless you got the backstage pass or got someone-else paid you to go or... you are just a [real] groupie.
They surely still need many years of experiences before hitting the word LEGEND [sorry, but that’s the fact].

Ada lagi yang berubah, selain aliran musik dan kemampuan bermusiknya, yaitu.... kelakuannya/Attitudes.

Sekarang sih, kelakuan boyband gak jaim layaknya anak mami. Malah, semakin bad-boy, semakin bejibun groupies yang ngintilin mereka. HIDUP BAD-BOYS!! LONG LIVE BAD-BOYS!!! ^_^V
Malah menurut gw, tampang manis udah gak jaman, yang penting kelakuan BADBOYnya itu. Dandanan lusuh mirip gelandangan gak mandi sebulan ato fully-pale-gothic-makeup? GAK MASALAH!
Semakin lusuh ato semakin gothic, justru semakin digandrungi. Semakin di-groupies-i.
Mau terang-terangan smoking-weed? Chewing-mushrooms? Keluar masuk jail? Semakin bermasalah, semakin digilai kok. Make more trouble, guys! We love troublemakers!
Bahkan yang gak ragu buat saling ciuman bibir [cowok vs cowok, red] ato tampil sensual menjurus seksual pun semakin meningkatkan ratingnya [ini gak mempengaruhi orientasi seksnya ya, kebanyakan mereka straight kok. ato terselubung yak? Hahaha!!].
Intinya, BAD-Attitudes COUNT!!

Well begitulah kenyataannya.
Boyband jaman sekarang memang bukan tipikal boyband anak mami jaman dulu yang menggusung lagu-lagu bikin ngantuk [walau jujur, it’s my biggest guilty pleasure too, ha!]
Yang sekarang ini, mungkin cocoknya disebut... ‘[bad]boyband’, hahaha!!
Ini mungkin karena cewek punya obsesi kencan sama BADBOYS yaak?? Hehehe...

Anak mami... step back!
It’s BADBOYS time! Let’s get W-W-WIIILD!!!

Mungkin kayak gitu sih, “The nowadays boyband”. Entah sampai kapan era ini bertahan. Mungkin pas taon 2010, boyband udah balik lagi ke masa-masa NKOTB, ato berubah jadi aliran metal? Mungkin malah ntar smuanya pake topeng tengkorak? Haha!
Tapi harus diakui.... bagaimanapun bentuk dan musik boyband itu, it’s still an enjoyable music to listen to.
Entah karena emang racikan musiknya yang catchy, muka yang kamera-friendly, usianya yang masih belia ato karena keBADBOYan mereka?

Apapun itu alasannya, still a guilty pleasure indeed!

Thanks to the major who’s clever ‘nuff in building market image, and hypnotizing us to stuck to it... ^_^
Hail to the new [bad]boyband era!


-Sedikit terinspirasi setelah liat live-act beberapa band baru dari daratan yang ngakunya sih... “the freedom land” [apanya yg freedom klo SARA aja msh laku disana?]-
___________________________________
[
on ears] ...System of A Down...
catchy in a brutal way? Exactly!
This is how you call them.
In short?
…amazing…

(yang pasti sih, biarpun groupiesnya segabruk, mereka sulit dikategorikan boyband… haha! Gak kebayang kan SoAD berpose boyband?? Err...)

Tuesday, June 26, 2007

Groupies OR [simply] Sl*Ts


Sebuah band musik bukanlah sebuah BAND tanpa kehadiran GROUPIES.
Walau pada kenyataannya, gak cuma band/musician yang punya groupies. Selama loe beken, dalam title apapun bahkan pemuka agama ato teroris sekalipun, loe akan bertemu dan dikelilingi oleh groupies.
Gak percaya? Coba aja perhatiin.

Tapi sekarang, yang mo gw jembrengin adalah groupies-nya Band/Musician [terutama female-groupies]. Kenapa? Ini mungkin terinspirasi setelah gw nonton konser lewat YouTube, ato denger berita soal salah seorang groupie yang menuntut seorang pentolan band karena menghamilinya [yea rite!].

Well, anyway, let’s just get started...

Kalo kita perhatikan, kemana pun, dimana pun, kapan pun dan sedang apa pun sebuah band, pastinya kita akan menemukan sekumpulan manusia [kebanyakan sih perempuan] yang ngintilin mereka dengan membawa-bawa papan/karton besar bertuliskan [dalam tulisan yang juga besar]:

[place the band member name here] SEX WITH ME!!!

Atau

MARRY ME [place the band member name here]!!!


Kumpulan manusia itu akan rela kehabisan suara akibat tereak-tereak manggilin nama tiap anggota band, mandi keringet, gak makan, gak minum bahkan kalaupun pada akhirnya harus berakhir di tenda P3K, demi mendapatkan kesempatan tidak hanya bertemu tapi juga melakukan sesuatu dengan anggota band itu.

Sesuatu yang dilakukan, pastinya berhubungan dengan sesuatu yang intim.
Terserahlah mau digimanain, mau berapa lama, mau keinget apa enggak, mau setelah itu ditendang keluar sama bodyguard apa kgak, ato ditinggalkan begitu aja, yang penting adalah pernah melakukan apapun-jenis-sesuatu-yang-intim dengan para anggota band.
Gak jarang juga, diadakan kompetisi terselubung diantara mereka tentang ‘siapa yang pernah kencan sama drummernya’ ato ‘siapa yang tau ukuran si vokalis’
Something stupid like that lah...

Gak ngerti juga sih, kenapa kok kepikiran ato what’s the point of it exactly, tapi memang begitulah niat mereka.

In somewhat level, mereka adalah fans dari band itu. Walau sepertinya mereka cukup buta akan makna dari kata fan itu sendiri, haha.
Yah, paling enggak, penyumbang devisa terbesar bagi keuangan band-lah.
Sebut aja merchandise/produk yang dikeluarin band itu, pastinya mereka punya. Dari single, album, t-shirt, mug sampe ke foto dalam segala macem pose dimiliki oleh mereka. Bahkan mungkin rela menguras kocek demi mendapatkan barang lelangan [mungkin baju dalem si Anu ato iket rambut si Dia], hingga jutaan...dollar.

Ckckckck....
Hmm... now you got the point how a band gains dollars rite?

