Turn it inside out so I can see
The part of you that's drifting over me
And when I wake you're, you're never there
But when I sleep you're, you're everywhere
You're everywhere
Just tell me how I got this far
Just tell me why you're here and who you are
'Cause every time I look You're never there
And every time I sleep You're always there
'Cause you're everywhere to me
And when I close my eyes it's you I see
You're everything I know
That makes me believe
I'm not alone
I'm not alone
I recognize the way you make me feel
It's hard to think that You might not be real
I sense it now, the water's getting deep
I try to wash the pain away from me
Away from me
And when I touch your hand
It's then I understand
The beauty that's within
It's now that we begin
You always light my way
I hope there never comes a day
No matter where I go
I always feel you so
'Cause you're everywhere to me
And when I catch my breath
It's you I breathe
You're everything I know
That makes me believe
I'm not alone
You're in everyone I see
So tell me
Do you see me?
@everywhere.michellebranch@
______________________________
sebuah lagu yang berputar saat seseorang melintas di depan kantor.
duuhh... "do you see me?"
(kok ya pas ama lagunya ya?? hehehe ^_^)
Wednesday, July 12, 2006
a start
each day...
i promise myself
not to try to solve all of my life problems
at once
nor shall i expect you to do so.
starting each day,
i shall try to learn something new
about me and about you
and about the world i live in
so that i may continue to experience all things
as if they have been newly born.
starting each day,
i shall remind myself to really listen to you
and try to hear your point of view
and discover the least threatening way
of giving you mine
remember that we're both growing and changing
in a hundred ways.
starting each day,
i shall remember that i am a HUMAN BEING
and not demand perfection of you
until i am perfect.
starting each day,
i shall strive to be more aware
of the beautiful things in our world.
@taken from leo buscaglia's living, loving and learning@
_____________________________
sebuah buku yang tidak mendikte ataupun mengajari.
sebuah buku yang memberi inspirasi untuk lebih menghargai hadiah terindah dalam hidup ini:
kehidupan dan seluruh aspek yang berkecamuk di dalamnya.
sebuah buku yang memberi inspirasi untuk lebih menikmati hidup.
coz life itself is the true adventure ever happen to you.
so enjoy life and you'll find yourself alive.
Thursday, July 06, 2006
k.a.d.o
our souls don't get older
they never wrinkle, wear out, or tire.
no matter how many years pass
each of us
remains forever new inside
and that's something to celebrate.
@kata-kata yang tertera dalam kartu yang menyertai sebuah benda biru mungil yang bisa mengeluarkan suara (dan merekam jugakah?? perekam suara ya??)@
____________________________________
itu artinya, biarpun usia tambah tua, tetep jiwa harus muda bukan? never say "i'm too old for this or that", hehehe...termasuk ngegebet 'daun muda'!!
JADI JANGAN ADA YANG PROTES KALO GW SIBUK NGECENGIN DAUN MUDA YEEE!!!
thanks for the gift, guys... untung bukan satu set peralatan make-up!! (udah sempet shock en panik niieehh!!). pastinya bakal terus dekat dengan diri ini.nempel terus di kuping begitu selesai inject ratusan lagu ke tubuh si biru mungil itu!
MANYTHANKSMANYTHANKSMANYTHANKS!!!
inginku
So sad…so sad…
why can’t we talk this over
always seems to me,
sorry seems to be the hardest words.
Volume stereo set mobilku bertambah. Salah satu guilty pleasure terbesar dalam hidupku adalah hapal seluruh kata-kata dalam lirik lagu yang dinyanyikan oleh boyband manapun. Jujur, aku bukan penyuka lagu-lagu mellow ato easy listening yang kerap dibawakan dengan harmonisasi suara pas-pasan namun tampang supermodel tipikal boyband. Tapi entah bagaimana atau mengapa, aku pasti hapal setiap kata dari lirik lagu boyband yang manapun. Dari era New Kidz On the Block hingga Westlife dan Blue.
Kadang aku menyalahkan radio tempatku bekerja yang karena memenuhi tuntutan pasar harus memutarkan lagu-lagu model begitu setiap jam siarannya, menjadikan satu lagu hits bisa diputar minimal 5 kali dalam satu hari selama sekian minggu, paling sebentar pun sebulanan. Tapi kalau dipikir-pikir, memang karena lagunya yang easy listening dengan konteks percintaan yang mudah ditebaklah yang membuat kata demi kata dalam lirik lagu-lagu boyband mudah dihapal. Bukankah begitu?
Aku memejamkan sejenak kedua mata ini dan menyandarkan punggung, saat lampu lalu lintas menyala merah, memberi kesempatan bagiku untuk menenangkan diri. Hanya sekian menit, karena lampu sudah kembali menyala hijau.
Sorry seems to be the hardest words.
Hmm… diam-diam aku membenarkan kalimat itu. Untuk mengucapkan kata 'maaf', itu sangat mudah. Ambillah contoh, saat kau menabrak seseorang secara tak sengaja, bertubrukan tepatnya. Tanpa berpikir panjang, akan terlontar kata singkat “sorry” dari mulutmu, lalu tanpa benar-benar memperhatikan si korban, kita akan meninggalkannya, karena berpikir toh tabrakan kecil, tidak menimbulkan korban jiwa. Padahal, kecil atau besarnya dampak sebuah kecelakaan kan yang merasakan si korban bukan?
Mengucapkan kata 'maaf' dari hati yang paling dalam, bersungguh-sungguh atas kata 'maaf' itu, dan bertanggung jawab dengan tidak melakukannya, kurasa itu adalah satu tugas yang sangat teramat sulit untuk dilakukan.
Aku jadi teringat perayaan Idul Fitri, dimana setiap orang berlomba-lomba mengajukan permohonan maaf melalui sms pada banyak orang dengan untaian kata yang indah dan menyentuh. Mendadak semua orang jadi begitu puitis. Tapi yang jadi pertanyaan, apakah mereka memahami konteks permohonan maaf itu sendiri? Apakah kalimat-kalimat indah yang mereka kirimkan ke seluruh penjuru dunia juga sudah menyentuh hatinya? Membuat mereka menyadari kesalahan demi kesalahan yang telah dibuat dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi?
Kurasa hanya segelintir orang yang mampu memahami arti kata maaf itu sendiri. Segelintir orang yang bahkan saat melakukan satu kesalahan, akan merasa tidak tenang dihantui bayang-bayang akibat yang ditimbulkan oleh kesalahannya itu.
Tapi… di lain pihak, memaafkan pun sama sulitnya.
Forgiven but not forgotten. Begitu istilahnya.
Padahal, bila bisa memaafkan, seharusnya juga bisa melupakannya. Setidaknya, tidak mengungkit-ungkit luka lama yang menimbulkan luka berkepanjangan. Saat kau sudah mampu memaafkan, maka saat itu juga artinya kau mampu membakar lembaran penuh tinta hitam itu dan memulainya dengan lembaran baru yang masih putih bersih, siap digoreskan dengan tinta aneka warna.
Akan terasa sakit bila kita terpaksa memaafkan, tapi sebenarnya kita belum mau melakukannya. Kita akan tersiksa dengan perasaan bersalah karena belum ikhlas. Tapi, di lain sisi, kita juga berdosa karena tidak memaafkan. Analoginya, Tuhan saja mau menerima tobat dari umatnya, masa’ kita yang gak ada apa-apanya dibanding Tuhan malah angkuh dan tidak mau memaafkan?
Tapi mungkin benar, kalau kita tetap membutuhkan waktu untuk memikirkan banyak hal setelah sebuah kesalahan terjadi. waktu untuk si pelaku menyadari apa yang salah dan akhirnya mengaku lalu meminta maaf dan tidak mengulanginya lagi (secara sungguh-sungguh, maksudku). Waktu juga bagi si korban untuk mendinginkan kepala dan hati, mencoba memahami mengapa kejadian ini bisa terjadi dan menimpanya.
Hmm… kurasa, itulah yang sedang aku alami saat ini.
Tapi jujur saja, aku tetap tidak menemukan benang merah dari semua kejadian ini. sejujurnya, untuk bertemu salah satu dari kedua manusia sumber kekacauan ini, aku masih belum sanggup. Aku takut, kemarahan ini tak terbendung dan meledak bagai bom waktu.
Dan ternyata, hal itu memang terjadi bukan? Sekarang, aku merasa tersiksa merasakan efek yang ditimbulkan. Seakan seluruh rasa dan emosi yang kumiliki hilang dalam seketika.
Apakah aku menyesalinya? Entahlah…
Satu putaran membawaku semakin mendekati bangunan itu. Akankah hati ini tenang saat semua terpetakan di depan kedua mata?
@cukilan dari salah satu episode dalam sebuah dongeng "Kanna" (the unpublished story written by me).
__________________________________
kemarin terpaksa mengurung diri di rumah, karena rasa sakit yang tak kunjung mereda. tanpa disadari, merasa begitu rindu untuk menulis, lalu kembali membuka file penuh coretan kata-kata yang tak pernah terselesaikan. salah satunya adalah dongeng ini. dibuat pada suatu ketika di suatu zaman, saat seluruh jiwa ini bersatu harmonis menimbulkan 'mood' yang bagus.
kapankah dongeng-dongeng itu akan terselesaikan? seakan ide demi ide dalam kepala ini sudah saling bertubrukan saking kepenuhan dan butuh jalan keluar, namun tubuh ini begitu malas berkompromi.
ingin punya banyak waktu untuk menulis.
ingin berada di tempat nyaman untuk menulis.
ingin bicara dengan begitu banyak orang untuk menulis.
ingin dan ingin....
oh, inginku.
why can’t we talk this over
always seems to me,
sorry seems to be the hardest words.
Volume stereo set mobilku bertambah. Salah satu guilty pleasure terbesar dalam hidupku adalah hapal seluruh kata-kata dalam lirik lagu yang dinyanyikan oleh boyband manapun. Jujur, aku bukan penyuka lagu-lagu mellow ato easy listening yang kerap dibawakan dengan harmonisasi suara pas-pasan namun tampang supermodel tipikal boyband. Tapi entah bagaimana atau mengapa, aku pasti hapal setiap kata dari lirik lagu boyband yang manapun. Dari era New Kidz On the Block hingga Westlife dan Blue.
Kadang aku menyalahkan radio tempatku bekerja yang karena memenuhi tuntutan pasar harus memutarkan lagu-lagu model begitu setiap jam siarannya, menjadikan satu lagu hits bisa diputar minimal 5 kali dalam satu hari selama sekian minggu, paling sebentar pun sebulanan. Tapi kalau dipikir-pikir, memang karena lagunya yang easy listening dengan konteks percintaan yang mudah ditebaklah yang membuat kata demi kata dalam lirik lagu-lagu boyband mudah dihapal. Bukankah begitu?
Aku memejamkan sejenak kedua mata ini dan menyandarkan punggung, saat lampu lalu lintas menyala merah, memberi kesempatan bagiku untuk menenangkan diri. Hanya sekian menit, karena lampu sudah kembali menyala hijau.
Sorry seems to be the hardest words.
Hmm… diam-diam aku membenarkan kalimat itu. Untuk mengucapkan kata 'maaf', itu sangat mudah. Ambillah contoh, saat kau menabrak seseorang secara tak sengaja, bertubrukan tepatnya. Tanpa berpikir panjang, akan terlontar kata singkat “sorry” dari mulutmu, lalu tanpa benar-benar memperhatikan si korban, kita akan meninggalkannya, karena berpikir toh tabrakan kecil, tidak menimbulkan korban jiwa. Padahal, kecil atau besarnya dampak sebuah kecelakaan kan yang merasakan si korban bukan?
