Wednesday, September 19, 2007

The Traveler’s Journal Part VIII: Hongkong – The City of Lights, Rain [plus typhoon] and.... CROWDS

August 13th, 2007

04:30PM
“Welcome to Hongkong Shuntak Center Building”

Aiai!!! Hongkong Puy!!!!!

Akhirnya, menjejakkan kaki juga di kampung halaman, hahahaha!!!! Welcome home... [kesannya beneran gitu ya? Soalnya bosen juga sih dikira orang Cina dengan tampang begini]
Dan kami pun.... tersesat sejenak di mall itu. Hahaha!!
Nyari jalan keluar aja reppoooot banget. Untung nemu juga setelah kluyuran dan temen gw sempet ‘bongkar muatan’ pula [hhm... manjur banget khasiat nasi goreng jahanam itu, hehe]
Nyari-nyari station MTR Central, malah dapetnya Admiral. Well, selama itu station MTR sih gak masalah. Tapi berhubung males kesasar lagi, bertanyalah pada seorang bule berambut panjang [my guess, a bit France/Spain/Portugese-lah] yang lagi ngerokok di luaran station. Saking ragu, tu bule akhirnya nganter kita juga ke dalem, skalian ngajarin pake mesin beli tiket. Bodohnya, dia gak suggest beli tiket terusan.

Ooouuww!!! When you’re planning to visit Hongkong, one thing is a MUST: the Octopus Card. Tiket terusan itu. Beuh, berguna banget tuh! 150HK$ buat naek semua transportasi plus belanja di supermarket. Just wave it aja di mesin sensornya, secara otomatis deposit kita berkurang. Pasalnya lagi, klo pake Octopus, ongkos transport ngirit skitar 2-3HK$ sekali jalan, kan lumayan bukan???

Satu hal yang bikin amazed adalah.... teknologi MTR plus stationnya Hongkong. ANJRIIIITTT!!! Keren buangeeet!
Kereta bawah tanah itu 2 lantai aja gitu! Gila kan?! Dan, klo bengong nunggu kereta, jangan takut mati gaya deh, bisa sambil nonton film iklan [yg sumpah kreatif banget] yang muter di dinding luar peron [ngegambarinnya gimana ya? Pokoknya gitulah]

Namun, satu hal yang akan menyambut elu saat berada di Hongkong: LAUTAN MANUSIA.
Anywhere, anytime, any.... pokoknya dimana pun kapan pun itu, lo akan bertemu dengan lautan manusia yang tampak bagai air yang menggelegak siap menelan elu bulat-bulat. Hahaha!!

05:15PM
udah berada di luar station MTR Tsim Sha Tsui yang setelah beberapa hari baru ngeh klo nyebutnya [Cim Sha Choi].
Owh, dan jangan pernah takut telat di Hongkong, karna transportasi MTR adalah yang paling nyaman, cepat dengan frekuensi kedatangan kereta yang tepat waktu dengan interval jarak antar kereta hanya beda 5-10 menit. Yang harus ditekankan... TEPAT WAKTU! [gak kayak kereta Indonesia pastinya!!!!]
Oia, sebenernya, jgn pernah takut kesasar di Hongkong, klo sampe kga nemu jalannya, masuklah ke dalam MTR, disitu akan ada pintu-pintu yang mengarahkan elu ke jalan yang dimaksud. Misalnya, gw mau ke Mirador/Chunking, turunlah di MTR Tsim Sha Tsui itu, lalu tinggal keluar di Exit D2 nyampe deh di jalan itu tepat disamping gedung Mirador yang jadi tempat mangkal penginapan murah yang kita sewa.
Sempet sih, salah gedung, saking lieur liat begitu banyaknya orang di jalanan. Pokoknya, klo gak shock liat lautan manusia itu, aneh deh. Hehehe.

05:45
setelah naek turun gedung Mirador yang sumpah.... mirip gedung pasar [mungkin mirip pasar Benhil gitu bangunannya], nemu juga hostel itu “New Kowloon Hostel”. Seperti di Macau, aroma yang menyambut saat masuk ke gedung Mirador adalah perpaduan antara bau lembab, debu dan jamur. Hm... wonder how they can live here for...years!!!

oke, New Kowloon Hostel tempat gw booking penginapan itu, cukup terorganisir dan menerima kartu kredit [YAY!!] dengan tambahan biaya 3%. Tadinya sih booking yang share 12 bed yang murah banget. Bed yang tersisa di kamar itu, hanya di bagian atas. Tentu... begitu banyak laki-laki bule berseliweran di kamar itu. Rasa ilfil mulai menyerang saraf-saraf mood gw.
Tapi, entah bagaimana, si pemilik hotel mendadak menawarkan private room 2 bed dengan hanya menambah 50rebu doang. Yah, tanpa mikir 2kali kita ambil juga tawaran itu [temen gw sih dgn fasihnya lgs melakukan perhitungan di kepalanya. Maklum, klo udah hubungannya dollar, she surely can count, hehe]

Jangan pernah ngarep kamar besar, bersih, wangi dan luxurius saat memilih untuk menyewa hotel murah [murah= +/- Rp200rebu sekamar/hari] di Hongkong. Kenapa? Percuma, bagai punguk merindukan bulan itu judulnya. Kamar private yang diberi pada kita, hanya seukuran 2X2.5 meteran kali ya? Kecil banget deh. Hanya berisi dua tempat tidur [spring bed??? NGAREEP!] yang dipisah dengan sebuah rak kecil, dan sebuah meja. Dilengkapi dengan AC yang sepertinya kekurangan Freon, sebuah tivi [tanpa cable], dan exhauster. Tanpa jendela. Yup!! No windows at all.

Bagaimana dengan kamar mandi? Dilengkapi bathtub dan meja rias? Keep the dream alive, dear...
Kamar mandi? Tersedia berderet 3 buah di depan deretan kamar a.k.a tidak include di dalam kamar tidur.
Kamar mandi hanya seukuran 3,5 ubin mungkin. Tanpa bathtub. Hanya sebuah washtafel, toilet dan secuil space buat lo berdiri membasuh tubuh. Tanpa bak mandi. Tapi ada shower dan air panas kok. Jangan kaget klo harus menguras ekstra tenaga menahan pintu kamar mandi yang suka mendadak terbuka hanya karna goncangan kecil gara-gara kuncinya rusak, atau susah payah menutup pintu tanpa membuatnya jebol dari engsel, hahaha!!