Mereka ini pun akan hafal, tidak hanya seluruh lirik lagu maupun sejarah berdirinya band, tapi juga sampai ke kehidupan pribadi mereka. Apa yang disuka, apa yang gak disuka. Makan dimana. Liburan dimana. Mungkin apa aja yang dikeluarin dari perutnya pun mereka tahu, hhaha.

Intinya adalah... they know, every-single-thing.

Nah, mereka inilah yang digolongkan ke dalam sebuah istilah yang disebut GROUPIES [dalam bentuk jamak]

Sebenernya apa sih groupies tuh?
Ato sampe mana batas perbedaan antara groupies dan fans itu?

Karena jujur, fans pun sedikit banyak akan ngintip kehidupan pribadi Band favorit mereka just to kill curiosity, kan? Lalu apa semua groupies hanya ingin ditiduri ato emang ada groupies yang ‘bae’ [groupies yang berattittude] gitu?

Oke...
Dari literatur yang gw dapet dan sedikit penambahan nalar gw plus pengalaman gw pribadi sebagai fan, sebenernya term groupies pada awalnya itu, berarti sebuah grup atau kumpulan manusia yang menjadi tim sponsor/promo sebuah band.
Kumpulan inilah yang bakal rela beli seluruh album band itu, beli merchadisenya dan bahkan membentuk sendiri tim independent berjudul “[insert a band here] FANS CLUB” ato yang sekarang lebih terkenal sebagai “[insert a band here] STREET-TEAM”
Kumpulan ini juga rela mendatangi seluruh konsernya walau harus nyebrang benua [klo di club terkenal club-hopping, di konser juga ada, concert-hopping, hehehe. Ini istilah gw aja sih], yang juga rela ngantri buat meet and greet sama si band demi nunjukin ke band itu klo musik mereka berarti banget buat dia. Kadang, mereka gak sungkan buat mengkritik band kesayangan mereka itu dan biasanya sih justru band jadiin mereka barometer kesuksesan albumnya.

Intinya, apapun dilakukan mereka adalah dengan satu tujuan mulia...”mengharumkan nama si BAND di dunia musik” [dengan side project bagi band sih, menambah penghasilan si BAND, hehehe]

Namun, sekarang sih, istilah itu berubah jadi definisi yang lebih konotatif, yang bikin orang jadi lebih seneng ngebagi dua jenis penggemar band.
Fans dan Groupies.

Hal ini disebabkan karena kelakuan groupies [mayoritas female-groupies, red.] semakin lama semakin fanatik berlebihan cenderung psikopat.
Gimana gak psikopat? Mereka menghalalkan segala macam cara demi bisa berdekatan hingga berhubungan intim dengan anggota Band itu.

Seperti gw bilang sebelomnya, kalo mau jujur, groupies tuh gak beda jauh sama fans sebuah band. Well, it was a term to define it also anyway kan?
Mereka sama-sama menyukai bandnya [walau kemudian yang satu lebih suka musiknya, yang laen lebih tergila-gila pada vokalisnya];
Sama-sama mendengarkan musik/lagu dari Band yang sama;
Sama-sama menjejali kepala mereka dengan info band yang sama [bedanya yang satu lebih ke musical influence, yang satu lebih peduli kehidupan pribadinya]

Mungkin, perbedaan yang paling mendasar ya, terletak pada derajat-kegilaannya itu.

Intinya, para groupies tampaknya telah melewati ambang batas normal, bahkan mungkin sampai ke derajat psycho yang kadang gak hanya membahayakan nyawa si groupie tapi juga Band itu sendiri

A psychopath-obsess[er], so to speak.
Sepertinya, memang jadi sebuah kebanggaan atau sebuah pencapaian bila bisa mengencani [dalam arti meniduri atau ditiduri] anggota Band [eh, kadang sama roadies-nya juga mau... itu kalo udah desperate banget kali ya?? Dari pada enggak sama sekali kan? Upah tereak-tereak seminggu deh, hehe]

Kinda annoying?? Ehem...*manggut-manggut*... A LOT.
Gw yang bukan anggota band dan gak punya groupies aja risih liatnya, apalagi mereka yang 24 jam sehari selama 365 hari setaon diintilin orang-orang tak dikenal yang gak peduli apapun selain get laid oleh mereka ya??

Hiii...

Nah, sejak itulah istilah groupies jadi miring dan bisa dibilang sih, gak beda jauh sama wh*r&. Yaya... WHORE.
Gak ada deh orang yang mau ngaku jadi groupies, apapun definisi yang menjelaskan istilah itu.
Gw sendiri sih masih menggunakan istilah groupies, karena bagi gw, groupies dan fans itu maknanya beda.

Fans itu gak ngebela-belain nonton konser Incubus ke Israel, gitu loh.
Sementara groupies, walaupun tidak berharap ditiduri Brandon Boyd akan rela beli tiket konsernya sampe ke tengah padang pasir, gitu.

Makanya, gw lalu membedakan groupies menjadi dua. The sl*t-groupies dan the good-groupies. Begitu.

Anyway, jujur, menurut gw, semua band membutuhkan keberadaan groupies [dalam kedua istilah yang gw ciptakan itu sih].
Tanpa mereka, sebuah band tidak berarti apapun. Gak akan berarti pe-release-an album atau pagelaran konser sana sini tanpa kehadiran groupies yang setia mendatangi venue konser di belahan bumi manapun.
Dan ini means a lot buat penguatan eksistensi sebuah band di industri musik [pun penguatan sumber penghasilan mereka, heheh], bukan?

Akan tetapi, groupies seperti apa sih yang dibutuhin band?
Apakah sl*t-groupies yang hanya peduli si vokalis punya waktu senggang buat nidurin dia kapan, ato good-groupies yang gak sungkan-sungkan mengkritik musik mereka yang mulai terdengar ‘pasaran’?

Semuanya memberikan kontribusinya sendiri-sendiri sih memang.

Keberadaan groupies yang pertama, bisa jadi sedikit selingan buat melepas rutinitas para anggota band yang udah lama gak ‘maen’, hihihi.
Lumayanlah, bisa melepas rasa pusing menahan hasrat tanpa harus mengeluarkan sepeser uang pun bukan? Mereka rela kok berapa lama pun, dengan gaya sekinky apapun, gratis pula! Hahaha!! [seen a couple of blue-movies about sl*t-groupies and kinda having an aftermath-sick, hehehe. Yikes!!]