Mengucapkan kata 'maaf' dari hati yang paling dalam, bersungguh-sungguh atas kata 'maaf' itu, dan bertanggung jawab dengan tidak melakukannya, kurasa itu adalah satu tugas yang sangat teramat sulit untuk dilakukan.
Aku jadi teringat perayaan Idul Fitri, dimana setiap orang berlomba-lomba mengajukan permohonan maaf melalui sms pada banyak orang dengan untaian kata yang indah dan menyentuh. Mendadak semua orang jadi begitu puitis. Tapi yang jadi pertanyaan, apakah mereka memahami konteks permohonan maaf itu sendiri? Apakah kalimat-kalimat indah yang mereka kirimkan ke seluruh penjuru dunia juga sudah menyentuh hatinya? Membuat mereka menyadari kesalahan demi kesalahan yang telah dibuat dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi?
Kurasa hanya segelintir orang yang mampu memahami arti kata maaf itu sendiri. Segelintir orang yang bahkan saat melakukan satu kesalahan, akan merasa tidak tenang dihantui bayang-bayang akibat yang ditimbulkan oleh kesalahannya itu.
Tapi… di lain pihak, memaafkan pun sama sulitnya.
Forgiven but not forgotten. Begitu istilahnya.
Padahal, bila bisa memaafkan, seharusnya juga bisa melupakannya. Setidaknya, tidak mengungkit-ungkit luka lama yang menimbulkan luka berkepanjangan. Saat kau sudah mampu memaafkan, maka saat itu juga artinya kau mampu membakar lembaran penuh tinta hitam itu dan memulainya dengan lembaran baru yang masih putih bersih, siap digoreskan dengan tinta aneka warna.
Akan terasa sakit bila kita terpaksa memaafkan, tapi sebenarnya kita belum mau melakukannya. Kita akan tersiksa dengan perasaan bersalah karena belum ikhlas. Tapi, di lain sisi, kita juga berdosa karena tidak memaafkan. Analoginya, Tuhan saja mau menerima tobat dari umatnya, masa’ kita yang gak ada apa-apanya dibanding Tuhan malah angkuh dan tidak mau memaafkan?
Tapi mungkin benar, kalau kita tetap membutuhkan waktu untuk memikirkan banyak hal setelah sebuah kesalahan terjadi. waktu untuk si pelaku menyadari apa yang salah dan akhirnya mengaku lalu meminta maaf dan tidak mengulanginya lagi (secara sungguh-sungguh, maksudku). Waktu juga bagi si korban untuk mendinginkan kepala dan hati, mencoba memahami mengapa kejadian ini bisa terjadi dan menimpanya.
Hmm… kurasa, itulah yang sedang aku alami saat ini.
Tapi jujur saja, aku tetap tidak menemukan benang merah dari semua kejadian ini. sejujurnya, untuk bertemu salah satu dari kedua manusia sumber kekacauan ini, aku masih belum sanggup. Aku takut, kemarahan ini tak terbendung dan meledak bagai bom waktu.
Dan ternyata, hal itu memang terjadi bukan? Sekarang, aku merasa tersiksa merasakan efek yang ditimbulkan. Seakan seluruh rasa dan emosi yang kumiliki hilang dalam seketika.
Apakah aku menyesalinya? Entahlah…
Satu putaran membawaku semakin mendekati bangunan itu. Akankah hati ini tenang saat semua terpetakan di depan kedua mata?
@cukilan dari salah satu episode dalam sebuah dongeng "Kanna" (the unpublished story written by me).
__________________________________
kemarin terpaksa mengurung diri di rumah, karena rasa sakit yang tak kunjung mereda. tanpa disadari, merasa begitu rindu untuk menulis, lalu kembali membuka file penuh coretan kata-kata yang tak pernah terselesaikan. salah satunya adalah dongeng ini. dibuat pada suatu ketika di suatu zaman, saat seluruh jiwa ini bersatu harmonis menimbulkan 'mood' yang bagus.
kapankah dongeng-dongeng itu akan terselesaikan? seakan ide demi ide dalam kepala ini sudah saling bertubrukan saking kepenuhan dan butuh jalan keluar, namun tubuh ini begitu malas berkompromi.
ingin punya banyak waktu untuk menulis.
ingin berada di tempat nyaman untuk menulis.
ingin bicara dengan begitu banyak orang untuk menulis.
ingin dan ingin....
oh, inginku.
Tuesday, July 04, 2006
addicted to YouC1000
bila tubuh ini mulai terasa limbung,
bila tubuh ini mulai terasa memanas lalu mendingin seenak udel,
bila mendadak tenggorokan mulai terasa kering dan serak,
bila bersin datang tak diundang dan tak mau meninggalkan diri ini...
MinumLah
_________________________
mustinya hari ini gak masuk dan tidur sepuasnya.istirahat. tapi ngapain juga ya di rumah???
setiap kali badan mulai gak enak, senjata gw sebenernya cuman 1: YouC1000.
getting addicted to it. tapi emang manjur loh. been done it thousand of times!
sekarang pun sudah agak mendingan sepertinya demam dan gejala flu ini, ditekan dengan kekuatan vitamin C!! tapi tetep, sepertinya apapun yang terjadi, harus memaksakan diri ini untuk take a day-off to rest.
secara hari ini belom bisa istirahat, jadilah satu botol YouC1000 mengisi lambung.semoga prajurit vitamin C segera bertindak memasang tamengnya. ha!!!
*hatchi*
@bersin-bersin gak jelas.mata sepet memanas.kepala mulai memberat.pheew...@
JOURNAL OF THE TEN HECTIC DAYS ON ROAD pt. II
__________________________
20.06.06
[Staying alive: suroandboyo]
Rencana hari ini gak jauh beda. GAWE (again).
Usai meeting, gw dan temen gw kembali mengunjungi sebuah mall yang letaknya di ujung berung (hehehe). Gak mau susah, naek taksi dong. Letak mall-nya di sebuah komplek elit (macem Pondok Indah Jakarta gitu dah).
Setelah nengokin butik, keliling department store disitu, beli snack buat meeting dan memuaskan napsu pengen nyoba makanan hotel (pastry Shangri-La Hotel kok dijual murah disitu yak??curiga udah yang 2 hari lalu neh), gw dan temen gw pun kembali ke hotel (buat kembali mengunjungi toko dan menepati janji untuk entertaint seorang koordinator area di sana).
Sebuah restoran steak and seafood pun dipilih dari deretan chinnesse food (padahal, babi panggang wijen itu sudah menggoda sekali... jelas HARAM kali!).
Selalu suka sama resto yang satu ini. Steaknya murah, salad en dessertnya gratis. Buset dah... ngobrol 3 jam di situ juga bisa!
Dan bener aja, kelar dari resto itu, perut gw makin membuncit dan terasa begitu berat!
Kembali menengoki counter2, lalu sempet digangguin sobat gw yang di bali dan menggosip cukup lama sebelum akhirnya harus kembali muterin mall itu untuk beli sedikit ‘oleh-oleh’ buat orang-orang toko (hari gini gak entertaint sana sini mah orang sakti namanya). Busyet dah, milih oleh2 aja menghabiskan setengah jam untuk mikir dan jalan menuju tokonya dan tambahan setengah jam lagi untuk bertransaksi. Intinya... lama dah!
Jam setengah enam, akhirnya kembali ke kantor berbekal satu gelas venti caramel macchiato starbucks (ngidam neh,susah!). Pastinya, orang2 hotel cukup terbengong2 secara jauh2 ke surabaya, tentengan gw isinya barang2 ‘jakarta’ semua dari eaton, breadtalk sampe starbucks, hehe.
Meeting sore digelar dan berakhir sekian jam kemudian, dan akibat melupakan sebuah tugas penting untuk mendokumentasikan counter, akhirnya malem itu gw dan temen gw pun harus kembali memasuki mall jahanam itu untuk yang kesekian kalinya. Gw gak tau deh berapa kali tepatnya melewati deretan toko yang sama, menaik-turuni eskalator yang sama dan melihat sosok information yang sama. Pastinya... SERING! Sampe pusing sendiri gw.
Jam 10 malem, gw udah all packed en all set untuk menarikan jari jemariku di atas tuts-tuts alfabeth dan angka, sibuk menuangkan banyak dongeng yang berkecamuk dalam kepala ini.
_____________________________________
Dibuat di sebuah kamar hotel bintang sekian di malang yang sedikit creepy.sendirian,akibat teman gw yg msh reunian ama temen2 kampusnya di lobi hotel.menderita sakit pinggang juga akibat duduk selama 6 jam dalam perjalanan surabaya-malang yang merana banget dah!!!!lalu terbengong2 mendapati kota sunyi seperti malang ini.how can they even stay-awake here?!?!
@21.06.06@
****************************************
21.06.06
[The4thday: a looooooooonnnnng journey to malang]
(no wonder they call it ‘malang’. Memang malang benar nasib penghuninya.)
Rencana hari ini cukup sedikit repot. Secara, gw dan temen gw harus segera angkat kaki ke malang untuk survey market. Walah2 i can’t even believe i have to get thru this kind of journey.
Jadi, ceritanya gw dan temen gw akhirnya menyewa sebuah travel untuk mengantarkan ke malang. Jam 9 tepat (sesuai perjanjian), jemputan pun tiba. Akhirnya!!!! Mobil berjalan dan si supir mengingatkan untuk pindah tempat karena ternyata mobil itu fully-booked. Okeh, no problemo dah.
Muter2 daerah surabaya, sampe akhirnya berhenti di sebuah bangunan sekolah (sejam kemudian, tepatnya) daaaannnn mengakut 3 orang penumpang PLUS tumpukan barang yang buanyaaaaakkkk buanget! Bahkan gw dan temen gw pun harus berdesakan di bangku belakang, rebutan tempat sama dos monitor kompi dan travel bag. HEBAT!
Perjalanan dilanjutkan. Menjauh dan menjauh.
Akan tetapi, mobil kembali berbelok memasuki komplek perumahan. TERNYATA... kembali mobil itu harus mengangkut penumpang. Sempet2nya tuh ibu2 minta berenti untuk beli roti di pinggir jalan lagi, HERAN!
Bener2 meninggalkan kota ini tepat pada pukul 11.30 siang. Busyeat dah! Gw ikut keliling surabaya selama 3 jam-an dan sumpah bikin punggung gw encok, batu di ginjal gw membesar akibat nahan p***s dan kedua kaki gw sepertinya udah mati rasa.
Perjalanan ke malang memang amat sangat panjang dan membosankan. Sebenernya, jarak surabaya-malang mungkin sekitar jakarta-bandung via puncak, minus kelok-kelokan jalannya yang menanjak ato menurun. Tapi, hari itu perjalanan terasa lama gara2 lumpur panas sialan yang memaksa kita untuk memutar jalan menjadi lebih jauh dan lama.
Kebayang dooonggg???? Makin tertekuk aja badan gw.
Anyway, jam 3 lewatan pun gw dan temen gw sampe di hotel. Aiihh... hotel yang aneh. Walau gitu, fasilitasnya lengkap sih. Bahkan travel bironya pun sangat ramah fasilitas (ada anter jemput bandara juanda – malang segala!!! Hotel bintang 4 di surabaya kalah deh!).
Setelah un-load barang, diputuskan untuk segera... bekerja. Survey market, ceritanya. Ke sarinah yang terletak di (katanya) alun-alun kota. Wuiiiihhhh...... alun-alun kota perasaan gw gak pernah sepi deh, tapi yang ini, sepi buanget jek!!!! Pusing gw! Akhirnya, setelah sekian belas menit keliling sarinah, gw dan temen gw pun end-up di sebuah resto jaman baheula yang terletak di sebuah ujung jalan. Seberang2an dengan sarinah sih...