06:00PM
memutuskan untuk melakukan victoria harbour walking distance.

Enaknya nginep di Kowloon plus di Mirador Mansion [gedung itu] adalah jaraknya yang begitu ‘catchable’ kemana-mana dalam waktu hitungan menit a.k.a SE.BEN.TAR.

Tujuan kali itu adalah: “The Symphony of Lights”

Sejak awal gw berkoar-koar mau ke Hongkong, bokap gw udah wanti-wanti buat menyaksikan show spektakuler Hongkong yang tersohor yaitu permainan lampu. Bahkan sampe gw udah ada di Hongkong, bokap gw terus berpesan, “jangan lupa ke Kowloon ya” biarpun gw udah bilang klo gw nginepnya di Kowloon. Halaah...

Jadi penasaran dengan “The Symphony of Lights”, walau didera rintik-rintik hujan, tapi semangat itu tidak luruh juga, hehehe...

Nah, untuk menyaksikan The Symphony of Lights itu, harus dilakukan di daerah harbour victoria Kowloon, yang jarak tempuh dengan kaki dari Mirador Mansion hanya sekitar 10 menitan [jangan coba-coba naek bis ato taksi klo gak pengen kena macet deh!]
Pertama yang disambangi adalah Avenue of Stars yang merupakan Holywood Walk of Fame of Asian Artist baru kemudian, sekitar jam 8 malam, menikmati cahaya lampu yang dimainkan oleh gedung-gedung di Hongkong Island. [Just a little note, Hongkong itu terdiri dari 3 pulau: Hongkong, Kowloon dan Lantau. Kalo mo mengeksplor ketiganya, luangkan waktu kira-kira semingguan tanpa nafas, hehehe.]









Setelah poto sana sini sambil nunggu moment yang dinanti-nanti itu tiba, akhirnya jam 8 teng, mulai jugalah permainan lampu itu.


Entah gimana menyesuaikan permainan musik di Kowloon dengan tempo permainan cahaya dan laser di seberang selat itu. Yang pasti... flawless. Beautiful!
Paling asik klo punya kamera tele ato cam-corder yang canggih. Gak akan nemu blur deh. Plus klo sebelahan sama orang yg ‘tenang’ gak suka bikin goyangan gak jelas.




Satu komentar yang terlontar saat menyaksikan The Symphony of Lights: “Amazingly Spectacular”.

08:30PM
berjalan kaki pulang ke Mirador dengan harapan menemukan hawker stall, berhubung perut keroncongan berat.
So, berdasarkan petunjuk, yang harus dicari adalah: Ashley Road, Hankow Road, Lock Road, dan Haiphong Road
untungnya, selaen sejalan sama gedung, keempat jalan itu saling bertetanggaan.
Oooh... dan sumpah gak hanya MTR yang teknologinya oke. Jalan raya di Hongkong pun, punya sistem yang oke banget disesuaikan sama kebiasaan penduduknya. Yang pasti, selaen waktu sebrangnya cukup lama, zebra crossnya pun gedeeeee buanget spacenya. Tapi sekalinya nyebrang, bisa satu kompi yang nyebrang deh.

Melangkahkan kaki tanpa henti, mendadak di seberang taman Kowloon di Haiphong Road ada kerumunan orang di depan sebuah kios makanan. Ternyata, cemilan dan minuman khas Hongkong. Satu minuman yang menarik perhatian gw dan temen gw adalah: Mango Sago yang terlihat menggoda sekali berputar-putar dalam mesin minuman itu. HK$5 pun ditukarkan dengan segelas Mango Sago dingin yang rasanya...? SSSSSHHHH SYEDAAAPPP buanget!! Jadi nyesel juga sih, kenapa harus segelas berdua, hehhe.

Entah berapa lama berjalan, namun hawker2 stall itu tak juga terlihat. Menurut saran cewek yang kita tanyain pun memberi saran ke Ashley ato Lock Road, tapi... setiap gang udah dimasukin tuuh dan hasilnya tetep nihil. Yang ditemui hanya warung-warung kecil dengan etalase yang memajang bagian-bagian tubuh babi mungil itu. Aiiih...
Ooh, dan kita berdua, terlihat bodoh saat kembali ke kios makanan penjual Mango Sago itu dan terpekur di sana memperhatikan penjualnya yang asik membolak balik seonggokan jeroan babi rebus berempah dengan uap panas menguarkan aroma yang menyesakkan paru-paru.
Entah apa yang asik ditusuk-tusuk oleh seorang laki-laki dari satu cup stereofoam yang terlihat begitu lezat saat memasuki mulutnya dan terdengar desisan ‘slluurrpp’.

Sumpah, gw baru kali itu merasakan jadi orang yang aneh melihat orang makan. Seperti anak jalanan yang antara heran, pengen tapi takut nyoba sekaligus jijik saat liat anak laen makan sashimi, hehehe.

Alhasil, malam itu, gw berakhir di... McDonalds. Hell yea!!
Sempat tertekan dengan pelayannya yang gak bisa bahasa Inggris dan teman gw pun akhirnya makan salad buah dengan saus minyak babi, hahaha!!!! Salad buah kok pake minyak babi [tapi emang bener. Kerasa kok. Jadi aneh makanya. Campuran kuning telur, mayo dan bukan olive oil tapi piggy oil, hihi]

10:00PM
berhubung ada tulisan lift gedung berhenti beroperasi di jam 10:00PM, maka mau gak mau udah terbengong-bengong di hotel sebelum jam 10 malem. Males aja kali harus naek tangga 13 lantai!
Nonton berita Hongkong dalam bahasa Inggris dan terkejut2 dengan UMR Hongkong yang diprotes para buruh pabrik dan kuli bangunan. Berapakah UMR [yang didemo itu] Hongkong? Jangan kaget ya... klo dikurs ke rupiah.... +/- 1,000,000IDR saja per HARI!!! Dan itu didemo aja gitu loh. Mereka masih merasa itu dibawah taraf hidup orang Hongkong.

Aiiih.... no wonder air mineral 300ml harganya gak ada yang dibawah HK$5, uuughhh! Air mineral 7000IDR di Indo udah dapet yang 1.5L dua biji! nambah 2rebu dah dapet segalon! Gila yaa???