Sementara good-groupies bisa jadi cerminan kesuksesan album maupun Band itu sendiri di dunia musik, karena jujur aja, kritik paling berharga adalah kritik yang datang dari orang yang jelas-jelas mencintaimu bukan? Sepedas atau sesakit apapun kritikan itu. Karena toh pada akhirnya, hanya orang-orang yang berani berbicara jujurlah yang benar-benar teman baik.
Well, what do you know? Reality BITES!
Dan sepedas apapun kritikan itu, mereka akan tetap menjadi groupies [the good ones, I mean] band itu.
Sampai kapan pun.

Well, groupies, bukan groupies, ato sekedar penikmat musik, apapun itu jenisnya memang menjadi bagian hidup dari sebuah Band. Termasuk juga ukuran kesuksesannya.

Mungkin, buat anak Band sih, keberadaan groupies dalam derajat manapun semua ada untungnya dan biasanya sih mereka gak ambil pusing. Malah mungkin dengan senang hati memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Iyalah, gw juga kalo jadi anak band, kagak bakal menyia-nyiakan begitu aja kali. Mubazir kan? Segala sesuatu yang tersedia itu memang harus dimanfaatkan, hehehe.

Sekarang, yang musti dipertanyakan adalah pada para groupies yang cenderung sl*ts itu, apakah memang tujuan hidupnya hanya itu, ataukah hanya bagian lain dari euforia sesaat.

Kenapa itu yang dijadikan pertanyaan, karena kalau jawabannya adalah mereka menjadi sl*t-groupies sebagai tujuan hidup, well... mungkin ada baiknya mereka mulai membentuk Asosiasi Groupies Professional. Seenggaknya bisa dapet penghasilan juga kan? Pake manager dan lebih terorganisir bukan?

Nah, kalo jawabannya hanya untuk euforia sesaat, well... sepertinya harus siap-siap untuk tidak menangis atau menuntut si anggota Band bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan [baca: hamil tanpa dinikahi]. Bukan begitu? Karena sungguh akan terlihat sangat TOLOL.
You wanted it, you get it. Don’t complain!!!
Hahaha!!

Haaahh....
Kocak juga...

[Sedikit catatan tambahan: groupies gak berarti harus perempuan, walau pada kenyataannya istilah itu lebih dilabelkan pada perempuan. Well, gak nyalahin juga sih. Istilahnya emang lebih cocok dibawa oleh perempuan, it’s a gender-word anyway. Dan memang, setelah pencorengan nama baik istilah, istilah groupies memang lebih sering dan cocok dipakaikan pada perempuan. Yah, sesuai juga sih, karena toh yang mencorengnya kan female-groupies juga toh?]

Pesan untuk para slut-groupies...
GET A LIFE, KIDS!! [unless this is actually what they called ‘life’? hmm...]
'nyway... klo nyari literature groupies, silakan cari di wikipedia aja. tersedia lengkap kok. or... just google it, hehehe....
___________________________________________
[
on ears] masih tertarik dengan “Arctic Monkeys”.
Interesting songs, sounds, music and... interesting people as well.
Musik yang gokil, berani, cukup cerdas nan sarkas [klo sinis msh tll halus], nakal dengan aksen Yorkshire kentel yang bikin pusing daan.... so pasti yang harus digarisbawahi mu-da, hehehe.
Good thing to go when you’re high [thou I don’t drink, ^_^]

Friday, June 08, 2007

Free Hugs Campaign

Beberapa waktu lalu, pas lagi nonton acara musik di tivi, mendadak gw berasa digetok pake palu yang guedeee buanget, saat sebuah vidio klip muncul.

Lagunya sendiri gak begitu familiar sama gw saat itu, karena lagi-lagi vidioklip itu tidak disertai judul dan siapa penyanyinya. Akan tetapi, satu hal yang membuat gw tercekat, sesak napas dan tidak dapat melupakan vidio itu [bahkan orang yang di dalam vidio itu] adalah cerita dari vidio itu.

Vidio itu begitu sederhana, gak ada tanda-tanda kehadiran si anak band [walau tadinya, gw pikir orang di dalam vidio itulah yang nyanyi], yang ada hanya seorang laki-laki 30an, gondrong kriting, berjenggot, berkacamata, kluyuruan di pedestrian bawa-bawa satu karton gede tulisan FREE HUGS.

Apa yang terjadi selanjutnya?

Rekaman reaksi orang-orang di jalanan yang liat dirinya membawa karton itu. Ada yang nyureng ngeliatin trus melengos pergi, ada yang bengong, ada yang saking ekspresifnya bales meluk sampe jatoh-jatohan.

Tapi satu hal yang bikin gw tercekat adalah saat mereka berpelukan satu sama lainnya.
They’re completely strangers to one another, but share the exact same basic needs: a HUG.

Betulkan gw kalo salah, tapi saat kita merasa down, saat kita terpentok satu masalah berat yang bikin kita pusing 13 keliling dan berasa pengen bunuh diri, saat tidak ada jawaban yang dapat diberikan oleh siapapun, hanya satu yang kita butuhkan untuk meringankan beban yang ditanggung: sebuah pelukan yang begitu sederhana.

Kadang, kita tidak mencari seseorang untuk menjawab atau menyelesaikan masalah kita, karena pada kenyataannya, kita sudah tahu jalan keluarnya. Yang kita cari adalah seseorang untuk memeluk kita. Untuk mengatakan kalau “semua akan menjadi baik kembali dan kau tidak sendiri”.

Jujur, vidio klip itu membuat gw menangis.
Ya, menangis. Menitikkan air mata.
Merasa sesak di dada menahan agar air itu tidak jatuh, tapi gagal.
Dan kakak gw yang duduk bareng nonton vidio itu hanya menatap gw, nyureng sekaligus geli dan jijik mendapati gw seperti itu.

Apa mau dikata?
Karena kadang, gw sendiri lupa untuk memberikan pelukan pada orang terdekat dengan gw saat dirinya menghadapi masalah. Kadang, gw dengan frontal dan vokal malah memarahi atau mendengus dan bilang, “I told you before”.

Padahal, saat dirinya menelpon atau mendatangi gw dengan segala masalah yang membebaninya, dirinya hanya butuh dipeluk.
Gak perlu bicara banyak. Gak perlu bilang, “it’s okay honey”.
Gak perlu membelikannya barang-barang untuk menghibur.