Nongkrong di situ sekian jam, nemenin temen gw makan sop buntut dan gw menghabiskan segelas es krim home-made situ, lalu menyusuri jalanan melihat-lihat koleksi burung, ikan hias dan tanaman hias di sepanjang jalan.
Setelah puas foto-foto di icon-nya malang, gw dan temen gw pun memutuskan untuk pergi ke MaTos (Malang Town Square) yang kata temen gw yang tinggal di Malang, harus dijadikan prioritas utama market survey karena menurutnya, mall yang satu ini ‘lebih hidup’.
Gw gak tau persis sih apa term makna ‘lebih hidup’ itu di kota ini, karena pada dasarnya, mall ini gak serame yang gw bayangkan. Bayangan gw adalah Cilandak Town Square (secara namanya sama aja gitu) tapi ternyata? Gak ada apa-apanya cing! Gilingan yak, gimana bisa orang-orang di sini hidup tanpa adanya sumber keriaan sih? Mungkin definisinya beda kali ya... ekspektasinya pun gak sama.
Dan lucunya, saat malam turun pun kota itu makin terasa sepi tanpa suara berarti. Jam 7 malem pun bagaikan sebuah kota di jam 11 malem. Sunyi senyap. Jadi mati gaya. Cuma ngikut temen gw reunian sama temen2 kuliahnya untuk makan semangkuk bakso malang yang rasanya sih, namanya juga bakso ya gitu2 aja sih. What d’you expect anyway toh? Tapi kan gw lagi pengen makan yang panas2 jadi sah2 aja kan klo pengen makan bakso?
Pulangnya, jam 10 malem, udah gak bisa ngapa2in lagi. Jadi, siap2 duduk dengan manis di depan tipi sambil nonton bola yang ternyata bukan argentina vs belanda (salah info nih pak satpamnya) dan akhirnya memutuskan untuk TIDUR.
____________________
Dire-edit saat jerman tengah maen bagus lawan swedia, di sebuah hotel di kawasan pantai kuta.harusnya keluar malem ini sama sobat gw, tapi anaknya sakit, mau ngajak temen gw jalan, dia juga sakit. Alhasil, end up di kamar hotel dan mengamati permainan klose dan kawan-kawan sambil menarikan kembali jari jemari ini.
@11.30wita@
****************************************
22.06.06
[5th day: heading towards nowhere. waiting and watching the clock.
A reunion in BALI]
Jam 5 tepat gw dan temen gw sudah duduk manis di depan tipi. All set, all packed. Temen gw yang mulai tepar kembali tertidur, sementara gw memandangi layar tipi yang nampilin tanding bola ulangan sambil mengoleskan pelembab ke seluruh permukaan wajah.
Rencananya, hari ini adalah hari keberangkatan ke Bali. Kota ke-4 yang jadi tujuan tur kali ini. Flight sih jam 13.10 wib. Akan tetapi, sehubungan adanya masalah jalan raya, yah perjalanan yang bisa 3 jam paling telat, katanya sih mulur sampe 5 jam-an. Wow.
Menurut pihak travel (sayangnya kok bukan fasilitas anter-jemput hotel yang dipake ya), penjemputan akan dilaksanakan pada jam ENAM pagi. Jadilah, jatah sarapan di-boks-kan oleh pihak hotel (agak sedikit nyesel juga sih).
Ditunggu-tunggu. Dinanti-nanti. Detik demi detik berlalu. Tak kunjung jua sosok mobil penjemput itu muncul. Baru menampakkan moncong mobilnya pada saat jarum pendek manteng di angka 7 dan si panjang menunjuk angka 12. Hm... bukan awal yang bagus sepertinya.
Setelah ditanyakan pada sang supir, ternyata travel ini fully-booked, yang artinya, kembalilah jok paling belakang menjadi andalan sarang gw dan teman gw. Harus memangku si adik laptop dan juga satu kardus oleh2 keripik pesenan anak-anak kantor.
Jemput sana sini. Sempat dipaksa nunggu seorang ibu-ibu yang lagaknya sok penting banget, bolak-balik masuk tengah kota untuk hal tak perlu. Aneh2 aja deh pokoknya. Mungkin gak hanya surabaya yang aneh, tapi malang pun aneh. Entah ya, mungkin karena karakteristik kotanya yang santai yang bikin penduduknya pun ‘laid-back’.
Untungnya, si supir ini memiliki skill dan road-knowledge (kyk product-knowledge aja) yang sangat memadai, sehingga tanpa harus ikut2an macet sekian jam, mobil itu bisa meluncur tanpa hambatan (kecuali medan jalan yang gak mulus) melewati jalan2 pedesaan yang kiri kanannya dihiasi pemandangan sawah dan kerbau (agak sedikit off-road lah). Sempet tertidur sebentar di jalan, secara bosen banget dari jam 6 pagi udah stand-by aja gituh.
2 jam-an setengah selepas jam 9 pagi (waktu teng kita meninggalkan malang, red), muncullah marka jalan yang membuat gw tersenyum lebar.
BENTAR LAGI SAMPE SURABAYA! HUUURAAAAY!!!
Ternyata gak separah yang dibayangkan, karena perjalanan itu hanya berlangsung selama 2,5 jam (dihitung dari sejak ninggalin malang ya, bukan ninggalin hotel). Well, at least masih dalam batas normal-lah.
Sampe di Juanda, secara baru jam ½ 12, dan penerbangan masih sekian jam lagi, alhasil gw dan temen gw end-up di sebuah cafe untuk nikmatin semangkuk mie ayam dan sekotak teh botol. Nasi goreng yang seharusnya jadi menu sarapan dari hotel dihibahkan dengan suka rela pada supir travel itu. Gw udah il-fil makannya.
Ditunggu dan ditunggu. Terjadilah sebuah delay. Gak lama sih, untungnya, hanya sekitar setengah jam. Tapi berhubung temen gw udah mulai gak enak badan (pengaruh suhu udara plus kecapekan), suasana nunggu tidak terasa nyaman.
Finally terbang!!!!
Gak pernah gw segitu antusiasnya menyambut penerbangan. Karena dalam benak gw, udah terbayang pertemuan dengan sahabat lama yang udah 2 taonan tak bersua. KANGENNNN!!!
Saking kangen dan excitednya dengan rencana pertemuan ntar sore, gw sampe tak begitu memikirkan kenyataan bahwa anter jemput hotel-bandara itu belum datang. Jadi judulnya: MENUNGGU lagi! Hehehe. Lumayan, selama menanti, pemandangan begitu indahnya (bule, red).
Sampe hotel (entah kenapa mereka bisa mengklasifikasikan hotel ini jadi bintang tiga ya), gw pun segera mandi sepuas hati. Sampe gak denger kalo sobat gw udah dateng.
AKHIRNYAAAA!!! Bertemulah gw dengan keluarga bahagia itu!
Sobat gw kali ini mencat rambut cepaknya dengan warna kuning, dan pink electric. Intinya nyentrik dah! Ditambah tato kanji di punggung kirinya yang bertuliskan nama si anak. Bapaknya? Gak kalah nyentrik dah! Dengan piercing, tato dan rambut mohawk, berjanggut. Pokoknya LIAR dan GAHAR dah. Tapi.... begitu ngurus anak, duileh!!! Hilang dah segala predikat nyentrik, liar, ato gahar. Keduanya begitu menunjukkan sisi nurturing yang gak ada duanya.
Gw dan keluarga sobat gw (temen kantor gw terkapar tak berdaya di kamar hotel) pun end-up di sebuah mall besar yang terletak di pinggir pantai. Bergosip dan menikmati satu menu makan lengkap (Tom Yam Goong plus nasi) dan segelas kopi bali.
Sebuah reuni kecil yang cukup menyeret gw jauh keluar dari kehidupan nyata gw saat ini.
Dan sebuah pertanyaan datang, “kapan lu keluar dari kota itu?”
Hm.... “soon.”
Hanya itu jawaban yang bisa gw berikan. Entahlah, tapi memang benar kalo sooner or later, that day will come. The day when i have to leave all behind to reach a new kind of life.
Yang pasti hari itu berakhir dengan sebuah senyum dan kembali kepala ini diisi dengan begitu banyak hal.
__________________
udah balik ke jakarta lagi dan sibuk berkutat dengan payroll yang begitu menyesakkan hati.
@29.06.06@
****************************************
to be continued...
20.06.06
[Staying alive: suroandboyo]
Rencana hari ini gak jauh beda. GAWE (again).
Usai meeting, gw dan temen gw kembali mengunjungi sebuah mall yang letaknya di ujung berung (hehehe). Gak mau susah, naek taksi dong. Letak mall-nya di sebuah komplek elit (macem Pondok Indah Jakarta gitu dah).
Setelah nengokin butik, keliling department store disitu, beli snack buat meeting dan memuaskan napsu pengen nyoba makanan hotel (pastry Shangri-La Hotel kok dijual murah disitu yak??curiga udah yang 2 hari lalu neh), gw dan temen gw pun kembali ke hotel (buat kembali mengunjungi toko dan menepati janji untuk entertaint seorang koordinator area di sana).
Sebuah restoran steak and seafood pun dipilih dari deretan chinnesse food (padahal, babi panggang wijen itu sudah menggoda sekali... jelas HARAM kali!).
Selalu suka sama resto yang satu ini. Steaknya murah, salad en dessertnya gratis. Buset dah... ngobrol 3 jam di situ juga bisa!
Dan bener aja, kelar dari resto itu, perut gw makin membuncit dan terasa begitu berat!
Kembali menengoki counter2, lalu sempet digangguin sobat gw yang di bali dan menggosip cukup lama sebelum akhirnya harus kembali muterin mall itu untuk beli sedikit ‘oleh-oleh’ buat orang-orang toko (hari gini gak entertaint sana sini mah orang sakti namanya). Busyet dah, milih oleh2 aja menghabiskan setengah jam untuk mikir dan jalan menuju tokonya dan tambahan setengah jam lagi untuk bertransaksi. Intinya... lama dah!
Jam setengah enam, akhirnya kembali ke kantor berbekal satu gelas venti caramel macchiato starbucks (ngidam neh,susah!). Pastinya, orang2 hotel cukup terbengong2 secara jauh2 ke surabaya, tentengan gw isinya barang2 ‘jakarta’ semua dari eaton, breadtalk sampe starbucks, hehe.
Meeting sore digelar dan berakhir sekian jam kemudian, dan akibat melupakan sebuah tugas penting untuk mendokumentasikan counter, akhirnya malem itu gw dan temen gw pun harus kembali memasuki mall jahanam itu untuk yang kesekian kalinya. Gw gak tau deh berapa kali tepatnya melewati deretan toko yang sama, menaik-turuni eskalator yang sama dan melihat sosok information yang sama. Pastinya... SERING! Sampe pusing sendiri gw.
Jam 10 malem, gw udah all packed en all set untuk menarikan jari jemariku di atas tuts-tuts alfabeth dan angka, sibuk menuangkan banyak dongeng yang berkecamuk dalam kepala ini.
_____________________________________
Dibuat di sebuah kamar hotel bintang sekian di malang yang sedikit creepy.sendirian,akibat teman gw yg msh reunian ama temen2 kampusnya di lobi hotel.menderita sakit pinggang juga akibat duduk selama 6 jam dalam perjalanan surabaya-malang yang merana banget dah!!!!lalu terbengong2 mendapati kota sunyi seperti malang ini.how can they even stay-awake here?!?!
@21.06.06@
****************************************
21.06.06
[The4thday: a looooooooonnnnng journey to malang]
(no wonder they call it ‘malang’. Memang malang benar nasib penghuninya.)