-- end of The Traveler’s Journal Part VIII: Hongkong – The City of Lights, Rain [plus typhoon] and.... CROWDS --

_____________________________
the sums:

belum ke Hongkong kalo belum mencicipi air hujan memang, hehe.
So? Make sure you are all set with an umbrella before heading wherever in Hongkong.
Hey, somehow... an umbrella, is a new fettish nowadays, hehehe. Man with umbrella is such a sexy thing alive!!
Tapi klo merasa water-proof sih, sah2 aja klo mau gak pake payung.



Ooh, dan satu lagi.... Mango Sago is a MUST!!!! ^_^

The Traveler’s Journal Part VII: Macau – Unbelievably ‘friendly’ People [in cynically mode ON]

August 13th 2007

06:30AM
bangun-mandi-packing

07:50AM
cabut dari hotel dengan pesan dari penunggu hotel yang masih berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih tercecer: “if you want to check out today, be sure you’re already here before 12, because i won’t be here after.”

Hmm... oke!

08:20AM
sudah berada di Leal Senado dan... desperately calling the Airport lewat telpon umum koin [!! Masih ada dan berfungsi bae cuuy!!]. Untuk apa? Untuk menanyakan service titip tas. Man, I was so not wanting wandering here and there carrying bundle of hastles on my back!!

Gak nyambung2 juga, alhasil melangkah menyusuri Leal Senado, berharap ada warung yang buka buat numpang sarapan. Satu langkah demi satu langkah tercipta di tengah kesunyian pagi. Eh, sumpah loh bow, jam segitu orang Macau masih pada tidur sepertinya, soalnya sepi banget! Toko belom ada yang buka, padahal udah hampir jam 9, mana perut makin keroncongan! Uughh, jalanan yang menanjak itu, terasa begitu memberatkan kedua betis dan paha euy!!
Baru disadari kalo semua toko baru buka pada pukul... 11. MANIS!!

Setelah luntang lantung sana sini, mendadak temen gw berenti di ujung sebuah gang kecil. “Put, ada warung!” gitu kata dia. Gw ikutan ngintip. Bener aja, ada seonggok warung roti di ujung akhir gang itu. Ada sekitar 4 orang yang sedang makan dan ngegosip di situ. Perasaan gw sih gak enak. Tapi berhubung perut udah unjuk rasa anarkis, mau gak mau, gw menyetujui ajakan temen gw buat numpang sarapan di situ.

Warung [well, hanya sebuah meja dan sebuah rak kecil sih tepatnya] itu ternyata menjual roti dan gw jujur gak bisa mengalihkan tatapan dari mangkuk berisi mie panas yang sedang disantap seorang perempuan. Gosh! My mouth was watering all over the place! Yang punya warung itu, seorang nenek tua, yang sepertinya malah gak suka didatengin kita. Heran kan?

Yea... tentulah, bahasa tarzan digunakan saat transaksi. Untungnya, seorang perempuan yang tengah makan mie tadi itu, cukup luwes berbicara inggris, sehingga dirinya membantu menerjemahkan transaksi aneh itu.

Satu roti bun bakar beroles mentega seharga 3MOP dan satu gelas lemon ice tea seharga 5MOP pun muncul di meja lipat tempat gw dan temen gw berada. Well... dari pada gak ada toohh??? Tadinya sih, mau mie juga, tapi keuangan menipis euy!!!! Sepertinya tinggal 20MOP untuk berdua ha!!!

Omong omong sama cewek itu, ternyata didapat kalau [oyea, hell... selalu deh dikira filipino. Hell! No one knows Indonesia i supposed!] pemilik warung si nenek-nenek itu, orang Palembang. Ha!!!
Sudah 4 tahun di Macau [sepertinya sih, lebih dari itu] dan sama sekali blank bahasa indonesia [ato gak mau make lagi?]

Selesai makan, pengennya, gw dan temen gw poto bareng nenek tua itu. Yah, ngerasa seneng gak sih, ketemu sama sesama tanah air?
So i asked her to take a picture. And what did she reply? “eight dolla”
Gw dan temen gw liat-liatan bengong. Dan dia mengulangnya lagi, “eight dolla”
“we have to give eight MOP?” tanya gw polos.
“should we pay you 8 dollar?” tambah temen gw sama-sama polos ditengah kebengongan kita.
Nenek tua sialan itu menyeringai dan berkata-kata dalam bahasa yang hanya jenisnya dan Tuhan saja mengerti. Ha!! Tanpa perlu nego, gw dan temen gw pun cabut dari tempat itu, tentu sambil menyumpahserapahi nenek tua itu. Iiihhh!!!

Akh, saking bete sama si nenek bangsat itu, gw ma temen gw malah kesasar. Nasib! Tapi, justru karna kesasar itu, malah nemu sesuatu yang unik.

[Yup! WC untuk anjing. Lucu sekali kan?]

Menyusuri kembali jalanan setapak menuju Ruin St. Paul, yang semakin lama semakin menanjak, akhirnya menemukan juga kumpulan orang menyantap sesuatu. Segeralah mendekat dan ternyata... it’s DIMSUM time! Wuuiih, semua orang makan dimsum dan semangkuk susu panas. Hmm... yummy.
Berhubung keuangan tinggal sekian gelintir recehan, mau gak mau hanya bisa sibuk nanya sana sini [satu porsi harganya 8MOP] tapi ragu juga sih, halal apa kagaknya. Nah, di depan tukang dimsum angkringan itu ada yang jualan buah. Yang menarik perhatian sih, plum. Ada 3 jenis: kuning, merah sama ungu. Tapi gak mungkin beli sekilo pan? Males buanget bawanya! Alhasil nyoba satu yang merah [2MOP], rasanya? Asem seger gitu deh. Eh iya, yang jualannya lgs jutek pas tau kita hanya beli satu buah, walah galak bener negara ini ya??

Nah, dari kejauhan, udah keliatan aja tuh puing-puing bersejarah. Sepanjang setapak menuju Ruin St. Paul, kiri kanannya toko makanan. Kebanyakan jualan dendeng...Babi [YUP!] trus dibagi-bagiin gitu secuil gratisan.

Rasa penasaran gw akan egg tart pun terbayar di sebuah toko kue yang cukup tersohor di Macau. Rasanya?? Manis, lembut, tapi pastry-nya renyah banget plus anget banget! Enak deh! Di toko kue itu isian egg tartnya terasa lembut banget.