Cukup sebuah pelukan yang hangat dan lembut.

Dan semakin gw menonton vidio klip itu, semakin gw merasa kesal pada diri gw sendiri.
Kenapa begitu sulit untuk menyisihkan sedikit waktu untuk memeluk seseorang?

Tidak butuh biaya besar. Tidak butuh mengeluarkan tenaga banyak.
Cukup hanya dengan membuka lebar kedua tangan, membiarkan tubuh rapuh itu mendarat di dada kita dan menghangatkannya dengan menangkupkan kedua tangan kita, melindunginya.

Hanya itu bukan?
Tapi kenapa begitu sulit???


Lalu hari ini, setelah lama tidak menikmatinya, gw menyempatkan diri untuk membuka situs FREEHUGSCAMPAIGN.ORG sekaligus menikmati vidioklipnya.

......Ready to change the world with nothing but your arms wide open?

Begitu yang tertulis di situs itu.
Andai semua orang melakukannya....
Mungkin, memang benar, dunia akan berubah menjadi lebih manusiawi.
Let’s just hope and start to HUG.


Visit FREEHUGSCAMPAIGN.ORG to find out more about the freehugsmovement or just to kill your curiosity disease. It DOES worth to visit.




I don't mind where you come from, as long as you come to me

I don't like illusions I can't see them clearly.
I don't care no I wouldn't dare, to fix the twist in you.

You've shown me eventually what you'll do.

I don't mind...I don't care...
as long as you're here

Go ahead tell me you'll leave again

You'll just come back running, holding your scarred heart in hand.
It's all the same.
And I'll take you for who you are, if you take me for everything
Do it all over again. It's all the same.

[secuplik lirik dari lagu All The Same by SickPuppies]


“sometimes it takes only one simple-tender-warm-HUG to cure the pain”
Sudahkah anda berikan pelukan pada seseorang hari ini?

x^0^x
_________________________________

Well, sedikit sharing di saat menjelang waktu kantor habis, hehehe...
Pretty good in ending the miserable week anyway. HUGS!!!

[2 threads in a row? Well, what do you know? It’s an escapism, HAHA!]

Wednesday, June 06, 2007

music and the story lies within


“...Music is my life...”

Itu quote hidup gw.
Walau fakta yang harus digarisbawahi tebal-tebal adalah kenyataan kalau gw buta musik. Maksudnya, gw tidak tahu menahu soal notasi musik, sejarah musik maupun soal istilah musik.
Tapi yang harus ditekankan adalah, gw penikmat musik.

Menikmati musik dengan mengandalkan telinga, hati, dan insting juga menyenangkan kok. At least, saat mendengarkan lagu, otak gak kerja ekstra untuk memetakannya secara musikalitas ataupun teoritis. Just let go and feel the music itself. Membiarkannya mengisi telinga dan mengirimkan sinyal-sinyalnya ke otak lalu melebur ke seluruh bagian tubuh.
Merasakan musik itu mengalir dalam darah dan menjadi well-blended adalah satu sensasi lain yang menggelitik dalam hidup ini.

Musik bagi gw udah jadi bagian hidup. Hampir semua lagu yang gw denger, punya ceritanya sendiri. Entah itu memang cerita hidup gw, orang lain, maupun karangan gw sendiri. Cerita yang bisa bikin gw hanyut dan menyatu dengan lagu itu sendiri.

Recent playlist:

Sidewalks [story of the year]
Sepertinya sih, satu-satunya lagu SOTY yang minus tereakan. Liriknya ngena banget, apalagi kalo dengerin yang versi akustik, hmm.
It’s about sighting your life from the sidewalk.
Then you’d realize what kind of life you’ve just passed thru.
It did to me.

Straightjacket Feeling [The All-american Rejects]
Sebenernya, hampir seluruh lagu TAaR ada di playlist gw, tp yang paling catchy dan selalu gw ulang adalah lagu yang satu ini. Seperti di lagu-lagu laennya di album ‘MOVE ALONG’, lagu ini bercerita soal relationship. Cerita tentang orang yang diputusin. Well, secara gw termasuk ‘tempat sampah emosi’ orang-orang yang diputusin dan memutuskan hubungan, sedikit banyak gw berempati dan lagu ini, draws exactly how it feels to be the DUMPED, haha.

“yesterday was hell, but today I’m fine without you!!”
SEMANGAAAT!!! ^_^V

Dig [Incubus]
It’s all about relationship. Bukan hanya terbatas pada intimate relationship sih. Tapi lebih ke finding someone you could rely on whenever you need them, gitu. Knowing that you’re not alone, and there’s someone outthere who’s willing to give you a clever medicine whenever nuts-virus is itching inside.
I must say, it’s... Deep.
Thanks for the ones who cure the itches in me. LUV Y’ALL!!

Anna-molly [Incubus]
Kalo Brandon (Boyd) bikin lagu ini terinspirasi pada cewek imajiner yang punya sense seperti dirinya, gw mengartikannya dalam kerangka yang berbeda.
Sebagai seorang anomali. Menentukan kapal mana yang akan dinaiki dan pulau mana yang dituju sebagai tempat membangun kehidupan.
Somehow, being Anna-Molly is the hardest part in life.
Begitu yang gw deskripsikan tentang lagu ini. It means a lot to me.

The Kill [30STM]
Ini lagu catchy banget. Sekali denger, langsung click sama liriknya. Satu hal yang gw suka adalah temanya yang bercerita soal finishing the other you. Menentukan pilihan mana ‘the real you’ yang akan dijadikan ‘pakaian’ seumur hidup. What can you say? Menentukan pilihan dan menjadi diri sendiri butuh lebih dari sekedar keberanian dan menjadi lifetime issue.

That’s why I like this song a lot.

Leave Out All The Rest [Linkin Park]
It’s like a requiem to me.
Cocok banget buat dijadiin pesan sebelum ‘pergi’.
Saat denger pertama kali album barunya LP, gw langsung click sama yang ini. Padahal, ada banyak lagu barunya LP yang slow dan juga ngarti banget. Tapi yang ini? Beda artinya buat gw.
‘when my time comes, forget the wrong that i’ve done, help me leave behind some reasons to believe. Don’t resend me, and when you’re feeling empty, keep me in your memories, leave out all the rest’

well, it’s absolutely a requiem, ain’t it?
Like it.