Rencana hari ini cukup sedikit repot. Secara, gw dan temen gw harus segera angkat kaki ke malang untuk survey market. Walah2 i can’t even believe i have to get thru this kind of journey.
Jadi, ceritanya gw dan temen gw akhirnya menyewa sebuah travel untuk mengantarkan ke malang. Jam 9 tepat (sesuai perjanjian), jemputan pun tiba. Akhirnya!!!! Mobil berjalan dan si supir mengingatkan untuk pindah tempat karena ternyata mobil itu fully-booked. Okeh, no problemo dah.
Muter2 daerah surabaya, sampe akhirnya berhenti di sebuah bangunan sekolah (sejam kemudian, tepatnya) daaaannnn mengakut 3 orang penumpang PLUS tumpukan barang yang buanyaaaaakkkk buanget! Bahkan gw dan temen gw pun harus berdesakan di bangku belakang, rebutan tempat sama dos monitor kompi dan travel bag. HEBAT!
Perjalanan dilanjutkan. Menjauh dan menjauh.
Akan tetapi, mobil kembali berbelok memasuki komplek perumahan. TERNYATA... kembali mobil itu harus mengangkut penumpang. Sempet2nya tuh ibu2 minta berenti untuk beli roti di pinggir jalan lagi, HERAN!
Bener2 meninggalkan kota ini tepat pada pukul 11.30 siang. Busyeat dah! Gw ikut keliling surabaya selama 3 jam-an dan sumpah bikin punggung gw encok, batu di ginjal gw membesar akibat nahan p***s dan kedua kaki gw sepertinya udah mati rasa.
Perjalanan ke malang memang amat sangat panjang dan membosankan. Sebenernya, jarak surabaya-malang mungkin sekitar jakarta-bandung via puncak, minus kelok-kelokan jalannya yang menanjak ato menurun. Tapi, hari itu perjalanan terasa lama gara2 lumpur panas sialan yang memaksa kita untuk memutar jalan menjadi lebih jauh dan lama.
Kebayang dooonggg???? Makin tertekuk aja badan gw.
Anyway, jam 3 lewatan pun gw dan temen gw sampe di hotel. Aiihh... hotel yang aneh. Walau gitu, fasilitasnya lengkap sih. Bahkan travel bironya pun sangat ramah fasilitas (ada anter jemput bandara juanda – malang segala!!! Hotel bintang 4 di surabaya kalah deh!).
Setelah un-load barang, diputuskan untuk segera... bekerja. Survey market, ceritanya. Ke sarinah yang terletak di (katanya) alun-alun kota. Wuiiiihhhh...... alun-alun kota perasaan gw gak pernah sepi deh, tapi yang ini, sepi buanget jek!!!! Pusing gw! Akhirnya, setelah sekian belas menit keliling sarinah, gw dan temen gw pun end-up di sebuah resto jaman baheula yang terletak di sebuah ujung jalan. Seberang2an dengan sarinah sih...
Nongkrong di situ sekian jam, nemenin temen gw makan sop buntut dan gw menghabiskan segelas es krim home-made situ, lalu menyusuri jalanan melihat-lihat koleksi burung, ikan hias dan tanaman hias di sepanjang jalan.
Setelah puas foto-foto di icon-nya malang, gw dan temen gw pun memutuskan untuk pergi ke MaTos (Malang Town Square) yang kata temen gw yang tinggal di Malang, harus dijadikan prioritas utama market survey karena menurutnya, mall yang satu ini ‘lebih hidup’.
Gw gak tau persis sih apa term makna ‘lebih hidup’ itu di kota ini, karena pada dasarnya, mall ini gak serame yang gw bayangkan. Bayangan gw adalah Cilandak Town Square (secara namanya sama aja gitu) tapi ternyata? Gak ada apa-apanya cing! Gilingan yak, gimana bisa orang-orang di sini hidup tanpa adanya sumber keriaan sih? Mungkin definisinya beda kali ya... ekspektasinya pun gak sama.
Dan lucunya, saat malam turun pun kota itu makin terasa sepi tanpa suara berarti. Jam 7 malem pun bagaikan sebuah kota di jam 11 malem. Sunyi senyap. Jadi mati gaya. Cuma ngikut temen gw reunian sama temen2 kuliahnya untuk makan semangkuk bakso malang yang rasanya sih, namanya juga bakso ya gitu2 aja sih. What d’you expect anyway toh? Tapi kan gw lagi pengen makan yang panas2 jadi sah2 aja kan klo pengen makan bakso?
Pulangnya, jam 10 malem, udah gak bisa ngapa2in lagi. Jadi, siap2 duduk dengan manis di depan tipi sambil nonton bola yang ternyata bukan argentina vs belanda (salah info nih pak satpamnya) dan akhirnya memutuskan untuk TIDUR.
____________________
Dire-edit saat jerman tengah maen bagus lawan swedia, di sebuah hotel di kawasan pantai kuta.harusnya keluar malem ini sama sobat gw, tapi anaknya sakit, mau ngajak temen gw jalan, dia juga sakit. Alhasil, end up di kamar hotel dan mengamati permainan klose dan kawan-kawan sambil menarikan kembali jari jemari ini.
@11.30wita@
****************************************
22.06.06
[5th day: heading towards nowhere. waiting and watching the clock.
A reunion in BALI]
Jam 5 tepat gw dan temen gw sudah duduk manis di depan tipi. All set, all packed. Temen gw yang mulai tepar kembali tertidur, sementara gw memandangi layar tipi yang nampilin tanding bola ulangan sambil mengoleskan pelembab ke seluruh permukaan wajah.
Rencananya, hari ini adalah hari keberangkatan ke Bali. Kota ke-4 yang jadi tujuan tur kali ini. Flight sih jam 13.10 wib. Akan tetapi, sehubungan adanya masalah jalan raya, yah perjalanan yang bisa 3 jam paling telat, katanya sih mulur sampe 5 jam-an. Wow.
Menurut pihak travel (sayangnya kok bukan fasilitas anter-jemput hotel yang dipake ya), penjemputan akan dilaksanakan pada jam ENAM pagi. Jadilah, jatah sarapan di-boks-kan oleh pihak hotel (agak sedikit nyesel juga sih).
Ditunggu-tunggu. Dinanti-nanti. Detik demi detik berlalu. Tak kunjung jua sosok mobil penjemput itu muncul. Baru menampakkan moncong mobilnya pada saat jarum pendek manteng di angka 7 dan si panjang menunjuk angka 12. Hm... bukan awal yang bagus sepertinya.
Setelah ditanyakan pada sang supir, ternyata travel ini fully-booked, yang artinya, kembalilah jok paling belakang menjadi andalan sarang gw dan teman gw. Harus memangku si adik laptop dan juga satu kardus oleh2 keripik pesenan anak-anak kantor.
Jemput sana sini. Sempat dipaksa nunggu seorang ibu-ibu yang lagaknya sok penting banget, bolak-balik masuk tengah kota untuk hal tak perlu. Aneh2 aja deh pokoknya. Mungkin gak hanya surabaya yang aneh, tapi malang pun aneh. Entah ya, mungkin karena karakteristik kotanya yang santai yang bikin penduduknya pun ‘laid-back’.
Untungnya, si supir ini memiliki skill dan road-knowledge (kyk product-knowledge aja) yang sangat memadai, sehingga tanpa harus ikut2an macet sekian jam, mobil itu bisa meluncur tanpa hambatan (kecuali medan jalan yang gak mulus) melewati jalan2 pedesaan yang kiri kanannya dihiasi pemandangan sawah dan kerbau (agak sedikit off-road lah). Sempet tertidur sebentar di jalan, secara bosen banget dari jam 6 pagi udah stand-by aja gituh.
2 jam-an setengah selepas jam 9 pagi (waktu teng kita meninggalkan malang, red), muncullah marka jalan yang membuat gw tersenyum lebar.
BENTAR LAGI SAMPE SURABAYA! HUUURAAAAY!!!
Ternyata gak separah yang dibayangkan, karena perjalanan itu hanya berlangsung selama 2,5 jam (dihitung dari sejak ninggalin malang ya, bukan ninggalin hotel). Well, at least masih dalam batas normal-lah.
Sampe di Juanda, secara baru jam ½ 12, dan penerbangan masih sekian jam lagi, alhasil gw dan temen gw end-up di sebuah cafe untuk nikmatin semangkuk mie ayam dan sekotak teh botol. Nasi goreng yang seharusnya jadi menu sarapan dari hotel dihibahkan dengan suka rela pada supir travel itu. Gw udah il-fil makannya.
Ditunggu dan ditunggu. Terjadilah sebuah delay. Gak lama sih, untungnya, hanya sekitar setengah jam. Tapi berhubung temen gw udah mulai gak enak badan (pengaruh suhu udara plus kecapekan), suasana nunggu tidak terasa nyaman.
Finally terbang!!!!
Gak pernah gw segitu antusiasnya menyambut penerbangan. Karena dalam benak gw, udah terbayang pertemuan dengan sahabat lama yang udah 2 taonan tak bersua. KANGENNNN!!!
Saking kangen dan excitednya dengan rencana pertemuan ntar sore, gw sampe tak begitu memikirkan kenyataan bahwa anter jemput hotel-bandara itu belum datang. Jadi judulnya: MENUNGGU lagi! Hehehe. Lumayan, selama menanti, pemandangan begitu indahnya (bule, red).
Sampe hotel (entah kenapa mereka bisa mengklasifikasikan hotel ini jadi bintang tiga ya), gw pun segera mandi sepuas hati. Sampe gak denger kalo sobat gw udah dateng.
AKHIRNYAAAA!!! Bertemulah gw dengan keluarga bahagia itu!
Sobat gw kali ini mencat rambut cepaknya dengan warna kuning, dan pink electric. Intinya nyentrik dah! Ditambah tato kanji di punggung kirinya yang bertuliskan nama si anak. Bapaknya? Gak kalah nyentrik dah! Dengan piercing, tato dan rambut mohawk, berjanggut. Pokoknya LIAR dan GAHAR dah. Tapi.... begitu ngurus anak, duileh!!! Hilang dah segala predikat nyentrik, liar, ato gahar. Keduanya begitu menunjukkan sisi nurturing yang gak ada duanya.
Gw dan keluarga sobat gw (temen kantor gw terkapar tak berdaya di kamar hotel) pun end-up di sebuah mall besar yang terletak di pinggir pantai. Bergosip dan menikmati satu menu makan lengkap (Tom Yam Goong plus nasi) dan segelas kopi bali.
Sebuah reuni kecil yang cukup menyeret gw jauh keluar dari kehidupan nyata gw saat ini.
Dan sebuah pertanyaan datang, “kapan lu keluar dari kota itu?”
Hm.... “soon.”
Hanya itu jawaban yang bisa gw berikan. Entahlah, tapi memang benar kalo sooner or later, that day will come. The day when i have to leave all behind to reach a new kind of life.
Yang pasti hari itu berakhir dengan sebuah senyum dan kembali kepala ini diisi dengan begitu banyak hal.
__________________
udah balik ke jakarta lagi dan sibuk berkutat dengan payroll yang begitu menyesakkan hati.
@29.06.06@
****************************************
to be continued...