Ada beberapa jenis snack yang menarik perhatian gw. Sepertinya bisa dibawa pulang buat oleh-oleh. Masuk lagi ke toko kue lain yang sangat tersohor di Macau sampe iklannya dimana-mana ada dan bikin yang liat ngiler. Nah di toko itu, gw disodorin sebuah kue kecil. Bentuknya kayak kue satu yang dari sagu itu. Rasanya juga seperti itu, tapi gak manis. Asin dan gurih. Ngobrol-ngobrol sama pramuniaga disitu, milih2 kue yang halal dan tersentak kaget saat dirinya menunjuk si kue satu itu salah satu dari makanan berisi cincangan daging babi. Mampus gw! Mana gw nyaho klo kue satu bisa diisi daging babi?! Yaah... apa mau dikata?! Toh sejak menjejakkan kaki di Macau pun, gw udah menyecap babi kok [minyak babi?] jadi sekalian makan dagingnyalah, haha!

09:10AM
Finally menjejakkan kaki di Ruins St. Paul. Mangsudnya sih, poto-poto.
Nothing in there particullarly. Just ruins. Ada Museum of Sacred juga, tempat nyimpen barang-barang peninggalan Seminari St. Paul jaman penjajahan Portugis.
Mau lanjut ke museum macau yang terletak di dataran tinggi di atas Ruins St. Paul, gak bisa krn hari Senin museum itu tutup. Mau lanjut ke Monte Fort... cape banget yak. Naekin sekian ratus tangga! Namya juga Monte [Mount] jd pasti terletak di atas bukit lah. Aiihh.. makasih deh. Kaki gw udah mo copot soalnya.

So... let’s just have a picture... and another one and other ones... and mooorreee other pics ^_^















09:45AM
tuker duit!! Yup! Harus mengeruk kekayaan dulu sekalian buat bekel ke Hongkong, jadi nuker duit ke Hongkong Dollar [yang juga bisa dipake buat belanja di Macau, tapi MOP gak bisa dipake di Hongkong]. Setelah itu? Menjajal Starbucks Macau, hehehehe. Mau beli Mug-nya gak sanggup ngerogoh dompet gw, hehehe.


10:15AM
kelar nelpon airport dan mastiin di bandara ada tempat penitipan barang plus nanya tarifnya, gw dan temen gw pun memutuskan buat laid-back di taman Leal Senado. Oya, a lil note... it’s a place to hang out bagi para TKW di Macau [sekalian ngegaet bule mungkin? Hehehe... saw many of them the night before]


11:00AM
melangkahkan [dengan berat hati] kaki menuju penginapan buat urus tetek bengek cek-out dan untung sekali penjaga penginapan masih ada. Namanya siapa ya? Gw kok lupa? Riza? Kriza? Triza? Something like that lah. Seorang cewek Filipina yang cukup sedih mendengar cerita hidupnya, hehehe.
Ooh, iya... disitu kita menemukan 4 gelintir laki-laki bule yang cukup ganteng dan mau cekout. Eh, tunggu dulu! Pikir gw, di penginapan itu hanya ada 3 kamar yang semuanya share. Kenapa kok gak liat manusia2 itu kemarin?!?! Cape deee [emang belom saatnya Ken... bersabarlah nak!]

00:00PM
oficially menggotong dua gembolan besar itu masuk ke dalam bis menuju Jetfoil Terminal untuk lanjut pake bis AP1 yang menuju bandara.

00:20PM
setelah cukup alot mendapatkan AP1, sumpah!!! Itu bis beneran bikin darah tinggi deh! Belom lagi petugas Perusahaan Bis-nya yang reseh dan gak bisa bahasa Inggris. Lengkap sudahlah. Untung ada anak-anak sekolahan yang bisa di-hijack buat nerjemahin, heehe.

Yang pasti sampe bandara Macau yang sepi nian itu, langsung titip tas [20MOP/hari] trus balik lagi ke Jetfoil Terminal.

01:37PM
Keluar dari Jetfoil Terminal setelah cek-in, tuker dolar hongkong [lagi?!] lalu?? MAKAAAAAANNNN!!!!

Nemu sebuah mall diseberang Terminal itu, langsung memburu food-court. Daaannn??? O-ow... nothing’s halal there. Baru masuk arena food court aja, bau Miss Piggy udah merangsek masuk hidung. Olalala....

Pilih sana sini, alhasil dapet satu porsi nasi goreng seafood yang memang tidak memakai daging babi, tapi berlimpah minyak babi, hehehe. Porsinya??? Cukup buat makan 3 orang deh! Dan baru saat itu [saat gw melihat sekeliling] gw menyadari kalo porsi makan orang Cina itu banyak banget yaak??? Gw nasi goreng itu aja gak abis, mereka masih nambah pake sup ato belut ato ceker ato... entah apalah itu, yang notabene porsi besar. Ckckckck.... hebaaat! Padahal mereka kurus2 cuuyy!

[ini nasi goreng, udah abis setengahnya aja msh sebanyak ini!]



02:13PM
udah nyampe Terminal Jetfoil lagi.
Lari sana sini dan sempet shock saat petugasnya bilang ferry jam 3 dicancel. Halaah!!! Eh, taunya malah bisa naek ferry sebelum itu yg jam 2.20PM. Dasar, tuh petugas bikin jantung gw kerja ekstra aja!

02:45PM
udah duduk manis di ferry dan menikmati perjalanan air berdurasi kurang lebih 1,5 jam. Rasanya?? Fantastic!


-- end of The Traveler’s Journal Part VII: Macau – Unbelievably ‘friendly’ People [in cynically mode ON] --

______________________________
the sums:

kota/negara Macau itu tempat yang menyenangkan terutama buat orang yang pengen laid back. Most of the town is so... quite. Jarang penduduknya dan semua dalam ketenangan yang terorganisir. Tapi jangan harap akan mendapatkan servis turis yang friendly dan helpfull. Most of the time, loe akan mendapatkan raut wajah kecut yang mungkin berpikiran: “ooh, not another tourist lost” gitu. Kemudian mereka akan menjawab dengan nada kesal tanpa mengeluarkan suara-suara bahasa familiar bernama “English”.
Indeed, bahasa tarzan is the most universal language ever!
Petunjuk jalan maupun rambu-rambu lain seluruhnya dicetak dalam bahasa Cina dan Portugis yang lucunya, penduduk disitu hanya peduli dengan bahasa Cina tanpa mau bersusah payah belajar menulis latin atau membaca tulisan Portugis itu. Aiiih...