That Time on The Ledge [Mew]
Hmm... salah satu lagu melancholic yang jadi OST sebuah cerita yang secara imajiner gw karang. Udah lama nyari OST yang tepat untuk scene itu, dan beberapa waktu lalu, menemukan lagu ini di sebuah situs. And I was shot, right at that moment.

Damn! It’s not an easy thing to blend mood and energy to make my fingers do the dancing. Sampe sekarang, scene itu belum tertuang secara nyata, damn me!

Breathing [Lifehouse]
Finding way back home. Itu ceritanya disini.
What can I say? Home is where your heart is. Bukankah?
Lagu ini jadi cerita bagus beberapa bulan lalu saat seorang teman lama out of nowhere datang di tengah kebimbangannya. Lalu, gw menghadiahinya sebuah buku yang bagus dan sebuah kutipan, “home is where your heart is” [entahlah, buku itu sudah selesai dibacanya atau belum]
Yang jelas, saat ini, dirinya sudah pulang. Bukankah begitu? ^_^V

Another Day [Lene Marlene]
Wiih, jangan tanya kenapa lagu popicisan begini bisa terlintas di benak gw, hahaha. Well, read the lyrics then you’d guess why I relate to this song.
Psstt... it’s kinda my lovelife-soundtrack, hehehe.

Sway [Bic Runga]
Yup Yup Yup!! Another lovelife-soundtrack. Stop swaying me to and fro, kinda having an aftermath-headache [or heartache??hehehe].
Ini lagu untuk masa lalu. Dan sekarang, biarpun sudah selesai, tetep enak untuk dinikmati. Bukankah?

Jojoushi [L’arc~en~Ciel]
Sesuai sama artinya, “puisi”, lagu ini enaaaakkk banget. Syumpe dee.
Ngedengerinnya, berasa dibacain puisi sama Hyde, hahaha.
Cerita dibalik ini? Gak ada sih, tapi enak aja didengerin, hihihi.

Everybody’s Changing [Keane]
Walau ada versi barunya, gw lebih suka yang asli. Lebih menggambarkan maksud dari lirik lagu itu.
Everybody is changing... it is called LIFE, ain’t it?

Walau beberapa waktu lalu, seorang teman berkata, “people change, but not her”
Dalam hati, gw berbisik, “She will. Someday. Have faith.”


Wah, sudah 12 biji yaa??
Banyak juga!!! Padahal, di playlist masih banyak lagunya. Playlistnya banyak lagi! Hahaha. Gak mungkinlah gw jembrengin disini semua, bukaann?? Bisa muntah-muntah yang baca, hoeekk!

Anyway, ada sisipan lagi sih, lagu yang lagi demen muter di kepala gw, sedikit guilty pleasure dari dunia EMO...

Teenagers [My Chemical Romance]
Musiknya lucu, catchy. Liriknya sih bagus, cuma mungkin bisa diartikan beda sama para teenagers yang notabene fans utama band ini.
Satu lagi yang bikin termehe-mehe adalah vokalisnya [Gerard Way] Selaen punya tampang okeh, jari-jari tangan si Gerard itu looh, panjang dan lentik dan kurus dan mulus.
DAMN!!! [I must admit I’m possessing fettish on fingers, hahaha]


Okay, that’s all folks, sedikit cerita tentang musik di telinga gw.
Menarik?
Enggak?

Nikmatin aja, that’s why you visit my page, rite??

_____________________________________________
[
on ears??] hmm... sedikit flashback mendengarkan sekompi kumpulan OASIS dan sedikit melarikan diri dari jeratan ‘dunia gelap pelacuran’ HAHAHAHA!!!

[created at] 00:47 AM - 060607

Monday, May 21, 2007

EMO: dicaci tapi bikin nagih


[bila orang awam merepet soal musik... ^_^V]

Sampe detik ini, gw gak pernah peduli tentang genre musik. Mungkin ini karena sisi ketidaksukaan/keantian gw akan kata label yang bikin gw gak gitu peduli.
Makanya, kalo ditanya “lo suka genre musik paan?”, nah gw bingung jawabnya paan. Secara, sebagaimana makanan, gw tergolong ‘penyantap’ segala, termasuk musik. Emang sih, kalo dangdut, keroncongan, ato campur sari, gak pernah sampe ngelotok merhatiin musiknya, tapi kalo bokap gw lagi nyetel itu di rumah, gw sih asik-asik aja ikut mendengarkan [walau gak sampe menikmati dan soon after that, I just don’t even remember it]

Anyway, beberapa waktu lalu, gw terlibat dalam satu pergulatan mengenai genre musik. Seseorang bersikeras band yang sedang dibahas ada dalam genre musik EMO. Sementara yang lain protes dan menggolongkannya pada simply just a ROCK music, karena bagi dirinya, EMO sucks. Dan, mulailah perseteruan tanpa ujung soal genre musik EMO-rock itu. Yang satu bilang EMO sucks [entah kenapa] dan yang laen bilang EMO is a phenomenal [well...].

Lalu gw? Hanya celingukan dan mengerutkan kening, lalu memutuskan untuk membiarkan mereka ribut sendiri.

Hal ini sebenernya gak jarang ditemuin [baca: pen-denial-an soal EMO]. Banyak banget band yang menolak disebut genre musik EMO dan lebih milih untuk dimasukkan dalam genre ROCK atau INDIE atau PUNK. Para fans dari band-band itu pun bersatu padu untuk memperjuangkan label band mereka untuk keluar dari genre EMO.
Intinya, mereka rela dimasukin kemana aja, asalan bukan EMO. Amit-amit deh EMO, najis!! [begitu mungkin menurut mereka]

Gw sendiri gak ngerti kenapa genre EMO itu begitu dibenci dan disebut musik yang lame, fags, mencoreng, dan segala stigma lain yang mengikutinya lah.
Mungkinkah karena terdengar 'mellow' dan ‘kuping-cewek-friendly’ banget [makanya fansnya juga banyak ceweknya]?? Ato gaya dandanan EMO yang mostly gothic juga cenderung ‘girlie’?? Ato simply karena terlalu mengatasnamakan emosi yang meletup-letup??

Entahlah.