Monday, July 03, 2006
afternoon sickness
despite all the beautiful things happened last weekend that impacts a lot in my monday, suddenly i have to face the reality that i am sick!!! hicks...
padahal pagi ini auranya indah!!! uhuhu....
emang sih, sejak gw mendarat di cengkareng seminggu lalu, badan gw udah mulai rontok. tapi dengan begitu sok perkasanya, gw melawan seluruh bentuk virus dengan mengkonsumsi doping secara besar-besaran. alhasil, sekarang gw malah lemas dan begitu letih. pengen gak masuk, ijin sakit, tapi di rumah juga ngapain?? selama masih bisa jalan, tetep semangat masuk kerja!!! (emang gw digaji berapa sih sama kantor gw? segitu loyalnya gw!!).
anyway...
judulnya hari ini.... letih dan sakit badan. untung banyak hal yang harus diselesaikan tanpa natep komputer lama2 seperti mengurus tagihan kartu Halo yang udah setaon gak dibayar...hehehehe dan menyusun visit report yang udah dikejar2 akunting kantor.
besok masuk gak ya? kalo gak masuk... ngapain juga di rumah? well, we'll see lah what's gonna happen to me tomorrow. kalo ada postingan lagi di tanggal 4 juli, artinya gw masuk. kalo gak ada, well...ada dua pilihan: males ato gak masuk.
_______________________
dibuat saat mata mulai memberat dan rasa nyeri kembali menusuk tulang punggung.
pengen semangkuk sup ayam bening, segelas teh manis panas trus bobo dengan nyenyak...hmmmm.
padahal pagi ini auranya indah!!! uhuhu....
emang sih, sejak gw mendarat di cengkareng seminggu lalu, badan gw udah mulai rontok. tapi dengan begitu sok perkasanya, gw melawan seluruh bentuk virus dengan mengkonsumsi doping secara besar-besaran. alhasil, sekarang gw malah lemas dan begitu letih. pengen gak masuk, ijin sakit, tapi di rumah juga ngapain?? selama masih bisa jalan, tetep semangat masuk kerja!!! (emang gw digaji berapa sih sama kantor gw? segitu loyalnya gw!!).
anyway...
judulnya hari ini.... letih dan sakit badan. untung banyak hal yang harus diselesaikan tanpa natep komputer lama2 seperti mengurus tagihan kartu Halo yang udah setaon gak dibayar...hehehehe dan menyusun visit report yang udah dikejar2 akunting kantor.
besok masuk gak ya? kalo gak masuk... ngapain juga di rumah? well, we'll see lah what's gonna happen to me tomorrow. kalo ada postingan lagi di tanggal 4 juli, artinya gw masuk. kalo gak ada, well...ada dua pilihan: males ato gak masuk.
_______________________
dibuat saat mata mulai memberat dan rasa nyeri kembali menusuk tulang punggung.
pengen semangkuk sup ayam bening, segelas teh manis panas trus bobo dengan nyenyak...hmmmm.
Friday, June 30, 2006
JOURNAL OF THE TEN HECTIC DAYS ON ROAD pt. I
_______________________________________
[Days Before]
Awalnya, saat didelegasikan sebuah tugas untuk melakukan perjalanan tur 5 kota Jawa-Bali(sebenernya sebutan ini cuman penghibur aja) untuk training, gw tidak begitu excited. Secara, IT’S NOT A HOLIDAY TRIP AT ALL gitu loh, jadi pastinya aura yang dirasa pun tidak semenarik bila judulnya “TUR LIBURAN 5 KOTA JAWA-BALI” beneran tanpa embel2 gawean.
Akan tetapi, setelah melalui perjuangan persiapan perjalanan tugas mulia itu, pandangan gw pun berubah. Hmm... meninggalkan kantor dan suasana menyebalkannya itu selama 10 hari (walau harus rela ga bertemu OC, hiks)?? MENGAPA TIDAK?!?!?! Bagus juga, setidaknya, mengalami kejadian baru yang mungkin aja bisa bikin gw sedikit ‘up-mooded’ lagi. Bukan begitu?
Hari2 sebelum keberangkatan, terjadi sedikit kehebohan (seperti mendadak kembali satu lift dengan Sang Tambatan Hati? halah!!); perencanaan jadwal kerja yang sekian kali diralat, pemesanan tiket pesawat yang cukup memusingkan (gara2 jadwal terbang pesawat ga ada yang sesuai jadwal kerja), pemesanan kamar hotel yang sempat menjadi perdebatan (baik batin maupun tersuarakan di forum), maupun titipan dokumen yang mendadak kok jadi menumpuk dan ditambah dengan penjelmaan kurir dadakan (gotong 9 kotak handset CDMA itu apa kalo bukan kurir?!).
Akhirnya, sehari sebelum keberangkatan, semua telah siap ter-packed dengan begitu indah. Intinya, tinggal angkut dah.
_____________________________
seharusnya, ini dibuat di sebuah business center yang terletak dalam sebuah hotel di kawasan simpang lima semarang.namun dikarenakan masalah yang tidak diinginkan,terpaksa cerita ini mengalami pengeditan di kemudian hari.
@190606@
*****************************************
18.06.06
[the first day: destination is SEMARANG]
Akhirnya, hari H pun tiba, dan kota tujuan pertama adalah.... SEMARANG.
Pagi buta di suatu Minggu (hari dimana seharusnya bisa bangun siang dan leyeh-leyeh di tempat tidur maupun depan tivi), gw dan seorang teman kantor gw sudah siap berjibaku ngantre masuk bandara, diantara rentetan troli penuh dus segede2 bagong. Agak terjadi kericuhan di pagi itu, karena bilik X-Ray yang berfungsi cuman 1, padahal yang mo masuk ke terminal itu ada ratusan orang, jadilah gw dan temen gw harus bersabar2 berdiri dengan 4 tas travel besar yang tertumpuk dengan manis di trolley plus tas berisi laptop (secara ini judulnya business trip, jd acara bikin laporan sepertinya ga bisa ditinggalkan gitu aja) yang tergemblok dengan manisnya di punggung gw.
Sejam kemudian, gw dan teman gw sudah duduk manis di ruang tunggu boarding, melakukan hal yang biasa dilakukan banyak orang kalo nunggu: NGEGOSIP, hehehe.
Obrolan ngalor-ngidul gw dan temen gw terputus saat sesosok laki-laki melangkah melewati pintu masuk ruang tunggu. Seorang laki-laki bertubuh tinggi, dengan sebuah tatto yang terukir di lengan kirinya. Tunggu...tunggu... gw dan temen gw saling bertatapan dengan penuh arti, lalu sama-sama komentar: “ada band bukan?”, lalu kembali menatap sosok itu sekali lagi, dan kembali bertatapan lalu tersenyum dan geleng-geleng kepala berpikiran sama: “cuman orang mirip” dan kembali melanjutkan pergunjingan dengan penuh semangat.
Lama-lama diperhatiin (laki2 misterius itu duduk tidak jauh dari kita sih emang), sosok laki-laki itu semakin mirip dan mirip dengan vokalis band yang lagu2nya selalu mendayu2 itu (intinya lagu cinta semua gitu) dan akhirnya, kesimpulan akhir ditarik setelah satu per satu sosok hadir di ruangan yang makin melengkapi sosok para personil band ‘ada band’. Jadi, intinya... hari itu gw satu pesawat dengan personel ADA BAND yang kebetulan duduk tak jauh dari gw dan temen gw. Akan ada sebuah konser sepertinya. Well, it’s a good start i supposed.
Sampe bandara... semua berjalan lancar. Jemputan dari hotel pun tidak terlambat dan drivernya sangat sopan walau terjadi sedikit kesalahan pengejaan nama (gak masalah lah).
Berhubung sampe semarang masih lumayan pagi (jam 9 to be exact), gw ma temen gw jadi agak sedikit mati gaya. Untung sih, hotel terletak di simpang lima, jadi mo keliling2 cukup gampang. Akhirnya diputuskan untuk... SARAPAN! Secara perut dah keroncongan sejak sekian jam lalu dan penerbangan sekarang dah ga ada yang menyajikan makanan lengkap (nasi dan teman-temannya) lagi.
Setelah keliling2 milih makanan, gw pun duduk di simpang lima (yang udah berubah jadi pasar kaget mirip di sempur bogor kala minggu tiba, ato senayan gitu lah) menghadapi sebuah gerai nasi kuning dan kebuli yang dilayani oleh 2 orang ibu setengah baya.
Sarapan pagi itu: nasi kebuli, telor balado, gulai kambing kecap plus acar timun nanas ditemani satu gelas teh manis anget. Hm.... sarapan yang cukup mengenyangkan. Sehabisnya, puter-puter liat2 pedagang kaki lima yang jual segala macem benda yang udah siap2 mo pulang, eh nemu mbok2 yang jualan pecel lengkap. Menggiurkan sekali tumpukan sayur mayur itu saudara2!!!! Alhasil, sepiring pecel dan setusuk sate keong pun mengisi sisa ruang dalam lambung yang seharusnya dijadikan kantong udara.
I AM VERY FULLED!!!
Berhubung hanya 1 hari durasi tinggal di kota ini, mau gak mau harus langsung kerja. Jadi judulnya hari itu adalah muterin mall. Kelar muterin mall, gw dan temen gw pun melakukan check in resmi (sebelumnya ke hotel cuman bwt nitip barang, secara check-in baru boleh after 12hrnoon).
Terjadi keramaian yang cukup memusingkan di lobi hotel itu. Selidik punya selidik, ternyata crew yang ngadain konser Ada Band+Nidji (baru liat iklannya pas keluar dari bandara, red)-lah yang tengah sibuk ngurus ini dan itu.
Begitu melakukan proses check-in, gw mendapati lagi sosok-sosok yang familiar. Ternyata, crew Nidji-lah yang menginap di hotel ini. Lumayan, sempet berdekatan dengan vokalis nidji, bahkan dirinya sempat membuat gw yang sedang sakit punggung manggul seonggok laptop di punggung terpental pelan gara-gara dia ‘sedikit’ menabrak gw (sedikit juga klo lagi cape dan manggul 5kiloan barang sih ngaruh aja kali).
Seakan keindahan hari belum mau berhenti di situ, gw dan temen gw mendapat kabar bahwa hotel itu memiliki fasilitas ‘hot-spot’ plus bisa pasang line internet di kamar. Hmmm... menarik! Walau setelah meminta pengaksesan internet itu, terpaksa gigit jari dan memilih untuk hot-spot aja di lounge-nya (akibat kesalahan bodoh yang tak berarti tepatnya).
Kegiatan setelah itu, gak menarik. Karena, gak sempet kemana-mana lagi. Cuma keliling toko dan keliling toko, tanpa sempet beli oleh2.
Malemnya, berniat melakukan pengaksesan internet di lounge sambil nonton bola. Ealaaah... kesalahan bodoh terjadi dan membuat kita membuat voucher sia2 sebanyak setengah jam.
Berhubung hopeless, setelah connect dengan sukses, gw dan temen gw pun pindah ke lantai atas dimana business center berada dan gw pun mengisi hari dengan menulis blog, walau setelah melalui perjuangan cukup keras (business center yang kosong, gelap dengan sebuah tivi kecil yang masih menyala, serta seliweran orang yang mau turun/nae lift yang mulutnya gak bisa diem dan terus menerus ‘menggoda’) gw harus menelan pil pahit saat berita CONNECTION IS LOW terpampang manis di layar laptop, yang membuat gw ga bisa publish cerita seru buat blog gw. Apa daya, gw pun harus merelakan nasib bahwa gw duduk di depan komputer... FOR NOTHEEENGGG.
Yah, nasiblah, itu intinya gw dan temen gw itu HARUS istirahat dan tidur.
End of story of the first day of the journey (kebanyakan of-nya neh).
_____________________________________
Dibuat on the spot dalam sebuah ruang sentral bisnis, dimana diri ini harus menahan emosi dari sergapan komentar usil (susah jadi seleb seksi gini memang), menggigil kedinginan (hehe... kutungan emang tempat yang paling cucok adalah bali) dan pada akhirnya voucher habis tanpa sempat gw gunakan.