Ooh... Macau terdiri dari tiga daerah: Macau, Taipa dan Coloane. Tiga-tiganya tempat tujuan wisata yang berciri khas sendiri. Tapi klo hanya punya 1 harian liburan di Macau, spend it just in Macau lah. Udah abis sama kesasar juga soalnya, hehehe. Gw sampe menemukan teori klo ke Macau, harus memiliki waktu 2 malam tiga hari. Satu hari untuk kesasar dan hari berikutnya untuk eksplor kota secara fasih, hari terakhir khusus ke Coloane buat beli egg tart di toko kue egg tart paling tersohor di dunia: “the Lord Stowe” [sayang, gak sempet ke situ eyy], biar bisa dibawa pulang. Hmmm.... yummy!!!

Wednesday, September 12, 2007

The Traveler’s Journal part VI: Macau – Getting Lost In Translation and Direction in a Gambling Paradise

August 12th, 2007

02:30AM
preparing to RISE AND SHINE
DAMN!!!!

03:45AM
benar-benar meninggalkan hotel dan menyambar taksi di pinggir jalan.
Straight to... KL Sentral untuk dilanjutkan tidur dalam bis menuju LCCT - Airport Kuala Lumpur yang ditempuh selama 1jam-an

06:30AM
Flying to Macau...
Well...actually, sleeping while flying to Macau, hahaha.
Sumpah! Gw hanya tidur dan tidur di dalam pesawat.

10:00AM
Welcome to the paradise for the gamblers!!!
Yup! Cuaca emang lagi gak bagus. Berawan banget. Tapi saat mendapati pemandangan Macau, gak peduli deh dengan parade awan yang memayungi bumi, hehehe.

Seperti apa International Airport Macau???
Sepiiiiii nian bak kuburan. Omigosh!! It’s an international airport for heaven’s sake!!

Anyway...tugas utama: IMIGRASIIII!!!!
Yup! Dan, entah bagaimana kenapa, mendadak paspor gw dan temen gw ditahan. O..boy, O..boy!! [donald duck mode: ON]
Panik? Tentu. Pucat? Pastinyaaa!!!
Gw dan temen gw saling tatap heran dan tidak mendapatkan jawaban apapun saat kepala imigrasi itu menyuruh kami menunggu diluar sebuah ruangan dan dirinya menghilang untuk beberapa saat di dalam sana.

Sekian menit kemudian, dirinya keluar [masih dengan muka datarnya] dan menyerahkan kedua paspor itu.
“Is there something wrong?” tanya gw.
“no. Just for a record. It’s your first time coming to Macau. You’re from Indonesia.”
Hell!!!
Kenapa gak bilang-bilang!! Bikin panik aja!

Dan yaa, dua gundukan ransel hitam itu menjadi dua luggage terakhir yang muter-muter. Haa...
Ke Information center dan dibuat terkaget-kaget karena informasi yang terpajang di internet beda total dengan yang sesungguhnya, lalu dilanjutkan dengan menukar uang secukupnya.
Kendaraan apa yang dicari?
Sebuah public bis bernomer AP1 [yang sumpah jaraaaangggg buanget] menuju ke terminal Jetfoil Ferry untuk kemudian melanjutkan dengan bis bernomer 32 [padahal, menurut internet, langsung naek AP1 dan berhenti di depan Lisboa...hmm ~_~]

Satu hal yang bikin gw frustasi adalah.... no one actually speaks ENGLISH [nor even reads latin]

11:00AM
muter-muter Av. Henrique mencari sebuah hostel/guesthouse bernama Auguster’s Lodge. Nanya sana sini, gak ada yang tahu. Even nama jalannya! Dan saat mendekati orang untuk bertanya, mereka akan lari ketakutan dan bilang, “no english”. Olala...

Bertanya pada seorang sales Citibank, dirinya malah bilang [pake bahasa tarzan] kalo tulisan alamat [yang gw sodorin] dalam bahasa Portugis, dan dia tidak tahu. FOR GOD’S SAKE!!! Macau itu kan jajahan portugis dan setiap jalan itu ditulis dengan dua bahasa [cina dan portugis] masa’ dia gak tau?! Please deh, ni orang udah tinggal berapa lama sih di Macau?!

Alhasil, keluar masuk jalanan kecil, sempet nanya sama bule beler [teteup loh bow, kita pake kalimat pembuka, “do you speak english?” udah jelas2 bule gitu yaa... hahaha!!!! bikin itu bule makin pusing ditengah kebelerannya dan menatap kita kesel] dan tetep hasilnya nihil.
Lalu, gw berinisiatif untuk nanya pada pramuniaga toko perhiasan di situ. Gak mungkin dia gak tau bukan? She lives there gitu loh. Dan jawabannya? Sama saja. She didn’t know and couldn’t read. DAMN!!!
Ditengah keputusasaan itulah, gw mendapatkannya: Rua Do Dr. Pedro Jose Lobo. Yang letaknya? Tepat dibelakang toko yang barusan gw tanya pramuniaganya. NAJIIIIISSSS!!!

Ohlala...
Didapatilah tulisan itu juga akhirnya: Auguster’s Lodge, yang ternyata terletak di sebuah ruko di lantai tiga yang notabene bertangga banyak tanpa dilengkapi fasilitas lift maupun eskalator. Selain itu.... aroma pengap, lembab dan berdebu langsung menyambut tatkala kaki melangkah memasuki ruko terselubung itu. AIIIIHH... dengan beban seberat itu di bahu, rasanya lengkap sudah!!
owh ya.. dan beginilah tampakan kamar sewaan kami [share-4beds]

semakin lengkap dengan pemandangan di luar jendelanya..... [so...Asia?hehe]

00:17PM
setelah mengurus tetek bengek per-cek-in-an, gw dan temen gw desperatelly seeking...something for LUNCH!!
Pengennya sih hawkers yang jual jajanan situ. Terbayanglah, klo di Indonesia, di sepanjang jalan ada tukang baso, tukang ketoprak, tukang somay, tukang gado-gado, tukang mie ayam ato nasi goreng. Tinggal milih intinya!!!

Di Macau? Well... tepatnya di tengah kota memang tidak ada pedagang kaki lima saudara-saudara. At least di siang hari.
Terpaksalah menggerayangi...McDonalds. Yup!
Dan jangan tanya berapa harganya, karena rasanya dongkoooll buanget!!