Intinya, EMO dijauhi, dibenci dan diharamkan [kasian banget yaa??]. Agak rancu aja. Music is universal, bilangnya gitu, gak kenal diskriminasi.
Tapi buktinya??? Diskriminasi banget gak sih? Apalagi kalo gak mau diklasifikasikan pada genre tertentu hanya karena stigma yang menempel erat di judul genre itu, bukankah??

Sebenernya genre musik EMO tuh seperti apa sih? Terlepas dari faktor eksternal yang mengikutinya ya, macem dandanan gothic gitu [kadang, malah suka iri sama laki yang begitu luwes menggariskan eyeliner ato nyapuin eyeshadow, ckckckck... it’s kinda HOT thou, ;p]
Setau gw, EMO itu singkatan dari EMOtional. Disebut begitu karena musiknya dipenuhi dengan luapan emosionalitas yang tinggi [rasanya kalo dengerin musik mereka, seluruh emosi terserap habis sampe ke tulang, gitu]. Mayoritas sih lagunya tergolong dalem plus gelap [ya liriknya, ya musiknya, ya cara nyanyinya], makanya emosi yang keluar biasanya emosi negatif [pain, hopeless, despair, lost, suicidal, broken, etc.] tapi gak jarang juga bercerita tentang cinta [falling in love, lust, etc.]. Kalo dipikir-pikir sama aja kayak musik ROCK laen bukan?? Cuma, mungkin bedanya, musik EMO itu lebih.... ‘jinak’ [yeah, seperti gw bilang, ‘kuping-cewek-friendly’].

Kalo gw, nyiriin musik-musik begini itu yang kalo vokalisnya nyanyi, itu saking emosionalnya sampe teriak melengking menyuarakan emosi yang dia rasain [tanpa intervensi rap/R&B tapi ya, purely ROCK]. Pokoknya lengkingannya bikin loe bahkan pengen ikut teriak dan kesakitan deh [ini yang emosinya negatif ya]. Biar gitu, gak asal teriak loh, tapi ada melodinya. Melodrama?? Begitulah... [susah ya ngegambarinnya]

Intinya sih begitu.
Gw sendiri gak jelas ini genre muncul kapan, gimana dan kok iseng banget nyiptain genre beginian, saking kagak ada kerjaan laen apa ya? Ato emang karena sifat manusia yang suka banget nempelin label dimana-mana saking udah keabisan kaleng/jar, hehehe. Alhasil muncullah genre ini di klasifikasi ROCK-music.

Gw sih gak peduli genre paan musik yang gw dengerin, selama itu emang enak and enjoyable, bukan?
Lagian, musik mana sih yang gak pake emosi? Selama yang nyanyi masih dalam spesies manusia, pastinya nyanyi pake EMOsi dong?? Lagian, pengklasifikasian yang aneh kan? Hehehe...

Band yang masih rela diklasifikasikan ke EMO sepertinya tinggal Jimmy Eat World ato Dashboard Confessional. Sementara yang laen udah berlomba-lomba memperjuangkan dirinya digolongkan dalam genre 'musik lain-lain', hehehe.
Padahal, biarin aja ya, selama dia gak digolongin ke popicisan macem Paris Hilton gitu looh [hahaha! Udah total silang genre itu mah ya??]

Apapun itu, pada kenyataannya, musik-musik rock yang dipenuhi dengan luapan emosi dalam melodi kegelapan [pake teriak-teriak kesakitan gituh] sepertinya lagi merajalela di seluruh pelosok dunia [terutama Amrik sih]. Hampir semua band rock menggusung aliran beginian [ato ini yang kebetulan gw denger aja ya??], dengan catatan yang harus digaris-bawahi tebal-tebal, bahwa mereka bukan EMO [whatever... rolling eyes MODE: *ON*]

Ini jadi bukti kalo biarpun EMO dibenci, dicaci dan didiskriminasikan eksistensinya dalam aliran musik rock, tetap musik jenis beginian bikin nagih. Benarkan gw bila salah... admit it, you do enjoy the sound TOO right???

Well, nikmati sajalah selama musik beginian masih menjamur. Mungkin, suatu saat, bila musik ini udah jadi antik dan fosil, baru band-band itu berlomba-lomba memproklamirkan bahwa mereka adalah penggusung genre musik EMO... [yea rite]


“Jadi intinya, lo suka EMO gak?”
Itu yang jadi pertanyaan temen gw.

Well, what can I say? I do enjoy listening the sound-like, but I neither say like it nor hate it. I said, I listen. Okay? Got the picture of it already? Nice...

Pretty enjoyable anyway kok...

___________________________________________

[on ears] The Bird and The Worm.by.The Used (termasuk band yang ogah banget disebut EMO)

Friday, May 04, 2007

..MISREAD..


if you wanna be my friend
you want us to get along
please do not expect me to
wrap it up and keep it there
the observation i am doing could
easily be understood
as cynical demeanor
but one of us misread...
and what do you know
it happened again

a friend is not a means
you utilize to get somewhere
somehow i didn't notice
friendship is an end
what do you know
it happened again

how come no-one told me
all throughout history
the loneliest people
were the ones who always spoke the truth
the ones who made a difference
by withstanding the indifference
i guess it's up to me now
should i take that risk or just smile?

what do you know
it happened again
what do you know


note:
kinda related to this one. love every word of it.
somehow, we just misread someone and being misread by someone (even the closest one) at the exact same time.

what do you know? it happened again.
should you take that risk or just smile?

hehehemmm……

___________________________________________

[on ears] hey, what do you know? MISREAD.by.Kings of Convenience

Tuesday, April 24, 2007

Pesan Marley

Phew!!
Akhirnya, Sabtu kemarin, selesai juga!
Siksa batin yang bikin gw keseringan menghela napas dan meredam rasa benci maupun amarah.
Lalu apa berikutnya?
Hmm... lihat-lihat koleksi buku di lemari dan pada akhirnya, gw pun angkat kaki ke toko buku. Beli buku-buku Timur Tengah lainnya? Enggak juga. Tapi memang benar: mencari buku.

Butuh sejam lebih nguprek di ruangan berAC itu. Terlalu banyak yang ingin dibeli, sementara budget menipis [hell-Ow?! Gotta save more for the summer, remember?!]