Diedit setelah menyerah kehabisan voucher dan sedikit kegaptekan yang terjadi, di sebuah hotel lain di daerah yang terkenal sama rujak cingurnya dan keanehan-keanehan yang menyertai kota itu.
@20.06.06@
*****************************************
19.06.06
[Second stop-sign: SURABAYA]
8.35 AM adalah waktu take-off yang tertera dalam tiket, dengan tujuan Bandara Juanda, Surabaya.
Yapyapyap, Surabaya is the next destination.
Beruntung hotel bintang tiga yang kita tempatin ini begitu ‘living-able’ dan ‘nyaman-able’. Terlebih, servis makan paginya yang untuk kelas bintang tiga, bisa dibilang “WOW”. Lengkap super lengkap, layaknya pesta kawinan dengan sajian tradisional macem lontong sayur sampe sajian eropa macem steak dan teman-temannya, dari appetizer hingga dessert, dengan persediaan minuman yang beraneka ragam juga. Gak rugi ternyata memperjuangkan perang perebutan hotel ini.
Anyway, tidak ada delay, tidak ada masalah, hanya pemilihan tempat duduk yang... terpuruk di bangku deretan akhir. So bising, and so nervous. Secara, bunyinya gak enak banget dan goncangannya lebih kerasa.
Sampe di surabaya, kesan gw cuman satu: PANAS GILA!!! Dan sepertinya, kota ini lebih semrawut dibandingkan jakarta. Entah ya, mungkin karena belom biasa aja.
Tapi yang pasti dan sangat gw yakini adalah keanehan-keanehan yang terjadi di kota ini. Entah karena emang gw belom pernah menemui kejanggalan itu, atau... i don’t know.
Anyway, keanehan pertama sebenarnya ditemui saat konfirmasi kamar hotel sekian hari sebelumnya dan meminta fasilitas pick-up di bandara (yang biasanya lumrah tersedia untuk hotel rating 3 bintang ke atas) dan ternyata jawabannya: tidak ada.
Keanehan kedua adalah saat check-in di sebuah hotel bintang empat di kawasan tunjungan (halah, ketauan banget) dan menanyakan fasilitas hot-spot yang ternyata... tidak ada (what kind of 4 stars rated hotel it is anyway yak?!).
Begitu masuk kamar, ternyata tidak se-bintang empat seperti yang dibayangkan gw dan temen gw. Mungkin karena bangunan lama. Tapi c’mon!! Hotel sekelas bintang empat seharusnya memiliki tivi 21 inci yang tidak perlu perlu perjuangan hebat sebelum menyalakannya, atau bath-up yang bocor atau tombol pengaturan lampu dan AC yang begitu jadul. Well, mungkin karena gedung lama...
Rencana hari pertama di surabaya, digunakan untuk.... KERJA! Yup! Gak jauh-jauh dah, pasti gawe! Untungnya, jarak hotel-toko cuman selangkah (keliatannya!).
Keliling mall besar 4 episode (macam trilogi kelapa gading mall gitu dah) itu ternyata membuat gw dan teman gw menderita sedikit FRUSTRASI. Menemukan sebuah salon trainingan untuk melakukan backtherapy setelah bekerja, butuh waktu setengah jam sendiri. Dan pada saat gerai itu terlihat, alalala... heaven on earth dah!! Secara punggung dan tangan gw udah mati rasa ngangkut travel bag 12 kilo nae-nurunin kabin (secara ga mau ambil resiko ke9 nyawa itu hancur berantakan sebelum sampai ke tangan penanggung-jawabnya) plus ngegemblok laptop 5kiloan.
Backtherapy yang cukup menyenangkan hati walau sampe malemnya, ngilu2 di bahu en lengan belom bener2 lenyap.
Keanehan lain yang ditemui adalah.... PENCARIAN JALAN KELUAR MENUJU HOTEL yang membuat gw dan teman gw terkurung selama 2 jam muter-muter tanpa tujuan. Herannya, orang-orang di sini bisa hidup dengan sebuah mall yang tidak dilengkapi map maupun tempat duduk buat ngaso, secara ni mall ada 4 episode yang nyambung sana sini aja gitu, jadi kebayang dong, besarnya kayak apa?! No wonder deh kalo kesasar daaaaannn..... mall ini pun tidak dilengkapi sarana SECURITY berjalan ato mangkal di tiap lantai. Jangan nyari papan “you are here” yang dilengkapi peta ato pak satpam yang selalu tersenyum ramah siap melayani dah... kaga ada! Nanya sama cleaning service pun tidak membuahkan hasil, malah balik nanya...
oalaaahhh!! Kota yang aneh!
Setelah keliling sana sini, akhirnya berhenti sebentar untuk membeli voucher provider cdma yang sinyalnya ada dan tiada itu. Sekalian nanya2 jalan keluar daannn... koko penjaga gerai itu pun memahami ke-frustrasian gw dan temen gw serta membenarkan keluhan kita soal gak friendly-nya mall ini.
Alhasil, jalan keluar ditemukan.
HURRAAAYYYY!!!! Akhirnya!!!
Keanehan berikutnya terjadi dan berhubungan erat dengan hotel ini lagi. Secara mau melanjutkan perjalanan ke malang, gw dan temen gw pun membutuhkan transportasi ke kota apel itu. Naek kereta... ga sanggup berangkat jam 5 pagi dengan menggotong 4 tas travel jahanam itu. Alhasil, segeralah menghubungi fasilitas layanan travel hotel dan berakhir dengan kekecewaan. Layanan travel hotel bintang empat apaan sih yang ga bisa nyediain apapun maupun memberikan saran apapun?! HERAN DAH. Dan lucunya, buka primbon buku kuning pun tidak menemukan sebuah petunjuk yang berarti. Nelpon semua travel biro, ga ada berita indah tentang keberadaan travel surabaya-malang sampai menemukan sebuah travel antah berantah yang menyanggupi penjemputan gw dan teman gw dari surabaya ke malang (semoga selamat sampai tujuan!!!!).
Oke, setelah pusing menemukan keanehan-keanehan berentet, akhirnya gw dan temen gw pun meneruskan petualangan menuju kota cina. Intinya sih, makan di kya-kya, tempat makan paling tersohor yang sering masuk rekomendasi itu.
Menaiki sebuah angkutan kota (yang disebut LAND) yang disupiri oleh seorang aneh yang terus menerus menatap gw dengan senyum terkulum (padahal gw tdk memakai sesuatu yang aneh ato mencolok deh) plus kenek yang cerewet, akhirnya sampai juga di daerah yang disebut kembang jepun/jembatan merah itu. Busyettt.... gw berasa masuk ke suatu kota mati yang ga berfungsi lagi dah. Pastinya, sangat chinnatown sekali!
Disambut dengan gerbang bernuansa cina dilengkapi deretan lampion dan gapura2 cina, deretan kaki lima yang dijaga oleh pemiliknya yang berdarah oriental dan sajian makanan khas negeri great-wall, gw dan temen gw melangkah cepat menyusuri jalanan itu (mirip pasar baroe tapi isinya makanan semua, red). Mengapa jalan cepat? Karena sepanjang awal setengah jalan itu terasa begitu sepi dan mencekam lengkap dengan deretan toko yang tutup dan gelap.
Mayoritas isinya seafood dan chinnesefood.
Setelah menyusuri jalanan itu, akhirnya gw dan temen gw end-up di sebuah kedai sate yang jual sate dan gule sumsum. Penasaran rasanya kayak apa, gw ma temen gw pun duduk menanti. Sialannya, sate sumsum sudah tidak ada persediaan dan terpaksa memesan sate ayam dan gulai tulang sumsum tanpa nasi/lontong. ENYAAAAKKK!!! Recomended guys!
Puas menyantap makanan full lemak itu, gw dan temen gw terpaku pada sebuah kedai kaki lima chinnesefood/seafood yang paling sering ngebul, menatap sebuah menu: KERANG LOMBOK. Apakah itu? Yang jualnya promosiin kerang itu yang disebut juga ‘kerang batik’, sampe nunjukin wujud mentahnya. Gambarannya: mirip kerang dara tapi gak bergerigi dan lucunya, di kulit kerang itu kyk terlukis motif batik pake tinta item. Lucu banget.
Cukup mahal (pas denger harga seporsi) sekitar 20rebu. Tapi begitu melihat wujud nyatanya, alamaaakkk!!! Buanyaaaak buanget! 2.5 porsi kerang dara pada umumnya dan sudah berbumbu dengan campuran bawang putih, bombay, cabe rawit, saus tiram dan kecap yang begitu terasa ‘lekoh’. Nyamnyam deh! Makan seporsi berdua aja udah mau mate kekenyangan rasanya.
Sempet mampir di kedai oleh2 kya-kya dan mengantongi dua buah hiasan babi mungil warna pink dari gelas yang imut banget sebelom pulang.
Perjalanan pulang dari kya-kya ke hotel menjadi penutup keanehan petualangan hari itu. ‘dibajak’ sebuah angkot yang diisi supir, kenek dan seorang teman mereka, gw dan teman gw terdiam diliputi rasa takut yang mencekam. Gimana engga!!! Udah tampang gak menjanjikan kebaikan hati, suasana jalan yang sunyi sepi bagai kota mati, ditambah dengan kelajuan angkot yang amat teramat lambat. Bikin PARNO!!!
Belum lagi mendadak masuk 4 orang penumpang dan sebelum angkot benar2 melaju, terjadi drama seru bagai sinetron. 2 dari 4 penumpang itu terlibat pertengkaran seru antara ibu-anak sampai tarik2an, teriak2an dan tangis menangis. Dan pada saat itu, terjadi koneksi antara gw dan supir angkot cs. Saling tatap bingung, lalu senyum2 geli.
Turun di tunjungan plaza, nyempetin beli roti eaton buat snack meeting besok pagi, eehhh, mendadak temen gw berhenti dan menatap gw penuh arti lalu dengan wajah paniknya berkata, “jaket gw, Put!”
Gw dengan datarnya menatap, “ya?”
“jaket gw ketinggalan!” serunya panik.
Secara gw pikir ketinggalan di eaton, gw udah siap2 mo balik aja, “ya udah kita ke bawah aja lagi.”
“ketinggalan di kya-kya!!”
Towewewew...
Gw menatap temen gw gak percaya, dan mendengus panjang, “ya udah mo digimanain lagi? Pastinya dah ilang kali. Terserah sih kalo mo ngambil sendiri.”
Terjadilah perang batin dalam diri temen gw. Secara gw lagi mengalami ‘pendarahan’, ditambah body gw emang agak ga enak. Pengaruh hormon-lah. Jadilah gw menanggapi ke-sedihan temen gw dengan sedikit agak ‘keras’. Maafkan kalo diri ini tidak membuatmu merasa enakan malah makin down. Lagi gak comfy juga sih. Tp emang begitulah yg terjadi saat berada dalam sebuah ‘perjalanan’ bukan? Be logic and realistic. Mana mungkin di tempat seperti itu sebuah jaket 200ribuan masih tetap berada di tempatnya saat tertinggal? Kalo pun ada, resikonya pun nyawa (gak lucu kan dapet jaket tapi dibawa kabur ke antah berantah dan malah keilangan yang lebih gede lagi?).
Biar gitu, gw dan temen gw tetep tergelak-gelak menyadari keanehan yang terjadi pada hari ini. Seru sekaligus membuat kening ini kembali berkerut-kerut.
Benar-benar suatu hari yang aneh dan menggelikan sekaligus membuat paranoid.