00:45PM
kemana tujuan? Ke Grand Lisboa. Bukan mo judi, tapi mau cari loket penjualan tiket Ferry Jetfoil Macau-Hongkong. Dan seakan mencari Brandon Boyd [of Incubus...] di belantara hutan hujan Kalimantan [a.k.a tugas sulit] rasanya untuk menemukan loket sialan itu.
Dari Grand Lisboa, kami harus loncat ke Hotel Lisboa yang terletak tepat diseberangnya.
Dari Concierge Hotel Lisboa [yang butuh perjuangan nemuinnya], dioper ke Receptionist lalu dioper kesana dan kesini [“the locket is behind the stairs, near the race”, well it sounds simple but hell! It’s making you depressed even more 2 find it!] sampe nemulah loket itu di jajaran loket judi. NAJIIIISSSS!!!!!!!!

Dan setelah ketemu, ternyata loket itu tidak menerima kartu kredit apapun. MONYEEEEETTT!!!
Bete banget daah! Mau ke ferry terminal, selain jauh juga lagi ujan. Alhasil, gw memberi saran untuk ke warnet dan buy the ticket online [ini saran yang baik buat yang mau lanjut ke Hongkong pake ferry! Belilah tiket ferry itu online dari rumah elu sendiri. It’s a lot easier and saving your time as well]

Namun, apa daya... pencarian sebuah warnet di kota itu, melebihi mencari Brandon Boyd [of Incubus...] di belantara hutan hujan Kalimantan. Bahkan, mencoba bertanya pada seorang gadis remaja malah bikin itu anak hampir nangis desperado gak bisa ngasih kita arah yang bener. Kocak banget.

Alhasil, jalan masuk-masuk gang yang malah membawa ke Leal Senado [tujuan besok sebenernya] di tengah rintik hujan, ditemukanlah sebuah warnet yang..... dipenuh-sesaki para perempuan [dugaan gw sih, TKW2 gitu] yang ber-chatting ria dengan webcam. Alammaaak.... *klontang*
Semua warnet yang dimasuki, penuh sesak dan ya... semua window yang mereka buka adalah chatroom dengan webcam.... ckckckck...

Namun, ditengah kericuhan isi kepala dan kepenuhan warnet kesekian yang kami datangi, tiba-tiba malaikat penyelamat menjelma dalam diri seorang laki-laki bertubuh tinggi, berkulit putih, berambut hitam dan berwajah hispanik. Tanpa diminta, mendadak laki-laki itu berdiri, tersenyum dan berkata, “you can use this one.” [and somehow, it sounded so rhyming that time]

Sumpah! Saat itu gw speechless dan tanpa ba bi bu, langsung duduk di kursi itu, dan berjibaku dengan aplikasi TurboJet tanpa teringat akan laki-laki itu. Baru setelah kertas bertuliskan “verified” itu tercetak, gw dan teman gw teringat akan dirinya. Olala... siapakah malaikat berkedok laki-laki ganteng itu?!?! Lalu, kami berdua mulai membodohi diri sendiri deh... nasib!!

01:35PM
Kun Iam walking distance.
Tujuan selanjutnya adalah daerah pesisir pantai. Padahal, Leal Senado udah di depan mata, tapi kan itu rencana besok pagi. Alhasil, tetep pada schedule.
Apa rasanya jalan kaki dari Leal Senado ke Kun Iam Statue?
Cuma satu kata: PEGEEEELLL!!!!

Di peta sih emang keliatan deket. Tapi begitu dijalanin... Beuh!!! Klo gak punya cadangan kaki lebih, sama tabung paru-paru kosong, mendingan naek taksi ajalah [ini juga berarti cadangan devisa lebih yaa??]
Busyeeett.... untung aja, cuacanya berawan, malah gerimis, jadi gak kering kerontang dijemur di bawah mentari. Biarin deh basah-basahan juga.

Sempet juga berbahasa tarzan ria dengan seorang ibu-ibu pengendara motor dan seorang satpam. Sumpah deh, a MAP is a new word of LIVE di Macau, ^_^ tanpa peta, you can do nothing in the middle of nowhere, hehehe.

Senjata paling ampuh buat tanya jalan, itu cuma peta bergambar, lalu tunjuklah gambar itu [soalnya klo diomongin pake bahasa inggris, malah kagak ngarti dia! Heran kan?!] dan biarkan dia nyerocos tunjuk kanan kiri. Hmm... that’s the real getting lost in translation, lemme tell you.

The landmark tour kali itu [yang memakan waktu tempuh jalan kaki kurang dari sejam dari Senado-Macau Art Museum-Kun Iam Statue] membuahkan hasil yang menenangkan jiwa [bukan kaki ya...]
Rasanya, puas aja begitu menginjakkan kaki di pelataran patung Kun Iam yang... kok keliatan lebih kecil dari bayangan gw ya???


Aniway, setelah poto sana sini, beli kartu pos yang murah buanget [10MOP for 10pieces!!! Berarti, satu bijinya cuman sekitar serebu perak. Murah kan?] dan sebuah bookmark seharga 2MOP [nyesel juga gak beli banyak buat dibagi-bagiin] dilanjutkan dengan ngaso di bangku pelataran museum/patung situ. Untungnya, si Raja Siang udah gak sembunyi lagi. Jadi, cukup menghangatkan tubuh [sekaligus mengeringkan pakaian yang basah sih, hehehe].

03:37PM
tujuan selanjutnya?
Not other than Macau Tower. Yup!
Berdasarkan petunjuk di peta, sebuah bis bernomer 23 yang akan membawa langsung ke Macau Tower berhenti di halte di seberang taman depan Kun Iam [note: di Macau, lo bakal nemu banyak taman. Gak kayak jakarta. Enak deh]. Kesanalah kami menuju.

Tunggu ditunggu, bis itu tak kunjung tiba. Dan sumpah! Jalanannya sepiiiii buanget! Alhasil, menikmati pemandangan seliweran mobil di depan halte deh. Heran juga, pemasukkan dalam negeri Macau itu dari mana ya? Karena begitu berjejer-jejer kendaraan pribadi yang kalo di Indonesia termasuk “build-up-gak-kurang-dari-semilyar”, tapi disana, kendaraan itu berlalu lalang macam Daihatsu Xenia di Indonesia. Mungkin, satu-satunya kendaraan murah yang terlihat seliweran adalah sejenis Terios/Avanza. Bahkan Alphard dimodifikasi jek!

Dan yup, sejam berlalu... and that f@(%in bus still not arrived. DAMN!