Sepuluh buku ada di tangan, beberapa lainnya masuk jarak pandang dan tersimpan rapi dalam kotak memori di ‘loteng’. Namun, dengan berat hati, hanya tiga yang diizinkan ikut pulang [huaaa!!!]. Salah satunya adalah buku ini....




Yup!!
Aku dan Marley.

Don’t judge a book by its cover.
Hell damn right!!

Tapi untuk yang satu ini, gw gak bisa berkelit.
How could you be so ignorance seeing those adorable eyes?!
Seakan pandangan anjing itu berkata, ajak aku bermain denganmu, dan kita akan bersenang-senang.

Dan memang benar kenyataannya.
I am having fun reading the book.
Seakan ada dorongan untuk lagi dan lagi membuka lembar demi lembar penuh kata-kata itu.

Kadang tertawa. Kadang gemes. Kadang kesel.
Kadang hanya terdiam dan sedikit tercekat.
Dan pada akhirnya, tergugu, dengan lelehan air dari mata, di pojokan kamar.

Ceritanya sendiri berfokus pada Marley, seekor anjing Labrador Retriever, yang sangat nakal dan susah diatur, tapi mengajarkan satu hal: how to grab a life and enjoy every single bite of it.

Marley begitu tahu apa yang ia inginkan dan tahu bagaimana menjadi dirinya sendiri. Begitu menikmati hidupnya dan dirinya. Mengajarkan bahwa hidup itu sederhana dan sangat teramat indah bila kita sedikit mau ‘melepas’ diri kita untuk lebur kedalamnya tanpa batasan yang mengekang kuat.

Hidup dan cinta. Dan kesetiaan. Dan pengabdian. Dan kebahagiaan. Dan kesederhanaan.
Semua sudah ada di depan mata, tapi entah bagaimana, semua itu seakan menjadi kasat mata. Dan kita, mendadak terserang penyakit mass-amnesia, dimana kita lupa akan kesemuanya itu.

Seperti dikutip dari buku itu...
“Sederhana sekali. Akan tetapi manusia, yang jauh lebih bijak, selalu kesulitan untuk menimbang mana yang perlu dan mana yang tidak.” [p.284]
Gw tidak memelihara anjing [walau desperately wanted it] tapi membaca buku ini, gw berasa benar-benar memelihara seekor anjing dan mengikuti perkembangannya selama 13 tahun. The ups and the downs. The laughs and the tears...
Membaca Marley, juga bikin gw makin menghabiskan waktu untuk mengamati ke-12 ekor kucing yang gw piara di rumah. Begitu banyak ulah. Begitu banyak karakter. Kucing yang satu terlihat kalem dan penurut. Kucing yang lain, begitu lasak dan sulit diatur. Ada lagi kucing yang begitu menikmati hidupnya walau harus menghabiskan seluruh sisa hidupnya dalam kandang dan semangkuk bubur hati ayam akibat sakit yang ia derita 3 tahun terakhir.

Dan gw, bersyukur karena memiliki mereka. Hidup bersama mereka, mengajarkan gw banyak hal. Untuk tertawa banyak-banyak. Untuk menyisakan banyak waktu untuk bermain. Untuk menghabiskan waktu dengan tidur pulas. Bahkan untuk sekedar berhenti dan memeluknya [memupuk sisi nurture?].

Salah satu obat paling manjur untuk melepas kepenatan diri.

Rasanya... tenang dan ringan tatkala pulang ke rumah dan mendapati seekor Qinoy yang sedang membulat di sofa, atau si kembar Ijul dan Temi yang berlarian kian kemari melambaikan ekor-ekor besarnya, atau Bona yang membuat kegaduhan dengan curian ikan tetangga yang tertancap kuat di mulutnya [ikan mentah, red.].

Well... animals.
Selalu punya cara untuk menikmati hidupnya. Baik di dalam ‘kandang’ maupun di alam bebas.

Begitu juga dengan Marley. Hanya bedanya, Marley adalah seekor anjing. Satu jenis binatang mamalia yang sangat teramat gw dambakan keberadaannya di dalam rumah. Well, dulu emang pernah piara 2 ekor anjing jenis peking yang kecil dan berbulu banyak dan...... berisik!!
Tapi anjing-anjing kecil tidak termasuk dalam definisi anjing dalam kamus gw, hehehe. Anjing bagi gw adalah binatang berkaki empat, berambut [banyak maupun sedikit], bertubuh besar dan menggonggong [bukan menyalak] dengan suara yang berat dan maskulin, hehehe.

Anyway, the more I read it, the more I convince myself that... I MUST HAVE DOG[s].

Yea, I do love dogs
Dan yea... terobsesi untuk memeliharanya [sebanyak mungkin!!]

Dulu, punya mimpi buat punya rumah di kaki bukit dan pinggir danau. Gak perlu rumahnya gede yang penting halaman luaaaasss buanget. Mungkin mirip rumah-rumah bergaya ranch yang selalu menghiasi film-film bule yaakk??
Tentunya, selain sebuah keluarga [suatu saat nanti... ;p], rumah gw itu akan di’ramai’kan dengan... aneka binatang. Bahkan mungkin buka penampungan binatang terlantar dan terabaikan.
Dan anjing ada di urutan pertama. Kalo perlu dalam jumlah belasan [atau puluhan??]
Pasti seru dan penuh kehebohan.

Cukuplah tentang mimpi itu.
Suatu saat akan gw realisasikan.
Entah kapan.

Tapi yang jelas, keberadaan binatang peliharaan adalah wajib dalam hukum kehidupan gw, hehehe.

Have any pets? Grab one if you don’t, then you’ll know how wonderful life is to have them around.
At least, we can learn how to really enjoy the life in a simple way.

Oia, buku ini adalah buku wajib bagi seluruh umat pecinta binatang, terutama anjing. Foto demi foto kenangan Marley bakal bikin hati ini meleleh dan ingin segera memeluknya. Cerita hidup Marley pun bakal bikin kita makin sayang dengan binatang piaraan kita dan semakin menghargai arti keberadaan mereka disekitar kita.
____________________________________________

Monday, April 02, 2007

Incubus in developmental stages theory



Lots of people – critics or fans – say that the newest album of Incubus – Light Grenades - is less appealing or too soft or even shows lack of improvements. Hmm… I’m a bit nodding at it [yes i admit it]. Well, not that I agree with those comments but I too frowned as I [really] listening to the whole album for the first time. One question came up in my head was… “Is this the same Incubus?!”
Well, no doubt it still has the strong flavor of Incubus-ism there, really thick for sure.
But there’s something… different…
Something’s… changed.