_________________________
Saat tengah malam dan rasa kantuk belum menjalar,seraya menikmati sepotong flourless cake dan quiche chicken bikinan Shangri-La Hotel yang yummi plus iced caramel macchiato starbucks versi venti dan menonton habis sebuah film seri tentang persahabatan 3 orang lelaki, plus ekstra diiringi alunan dengkur nyenyak temen gw (sepertinya akibat kecapekan keliling toko, naek turun eskalator yang sama belasan kali dan perut yang membuncit kekenyangan steak and salad). Whatta day!
@midnite00.00am21stofjune2006@
*****************************************
to be continued...
[Days Before]
Awalnya, saat didelegasikan sebuah tugas untuk melakukan perjalanan tur 5 kota Jawa-Bali(sebenernya sebutan ini cuman penghibur aja) untuk training, gw tidak begitu excited. Secara, IT’S NOT A HOLIDAY TRIP AT ALL gitu loh, jadi pastinya aura yang dirasa pun tidak semenarik bila judulnya “TUR LIBURAN 5 KOTA JAWA-BALI” beneran tanpa embel2 gawean.
Akan tetapi, setelah melalui perjuangan persiapan perjalanan tugas mulia itu, pandangan gw pun berubah. Hmm... meninggalkan kantor dan suasana menyebalkannya itu selama 10 hari (walau harus rela ga bertemu OC, hiks)?? MENGAPA TIDAK?!?!?! Bagus juga, setidaknya, mengalami kejadian baru yang mungkin aja bisa bikin gw sedikit ‘up-mooded’ lagi. Bukan begitu?
Hari2 sebelum keberangkatan, terjadi sedikit kehebohan (seperti mendadak kembali satu lift dengan Sang Tambatan Hati? halah!!); perencanaan jadwal kerja yang sekian kali diralat, pemesanan tiket pesawat yang cukup memusingkan (gara2 jadwal terbang pesawat ga ada yang sesuai jadwal kerja), pemesanan kamar hotel yang sempat menjadi perdebatan (baik batin maupun tersuarakan di forum), maupun titipan dokumen yang mendadak kok jadi menumpuk dan ditambah dengan penjelmaan kurir dadakan (gotong 9 kotak handset CDMA itu apa kalo bukan kurir?!).
Akhirnya, sehari sebelum keberangkatan, semua telah siap ter-packed dengan begitu indah. Intinya, tinggal angkut dah.
_____________________________
seharusnya, ini dibuat di sebuah business center yang terletak dalam sebuah hotel di kawasan simpang lima semarang.namun dikarenakan masalah yang tidak diinginkan,terpaksa cerita ini mengalami pengeditan di kemudian hari.
@190606@
*****************************************
18.06.06
[the first day: destination is SEMARANG]
Akhirnya, hari H pun tiba, dan kota tujuan pertama adalah.... SEMARANG.
Pagi buta di suatu Minggu (hari dimana seharusnya bisa bangun siang dan leyeh-leyeh di tempat tidur maupun depan tivi), gw dan seorang teman kantor gw sudah siap berjibaku ngantre masuk bandara, diantara rentetan troli penuh dus segede2 bagong. Agak terjadi kericuhan di pagi itu, karena bilik X-Ray yang berfungsi cuman 1, padahal yang mo masuk ke terminal itu ada ratusan orang, jadilah gw dan temen gw harus bersabar2 berdiri dengan 4 tas travel besar yang tertumpuk dengan manis di trolley plus tas berisi laptop (secara ini judulnya business trip, jd acara bikin laporan sepertinya ga bisa ditinggalkan gitu aja) yang tergemblok dengan manisnya di punggung gw.
Sejam kemudian, gw dan teman gw sudah duduk manis di ruang tunggu boarding, melakukan hal yang biasa dilakukan banyak orang kalo nunggu: NGEGOSIP, hehehe.
Obrolan ngalor-ngidul gw dan temen gw terputus saat sesosok laki-laki melangkah melewati pintu masuk ruang tunggu. Seorang laki-laki bertubuh tinggi, dengan sebuah tatto yang terukir di lengan kirinya. Tunggu...tunggu... gw dan temen gw saling bertatapan dengan penuh arti, lalu sama-sama komentar: “ada band bukan?”, lalu kembali menatap sosok itu sekali lagi, dan kembali bertatapan lalu tersenyum dan geleng-geleng kepala berpikiran sama: “cuman orang mirip” dan kembali melanjutkan pergunjingan dengan penuh semangat.
Lama-lama diperhatiin (laki2 misterius itu duduk tidak jauh dari kita sih emang), sosok laki-laki itu semakin mirip dan mirip dengan vokalis band yang lagu2nya selalu mendayu2 itu (intinya lagu cinta semua gitu) dan akhirnya, kesimpulan akhir ditarik setelah satu per satu sosok hadir di ruangan yang makin melengkapi sosok para personil band ‘ada band’. Jadi, intinya... hari itu gw satu pesawat dengan personel ADA BAND yang kebetulan duduk tak jauh dari gw dan temen gw. Akan ada sebuah konser sepertinya. Well, it’s a good start i supposed.
Sampe bandara... semua berjalan lancar. Jemputan dari hotel pun tidak terlambat dan drivernya sangat sopan walau terjadi sedikit kesalahan pengejaan nama (gak masalah lah).
Berhubung sampe semarang masih lumayan pagi (jam 9 to be exact), gw ma temen gw jadi agak sedikit mati gaya. Untung sih, hotel terletak di simpang lima, jadi mo keliling2 cukup gampang. Akhirnya diputuskan untuk... SARAPAN! Secara perut dah keroncongan sejak sekian jam lalu dan penerbangan sekarang dah ga ada yang menyajikan makanan lengkap (nasi dan teman-temannya) lagi.
Setelah keliling2 milih makanan, gw pun duduk di simpang lima (yang udah berubah jadi pasar kaget mirip di sempur bogor kala minggu tiba, ato senayan gitu lah) menghadapi sebuah gerai nasi kuning dan kebuli yang dilayani oleh 2 orang ibu setengah baya.
Sarapan pagi itu: nasi kebuli, telor balado, gulai kambing kecap plus acar timun nanas ditemani satu gelas teh manis anget. Hm.... sarapan yang cukup mengenyangkan. Sehabisnya, puter-puter liat2 pedagang kaki lima yang jual segala macem benda yang udah siap2 mo pulang, eh nemu mbok2 yang jualan pecel lengkap. Menggiurkan sekali tumpukan sayur mayur itu saudara2!!!! Alhasil, sepiring pecel dan setusuk sate keong pun mengisi sisa ruang dalam lambung yang seharusnya dijadikan kantong udara.
I AM VERY FULLED!!!
Berhubung hanya 1 hari durasi tinggal di kota ini, mau gak mau harus langsung kerja. Jadi judulnya hari itu adalah muterin mall. Kelar muterin mall, gw dan temen gw pun melakukan check in resmi (sebelumnya ke hotel cuman bwt nitip barang, secara check-in baru boleh after 12hrnoon).
Terjadi keramaian yang cukup memusingkan di lobi hotel itu. Selidik punya selidik, ternyata crew yang ngadain konser Ada Band+Nidji (baru liat iklannya pas keluar dari bandara, red)-lah yang tengah sibuk ngurus ini dan itu.
Begitu melakukan proses check-in, gw mendapati lagi sosok-sosok yang familiar. Ternyata, crew Nidji-lah yang menginap di hotel ini. Lumayan, sempet berdekatan dengan vokalis nidji, bahkan dirinya sempat membuat gw yang sedang sakit punggung manggul seonggok laptop di punggung terpental pelan gara-gara dia ‘sedikit’ menabrak gw (sedikit juga klo lagi cape dan manggul 5kiloan barang sih ngaruh aja kali).
Seakan keindahan hari belum mau berhenti di situ, gw dan temen gw mendapat kabar bahwa hotel itu memiliki fasilitas ‘hot-spot’ plus bisa pasang line internet di kamar. Hmmm... menarik! Walau setelah meminta pengaksesan internet itu, terpaksa gigit jari dan memilih untuk hot-spot aja di lounge-nya (akibat kesalahan bodoh yang tak berarti tepatnya).
Kegiatan setelah itu, gak menarik. Karena, gak sempet kemana-mana lagi. Cuma keliling toko dan keliling toko, tanpa sempet beli oleh2.
Malemnya, berniat melakukan pengaksesan internet di lounge sambil nonton bola. Ealaaah... kesalahan bodoh terjadi dan membuat kita membuat voucher sia2 sebanyak setengah jam.
Berhubung hopeless, setelah connect dengan sukses, gw dan temen gw pun pindah ke lantai atas dimana business center berada dan gw pun mengisi hari dengan menulis blog, walau setelah melalui perjuangan cukup keras (business center yang kosong, gelap dengan sebuah tivi kecil yang masih menyala, serta seliweran orang yang mau turun/nae lift yang mulutnya gak bisa diem dan terus menerus ‘menggoda’) gw harus menelan pil pahit saat berita CONNECTION IS LOW terpampang manis di layar laptop, yang membuat gw ga bisa publish cerita seru buat blog gw. Apa daya, gw pun harus merelakan nasib bahwa gw duduk di depan komputer... FOR NOTHEEENGGG.
Yah, nasiblah, itu intinya gw dan temen gw itu HARUS istirahat dan tidur.
End of story of the first day of the journey (kebanyakan of-nya neh).
_____________________________________
Dibuat on the spot dalam sebuah ruang sentral bisnis, dimana diri ini harus menahan emosi dari sergapan komentar usil (susah jadi seleb seksi gini memang), menggigil kedinginan (hehe... kutungan emang tempat yang paling cucok adalah bali) dan pada akhirnya voucher habis tanpa sempat gw gunakan.
Diedit setelah menyerah kehabisan voucher dan sedikit kegaptekan yang terjadi, di sebuah hotel lain di daerah yang terkenal sama rujak cingurnya dan keanehan-keanehan yang menyertai kota itu.
@20.06.06@
*****************************************
19.06.06
[Second stop-sign: SURABAYA]
8.35 AM adalah waktu take-off yang tertera dalam tiket, dengan tujuan Bandara Juanda, Surabaya.
Yapyapyap, Surabaya is the next destination.
Beruntung hotel bintang tiga yang kita tempatin ini begitu ‘living-able’ dan ‘nyaman-able’. Terlebih, servis makan paginya yang untuk kelas bintang tiga, bisa dibilang “WOW”. Lengkap super lengkap, layaknya pesta kawinan dengan sajian tradisional macem lontong sayur sampe sajian eropa macem steak dan teman-temannya, dari appetizer hingga dessert, dengan persediaan minuman yang beraneka ragam juga. Gak rugi ternyata memperjuangkan perang perebutan hotel ini.
Anyway, tidak ada delay, tidak ada masalah, hanya pemilihan tempat duduk yang... terpuruk di bangku deretan akhir. So bising, and so nervous. Secara, bunyinya gak enak banget dan goncangannya lebih kerasa.
Sampe di surabaya, kesan gw cuman satu: PANAS GILA!!! Dan sepertinya, kota ini lebih semrawut dibandingkan jakarta. Entah ya, mungkin karena belom biasa aja.
Tapi yang pasti dan sangat gw yakini adalah keanehan-keanehan yang terjadi di kota ini. Entah karena emang gw belom pernah menemui kejanggalan itu, atau... i don’t know.
Anyway, keanehan pertama sebenarnya ditemui saat konfirmasi kamar hotel sekian hari sebelumnya dan meminta fasilitas pick-up di bandara (yang biasanya lumrah tersedia untuk hotel rating 3 bintang ke atas) dan ternyata jawabannya: tidak ada.
Keanehan kedua adalah saat check-in di sebuah hotel bintang empat di kawasan tunjungan (halah, ketauan banget) dan menanyakan fasilitas hot-spot yang ternyata... tidak ada (what kind of 4 stars rated hotel it is anyway yak?!).