04:40PM
memutuskan untuk naek bis apapun ke daerah Lisboa. Namun, berhubung terlalu asyik liat kiri-kanan, kita pun kesasar [lagi] dan turunlah di seberang Guia Fort [yang gak masuk tujuan wisata karena gak terlihat menarik]. Nyari recehan buat naek bis lagi, nemu deh bis yang dicari: 9A. Waah, tanpa tanya kiri kanan, langsung loncat masuk dan duduk manis menikmati perjalanan.

Namun eh mengapa kok bisa??? Macau Tower terlihat semakin lama semakin mengecil dan hilang ditelan deretan bangunan. Dan oh mengapa kok semakin lama semakin naik ke dataran tinggi? Bahkan melewati Red Market yang setau gw, di peta itu jaraknya sekian puluh kilo dari Macau Tower.
Menoleh ke temen gw, dirinya pun sepikiran dengan gw: “we’re totally lost, dude!”
Tapi, berlagak sok tau arah, gw dan temen gw pun alhasil malah menikmati jalan-jalan keliling kota. Bener-bener deh, kota Macau [atau negara Macau?] itu bener-bener bebas macet, dengan alur kehidupan yang ‘laid-back’. Cocok buat yang udah bosen sama hiruk pikuk kota besar. Jangan tanya berapa jumlah penduduknya, karena menurut gw, pastinya lebih sedikit dibanding turisnya.

Ternyata, bis itu adalah 9A yang tidak lewat Macau Tower. How should i know, since they didn’t put the info on the map?!
Berhentilah bis itu di terminal Barra dan menurut Pak Supir [dengan bahasa tarzan tentunya] harus naek 9A lagi, tapi yang covernya lebih bagus lagi dari yang pertama kita naiki.

Dari situ, baru sadar kalo ternyata, sistem transportasi di Macau menganut azas “suka-suka gw laah!” hehehe, gak sesuai sama yang tertera di peta [yang tadi pagi gw comot di halte Terminal TurboJet].


05:52PM
NYAMPEEEEEEE!!!!!
Akhirnyaaaaa!!!!

Di Macau Tower [yang jadi gedung tertinggi di Macau] itu ada bioskop, restaurant [yang so pasti mahal], Warner Bros daan... AJ Hacket! Yup!! The Bungee itself.
Liat-liat di lobi gedung itu, bikin gw jiper juga. Bungee?? Ow..ow...
Tapi saat melihat nominal harga yang tertera disitu, kedua mata ini membelalak lebar. Aih!!! Mahal Beeng!!
Ya sudah, akhirnya menggesek kartu untuk naek ke ujung tower buat city-farsightseeing ajalah! Kalo mau ikutan AJ-Hacket Bungee di situ, ntar loncatnya gak tenang mikirin gelundungan angka nol yang ikut jatoh bareng, haha!

And SHOT!!!
Great views! Loved it and love it still.

09:00PM
bertepatan dengan persiapan tower itu tutup, gw dan temen gw memutuskan untuk pulang. Alalala... jalanan udah sepppiiii buanget. Gw rasa sih, bis 9A yang dinaiki itu adalah bis terakhir yang melewati Macau Tower, hahaha.

berhenti di halte Lisboa, memanfaatkan waktu deh buat foto sana sini, mengabadikan permainan lampu di kasino-kasino. heran, lampu sekian banyak dibayar pake apa yak? emang klo mo kaya, harus dengan cara haram sepertinya, ha! DAMN!!!


Rencana selanjutnya adalah ngisi perut. Pengennya sih, cari hawker stalls yang jualan makanan khas Macau. Tapi nyari disana sini kagak nemu ya... akhirnya berakhir juga di....McDonalds. Owh.... 2 McDonalds in a day. Whatta record!!

Baru pas balik dari McDonalds, nemu orang-orang banyak mengerumuni seonggok gerobak. Ternyata, pedagang bubur beras encer yang dimakan pake....babi. yah, lengkaplah sudah! Hawker stall yang jarang terdapat dan sekalinya muncul tentunya... tidak halal. Hmm....nasib!
11:23PM
And that night was ended quite nicely, karna biarpun di kamar aneh itu, gw bisa tertidur dengan begitu nyenyak.

G’nite fellas!!


-- end of The Traveler’s Journal part VI: Macau – Getting Lost In Translation and Direction in a Gambling Paradise --

______________________________

the sums:
emang bener, just because it's a gambling paradise, doesn't mean it's tourist friendly, dan tentu... musti bawa cadangan nyawa: PETA. it's your second live. owwh... you don't have to master english fluently to travel Macau. just make sure you know Tarzan so well, so you can communicate on his way. ^_^

[on ears] the kooks - naive ... another brit-sound (and just found out that the song that kept running in my head few months ago is this one from the kooks. aiih...kemane aje gw staunan ini yak?!)

Tuesday, September 04, 2007

Musical break: incubus



Bit escapism after writing the journal [hitting to the begining of the part VII actually] and craving for a gr8 live music as a clever medicine [gr8 music + gr8 performance + gr8 tone + everything’s gr8, ed.]

And when it comes to GR8 MUSIC either live or recording, there’s no other band can do it better than INCUBUS. Yup! Indeed! Not making it up, but it’s simply the FACT.

So, searching here and there on YouTube, lead me to these ones.
And it turned out to be: me… melting in envy-ness towards the crowds out there.
Hell!!!
They are blessed with such opportunities to actually feel the live atmosphere of INCUBUS.
DAMN!

Is there any possibility that the guys will come and play Jakarta? Or… at least Bali?
hoping and waiting here....



[A Kiss To Send Us Off – Hove Festival June 26th, 2007]

The best band in the universe...ever.
Guess every song of them is my favies.





[Oil and Water – KROQ Weenie Roast 2007]



__________________________________



hmm.... 5 episodes to go? DAMN!!

wonder how those soap-opera' writers can keep up with the deadline and writing...

well oow well....

The Traveler’s Journal part V: The Skybridge Petronas Malaysia – Beauty in Stealth

August 11th, 2007

06:50AM
RISE AND SHINE!!!!!!!!!!!!!!!!
Damn! I love that day, since I didn’t have to wake up vvveeerry early ^_^
Dan satu lagi yang gw suka: finally stepping my two feet on Petronas’ floors!