Hell yea! Changes do you good anyway rite?

Then I again drowned myself into their oldies from SCIENCE, Make Yourself, Morning View, A Crow Left of The Murder and back to rewind again the Light Grenades [too bad, don’t have the Fungus Amongus and Enjoy Incubus here, thou I found some in radioblog and song2play]
And YUP! Something’s changed.

The music is still reflecting ‘Incubus’ but getting a little bit… softer and… [What should I put here to describe it hmm??] mature? Nea… not…not mature but… maybe… ‘transformed’? Yea… could be.
The critical issues also a little bit changed. And the lyrics… well seems like ‘polite’ and ‘mild’ and ‘metaphoric’ probably best to describe.

First time listening to Light Grenades, my Gosh! I’m a bit worried that they’re turning to ‘consumer-minded’ but fortunately they’re not, thou have to admit they’re more ‘catchy’ here. Usually takes dozens times to get into ‘the Incubuses’, but here… it needs only three or four times to straight ‘click’ to them.
Is it because I don’t really listen to similar sounds recently or is it because I share the same ‘chemistry’ here? Hmm……
Whatever it is, one thing to be sure, their latest album really describes the ‘transforming-incubus’ into a different shape. An ‘age-suited’ shape maybe?? [Hhhehe, can’t invent a better metaphoric to describe it]

But if we take a closer look to the Incubus’ albums, it is easily said that they are none other than a ‘serial live journal’ of the band. Their developmental stages diary, exactly. While some people pour it into books/blogs [just like me ^_^], incubus chooses to interpret it in music.

Their first albums can be analogized to the adolescent stages where finding the ‘self-concept’ is the most critical point. It’s all about rebellious, desperately to be ‘heard’ or ‘seen’ or ‘noticed’, dealing with the changes and adaptation difficulties [that’s why we quarrel a lot with the oldsters] Stage where ‘being different’ and ‘the me, myself and I thought’ are the most important thing in life… rite? The world of “self-centered” that’s what I call.
And this lasts till early 20s.

After that, the ‘quarter-life’ phase. The stage where ‘the suited-I’ is already found and well-built. It’s when we really feel comfortable with ourselves and start concerning about ‘the outter-world’, especially in social and politic. Phase when we really view the ‘real world’, jump into the ‘working world’, aware about reality happens around us, so forth. A rebel with a cause per se. Not focusing [again] in ‘our-world’ but as a result of social-awareness. Well, best describe here probably Morning View and ACLOTM.

Now, they’re in their early 30s, rite? What issue is the most critical point in the world of 30something?! Yup! Indeed. Like it or not, it’s all about…… relationships. As you can see, the latest album talks a lot about relationship, not limited to intimate relationship for sure, but all kind of it. Hey, they’re just human after-all, and 30s is when building a relationship becomes so important, whether it’s family or other kind of serious relationships, because in 30s there’s a sense to settle down. Too tired of doing everything alone, too tired of being independent and exploring the free spirit side of ours. Kind like that.

No… they’re not [again] talking about making your self or driving your own path, like those in the past. No. Because they’ve found their own form. Therefore, even the spoken-issue is changed; we still taste the Incubus-ism there, correct? Even when it gets a bit softer or maybe lame?Politic and social issues? Yes, still. Still important to be discussed in this ages, but not to be delivered with angst. It’s more into attitude, and action rather than shouting out loud in radical-demonstrations or apathy behavior. I think that’s why they named it ‘Light Grenades’ anyway rite?


I think 30s is when you turn into a wiser-45$H0l3 [hahaha!]

See…
I’m not good at music so I’m not [or can not?] babbling about riff, beat, jam or whatever music-jargon is. What I’m trying to say here is just the feeling I get as I listen [I mean really listen] to every songs of Incubus. Many of fansites or any music-review sites talks about Light Grenades and feel disappointed and upset about it. They expect the latest from Incubus can at least similar to the oldies such as SCIENCE or MAKE YOURSELF or even FUNGUS AMONGUS…

Well, because we can’t go back to our previous development stage, right? We step forwards not backwards, that’s the point.
So, it is pretty damn sure that every forth coming album of Incubus, differ from each and every one of them. Still with the ingredient of Incubusism of course, but the feelin’ and the spoken issues will be differed.

Wonder if they’ll talk about death and bereavement or probably anxiety of ending up in a torturing loneliness next. Anything is possible, correct?

That’s life and I think incubus interprets life in a good kind of interpretation.

Isn’t it fun? Having an album or two original soundtracks in each development stages we are in, hehehe.

For those of you who are curious about Incubus, here are the links…

official site
myspace
official fan-site
wimpy

or just click the ‘ON’ button on my music player right on the sound of music’s section at the sidebar.
Enjoy Incubus!
____________________________
not trying to interpret incubus or review their albums…
just trying to picture them from different views and angles

favies in LG: Pendulous Threads, Rogues, Diamonds and Coal

@kinda living my boring day here and yes… I’m surfing here and there to spoil my incubusholics-complex@

Tuesday, February 27, 2007

dare the anna-molly sun


few thoughts came up for the past months:


“you don’t have to win a beauty peagant to be the SUN.
You just need to have a faith in self that you ARE. so bright and colorful.
Shall your warm light shines the world as well.
”
[taken from the movie “little miss sunshine”]


“you can dare anything in life. ANY-things but heart and the feeling’s flowing in it”
[taken from the movie “love me if you dare”]


“love hurts but sometimes it’s a good hurt. It makes you feel alive anyhow.”
[taken from a song by incubus “love hurts”]


“I am already in one of those ships. Will you hop in and enjoy the cruise with me?”
[thoughts came up after re-read the lyrics of a hit-single from incubus “anna-molly” over and over]


“twenty years from now even when you’re still the truth not I, would you choose to hold the rose over the rope for me?”
[taken from a song by placebotwenty years"]


“you can never guess what lies beneath”
[taken from a serial “supernatural”]


“care-line here. What are your stories all about?”
[taken from a song by mew “apocalypso”]

_____________________________
.good inspiration comes from a good vibe.