Begitu masuk kamar, ternyata tidak se-bintang empat seperti yang dibayangkan gw dan temen gw. Mungkin karena bangunan lama. Tapi c’mon!! Hotel sekelas bintang empat seharusnya memiliki tivi 21 inci yang tidak perlu perlu perjuangan hebat sebelum menyalakannya, atau bath-up yang bocor atau tombol pengaturan lampu dan AC yang begitu jadul. Well, mungkin karena gedung lama...
Rencana hari pertama di surabaya, digunakan untuk.... KERJA! Yup! Gak jauh-jauh dah, pasti gawe! Untungnya, jarak hotel-toko cuman selangkah (keliatannya!).
Keliling mall besar 4 episode (macam trilogi kelapa gading mall gitu dah) itu ternyata membuat gw dan teman gw menderita sedikit FRUSTRASI. Menemukan sebuah salon trainingan untuk melakukan backtherapy setelah bekerja, butuh waktu setengah jam sendiri. Dan pada saat gerai itu terlihat, alalala... heaven on earth dah!! Secara punggung dan tangan gw udah mati rasa ngangkut travel bag 12 kilo nae-nurunin kabin (secara ga mau ambil resiko ke9 nyawa itu hancur berantakan sebelum sampai ke tangan penanggung-jawabnya) plus ngegemblok laptop 5kiloan.
Backtherapy yang cukup menyenangkan hati walau sampe malemnya, ngilu2 di bahu en lengan belom bener2 lenyap.
Keanehan lain yang ditemui adalah.... PENCARIAN JALAN KELUAR MENUJU HOTEL yang membuat gw dan teman gw terkurung selama 2 jam muter-muter tanpa tujuan. Herannya, orang-orang di sini bisa hidup dengan sebuah mall yang tidak dilengkapi map maupun tempat duduk buat ngaso, secara ni mall ada 4 episode yang nyambung sana sini aja gitu, jadi kebayang dong, besarnya kayak apa?! No wonder deh kalo kesasar daaaaannn..... mall ini pun tidak dilengkapi sarana SECURITY berjalan ato mangkal di tiap lantai. Jangan nyari papan “you are here” yang dilengkapi peta ato pak satpam yang selalu tersenyum ramah siap melayani dah... kaga ada! Nanya sama cleaning service pun tidak membuahkan hasil, malah balik nanya...
oalaaahhh!! Kota yang aneh!
Setelah keliling sana sini, akhirnya berhenti sebentar untuk membeli voucher provider cdma yang sinyalnya ada dan tiada itu. Sekalian nanya2 jalan keluar daannn... koko penjaga gerai itu pun memahami ke-frustrasian gw dan temen gw serta membenarkan keluhan kita soal gak friendly-nya mall ini.
Alhasil, jalan keluar ditemukan.
HURRAAAYYYY!!!! Akhirnya!!!
Keanehan berikutnya terjadi dan berhubungan erat dengan hotel ini lagi. Secara mau melanjutkan perjalanan ke malang, gw dan temen gw pun membutuhkan transportasi ke kota apel itu. Naek kereta... ga sanggup berangkat jam 5 pagi dengan menggotong 4 tas travel jahanam itu. Alhasil, segeralah menghubungi fasilitas layanan travel hotel dan berakhir dengan kekecewaan. Layanan travel hotel bintang empat apaan sih yang ga bisa nyediain apapun maupun memberikan saran apapun?! HERAN DAH. Dan lucunya, buka primbon buku kuning pun tidak menemukan sebuah petunjuk yang berarti. Nelpon semua travel biro, ga ada berita indah tentang keberadaan travel surabaya-malang sampai menemukan sebuah travel antah berantah yang menyanggupi penjemputan gw dan teman gw dari surabaya ke malang (semoga selamat sampai tujuan!!!!).
Oke, setelah pusing menemukan keanehan-keanehan berentet, akhirnya gw dan temen gw pun meneruskan petualangan menuju kota cina. Intinya sih, makan di kya-kya, tempat makan paling tersohor yang sering masuk rekomendasi itu.
Menaiki sebuah angkutan kota (yang disebut LAND) yang disupiri oleh seorang aneh yang terus menerus menatap gw dengan senyum terkulum (padahal gw tdk memakai sesuatu yang aneh ato mencolok deh) plus kenek yang cerewet, akhirnya sampai juga di daerah yang disebut kembang jepun/jembatan merah itu. Busyettt.... gw berasa masuk ke suatu kota mati yang ga berfungsi lagi dah. Pastinya, sangat chinnatown sekali!
Disambut dengan gerbang bernuansa cina dilengkapi deretan lampion dan gapura2 cina, deretan kaki lima yang dijaga oleh pemiliknya yang berdarah oriental dan sajian makanan khas negeri great-wall, gw dan temen gw melangkah cepat menyusuri jalanan itu (mirip pasar baroe tapi isinya makanan semua, red). Mengapa jalan cepat? Karena sepanjang awal setengah jalan itu terasa begitu sepi dan mencekam lengkap dengan deretan toko yang tutup dan gelap.
Mayoritas isinya seafood dan chinnesefood.
Setelah menyusuri jalanan itu, akhirnya gw dan temen gw end-up di sebuah kedai sate yang jual sate dan gule sumsum. Penasaran rasanya kayak apa, gw ma temen gw pun duduk menanti. Sialannya, sate sumsum sudah tidak ada persediaan dan terpaksa memesan sate ayam dan gulai tulang sumsum tanpa nasi/lontong. ENYAAAAKKK!!! Recomended guys!
Puas menyantap makanan full lemak itu, gw dan temen gw terpaku pada sebuah kedai kaki lima chinnesefood/seafood yang paling sering ngebul, menatap sebuah menu: KERANG LOMBOK. Apakah itu? Yang jualnya promosiin kerang itu yang disebut juga ‘kerang batik’, sampe nunjukin wujud mentahnya. Gambarannya: mirip kerang dara tapi gak bergerigi dan lucunya, di kulit kerang itu kyk terlukis motif batik pake tinta item. Lucu banget.
Cukup mahal (pas denger harga seporsi) sekitar 20rebu. Tapi begitu melihat wujud nyatanya, alamaaakkk!!! Buanyaaaak buanget! 2.5 porsi kerang dara pada umumnya dan sudah berbumbu dengan campuran bawang putih, bombay, cabe rawit, saus tiram dan kecap yang begitu terasa ‘lekoh’. Nyamnyam deh! Makan seporsi berdua aja udah mau mate kekenyangan rasanya.
Sempet mampir di kedai oleh2 kya-kya dan mengantongi dua buah hiasan babi mungil warna pink dari gelas yang imut banget sebelom pulang.
Perjalanan pulang dari kya-kya ke hotel menjadi penutup keanehan petualangan hari itu. ‘dibajak’ sebuah angkot yang diisi supir, kenek dan seorang teman mereka, gw dan teman gw terdiam diliputi rasa takut yang mencekam. Gimana engga!!! Udah tampang gak menjanjikan kebaikan hati, suasana jalan yang sunyi sepi bagai kota mati, ditambah dengan kelajuan angkot yang amat teramat lambat. Bikin PARNO!!!
Belum lagi mendadak masuk 4 orang penumpang dan sebelum angkot benar2 melaju, terjadi drama seru bagai sinetron. 2 dari 4 penumpang itu terlibat pertengkaran seru antara ibu-anak sampai tarik2an, teriak2an dan tangis menangis. Dan pada saat itu, terjadi koneksi antara gw dan supir angkot cs. Saling tatap bingung, lalu senyum2 geli.
Turun di tunjungan plaza, nyempetin beli roti eaton buat snack meeting besok pagi, eehhh, mendadak temen gw berhenti dan menatap gw penuh arti lalu dengan wajah paniknya berkata, “jaket gw, Put!”
Gw dengan datarnya menatap, “ya?”
“jaket gw ketinggalan!” serunya panik.
Secara gw pikir ketinggalan di eaton, gw udah siap2 mo balik aja, “ya udah kita ke bawah aja lagi.”
“ketinggalan di kya-kya!!”
Towewewew...
Gw menatap temen gw gak percaya, dan mendengus panjang, “ya udah mo digimanain lagi? Pastinya dah ilang kali. Terserah sih kalo mo ngambil sendiri.”
Terjadilah perang batin dalam diri temen gw. Secara gw lagi mengalami ‘pendarahan’, ditambah body gw emang agak ga enak. Pengaruh hormon-lah. Jadilah gw menanggapi ke-sedihan temen gw dengan sedikit agak ‘keras’. Maafkan kalo diri ini tidak membuatmu merasa enakan malah makin down. Lagi gak comfy juga sih. Tp emang begitulah yg terjadi saat berada dalam sebuah ‘perjalanan’ bukan? Be logic and realistic. Mana mungkin di tempat seperti itu sebuah jaket 200ribuan masih tetap berada di tempatnya saat tertinggal? Kalo pun ada, resikonya pun nyawa (gak lucu kan dapet jaket tapi dibawa kabur ke antah berantah dan malah keilangan yang lebih gede lagi?).
Biar gitu, gw dan temen gw tetep tergelak-gelak menyadari keanehan yang terjadi pada hari ini. Seru sekaligus membuat kening ini kembali berkerut-kerut.
Benar-benar suatu hari yang aneh dan menggelikan sekaligus membuat paranoid.
_________________________
Saat tengah malam dan rasa kantuk belum menjalar,seraya menikmati sepotong flourless cake dan quiche chicken bikinan Shangri-La Hotel yang yummi plus iced caramel macchiato starbucks versi venti dan menonton habis sebuah film seri tentang persahabatan 3 orang lelaki, plus ekstra diiringi alunan dengkur nyenyak temen gw (sepertinya akibat kecapekan keliling toko, naek turun eskalator yang sama belasan kali dan perut yang membuncit kekenyangan steak and salad). Whatta day!
@midnite00.00am21stofjune2006@
*****************************************
to be continued...
Thursday, June 29, 2006
check-in.check-out. flying.waiting.sighing.working. shopping.bargaining.having-fun. confused.thrilling. tiring.pretending.
judulnya emang panjang, tapi cukup menggambarkan kegiatan dan perasaan gw selama 10 hari belakangan ini.
10 hari penuh yang gw lalui dalam sebuah roadshow (taelah!) 5 kota Jawa-Bali. gw ma temen gw emang nyebutnya road-show/tour, walau sebenernya.... BUSSINESS TRIP (iiihhh *geli*). well, cerita lengkap akan di-posting dalam waktu dekat, karena pada kenyataannya, begitu pulang, walau dikasih bonus libur satu hari, tetep aja gak bisa gw ambil, karena gw sudah harus mulai mengerjakan payroll yang deadline-nya adalah... sore HARI INI (29/06)!!! well, sepertinya satu mug kopi flores milik kantor belom bisa membuat gw stay-awake seharian (pait ya jek.rasanya beda sama kopi jawa.jadi penasaran ma kopi toraja/aceh yg masih nangkring di rotan-basket di meja promotion, he.^_^V).
just wait for the next posting, talking 'bout my trip ya!
btw, June is about to end up tomorrow... i'm gonna miss my June!!!
if only June is made for 2 months, hehehe....
_____________________________
berusaha konsen ngerjain payroll di tengah godaan menulis blog/YM dan masih ga percaya baca milis sekolahan gw mengenai rencana pernikahan 2 orang temen gw yang ternyata.... (he3.jadi juga kalian!have fun in preparing the WED ye!)
@suatukamispagidenganauramalasyangmulaimenjalaritubuh.
nomorestarbuckscozi'mrunningoutofmoney!@
Subscribe to:
Posts (Atom)