08:00AM
Berjalan kaki... LAGIIII!!! Sambil mencomot satu tangkup tuna sandwich di 7eleven yang huuumm.... sangat tidak well-tasted. Tapi, demi mengisi perut, apa saja jadilah. Terlebih, gak ada tukang nasi lemak seliweran di pinggir jalan, mengingat hari itu adalah hari Sabtu dan gak ada orang kerja.

Rencana hari itu adalah pagi hari mengambil tiket gratis naek SkyBridge Petronas dilanjutkan dengan ke KL Tower dan killing times di KLCC Suria.
Dan kali itu, kali pertama kami mencoba bis RapidKL yang katanya, RM2 seharian. Hmmm...patut dicoba bukan?

08:45AM
Sampai juga di gedung kembar tertinggi di dunia itu. Dari jauh, aura-aura sophisticated in an elegant yet powerfull scent udah kecium. No wonder deh kalo Malaysia cinta banget sama gedung yang satu ini [eh, dua maksud gw]. Mentereng dengan gagahnya.
Dari depan sih, terlihat sepi tanpa penghuni. Maklum, orang kantoran libur dan mall juga belon pada buka kali yee...
Namun oh tetapi.... saat menuruni eskalator menuju gate skyBridge, uhmm uhmm uhmm... saat itulah terkuak misteri keberadaan manusia. Sumpah, ngantrinya kayak ibu-ibu ngantri minyak tanah!! Penuh sesak!!!

Mau gak mau, ngantri jugalah! Once in a lifetime cuuuyyy!

Oops, pas baru aja ngantri, ada tiga orang bule yang ikutan antri tepat dibelakang gw dan temen gw. pssst...salah satu dari mereka, instruktur ThaiBoxing, so pasti dong badannya yummy...he3. Uhm..nice spot! Gorgeous looking guys indeed.




Dan oyayaya... ada jejak INDONESIA!!!!! Tergeletak begitu saja di lantai marmer itu...

Hahaha, gak jauh-jauh ya? Orang Indo emang gak pernah bisa terpisah total dengan tanah airnya. Terbuktikan obat pusing aja musti bawa jauh-jauh dari Indo. Kayak di KL gak ada apotek buat beli aspirin aja. Dah gitu, jiwa Indo-nya pun melekat kuat. BUANG SAMPAH SEMBARANGAN!!! Hahaha!!! Nice pick!


11:40AM
kelar juga ngantrinyaaa!!!!!!!!!! Dan kita dapat giliran jam berapa? Jam 6:00PM saja kok... HAHAHAHA!!!! Yah, untung aja, selama ngantri banyak ‘pemandangan’ menyegarkan jiwa raga dan pastinya cukup menyenangkan...^o^
Taking pictures here and there


and to capture the whole towers, you need more than just a simple sacrifice....


then finally..... LUNCH TIME!!!!!
Sepiring nasi briyani plus cumi goreng tepung, sepiring nasi briyani plus ayam saos pedas dan satu ekor kepiting goreng garing jadi menu makan siang kali itu. Rasanya? SUEEEEDDDAAAPPP nian. Hmmmm....

00:37PM
Keliling KLCC-Suria mall kayak orang gila mall. Sampe pegel ini kaki, bahkan sempet ketiduran pas nungguin temen gw transfer memory card kamera digitalnya.
Intinya adalah KLCC-Suria Mall rendezvous.
And Hell!! Mengapa semua orang membeli VINNCI?!?!

03:00PM
Berjalan-jalan di taman Petronas berbekal gorengan aneh dan sekotak susu coklat [buat gw] dan sebotol air mineral dingin. Ngapain di taman? Tidur-tiduran!



Yup. Berdua. Tidur-tiduran. Dan share iPOD.
Terlihat seperti ‘pasangan’ dan memang dikira begitu dengan ‘pasangan sejenis’ yang lagi memadu kasih di seberang danau, aiiih....

03:27PM
Datanglah dua pengacau asal Iran yang bergabung dan mulai membual. Apa yang gw dan temen gw lakukan saat itu? Hanya cengar cengir dan membalas sekenanya. Yea rite!!!
Untung hanya setengah jam saja pengacau itu mengganggu

05:17PM
Memutuskan untuk meninggalkan taman, membuang muatan di toilet dan heading to the Petronas SkyBridge.

05:50PM
Lobby Petronas SkyBridge. Doing what? Just admiring the whole scientific thingy in the making of Petronas. Aanndd... crushing over the ‘three guys’... ^0~

06:00PM
Let’s get inside!!!
Pertama-tama, tamu dibagiin nametag [gk ada namanya sih] sama kaca mata model Chip gitu buat nonton 3D. Abis itu, setelah nunggu 10 menitan [tentu dihabiskan sambil poto2lahhh. Skalian flirting ma 3 bule di depan, ha3], mulai juga film 3D yang dinanti2. Sayang, gak boleh dipoto. Isinya apa? Tentang seberapa perkasanya Petronas [yea rite, look where you dig the oil bro!!] dan bla dan bla.

Setelah itu? SkyBridge walking, finally. Masuk situ aja, harus melewati berbagai rintangan [pemeriksaan maksudnya]. Takut di-bom kali yee!
Lalu berhimpitan [disamping bule2 itu tentunya] dalam lift besar yang buuuurrssst!!! Langsung melesat ke lantai 50sekian.
Apa yang selanjutnya dilakukan? Well, just exploring the bridge by taking pictures.
MORE pictures exactly!


06:30PM
Cuma sebentar kok di SkyBridge itu. Sangat tidak sepadan dengan lamanya mengantri. DAMN! Gw sempet ngirain klo bakal ada games ato jalan-jalan ke perkantorannya, heee..ngarep!

07:00PM
Oke apa yang dilakukan? MAKAAAANNN!
Dengan persediaan uang yang menipis, maka diputuskan untuk makan kerang bakar berdua [tanpa minum] dan membeli nasi goreng kampung di resto Jalan Alor.
Menyedihkan sekali yaa???

10:00PM
repacking...preparing to get some sleep since the day after we had to rush to the airport at 3:30AM
yeaaa!!!
We were going to fly to... the MACAU!!!

--end of The Traveler’s Journal part V: The Skybridge Petronas Malaysia – Beauty in Stealth --
___________________________________________
the sums
well, gak nyangkal juga sih klo gedung kembarnya Petronas itu emang WAH buanget. tapi klo dipikir-pikir lagi nih.... "where exactly is they dig the oil?? hmm.....". you know what i'm talking about rite?