Friday, July 18, 2008

fenomena nonton konser: sebuah ke-eksis-an diri







Ckckck...
Lagak gw nulis ini thread udah kayak tukang nonton konser ato beda tipis lah sama calo penjual tiket konser aja. Padahal, hanya ada 2 konser musik yang pernah gw sambangi seumur hidup gw, dan itu berentang waktu kurang lebih sekitar 3 taonan. So... am I valid enough to write such a thread?

Eniwei, not much care about it, hanya bercerita sedikit ketermanguan gw saat mengantri nonton konser musik sebuah band besar di awal maret lalu yang threadnya udah gw umbar begitu banyak di blog ini.

Begini ceritanya....

Duduk-duduk di lantai paving dan dikelilingi para ABG yang gw yakin belum genap ¼ abad menjalani priviledge terberinya yaitu HIDUP, bikin gw amazed. Karena entah bagaimana, mereka bisa mengatur keuangannya untuk membeli tiket seharga setengah juta, yang bagi gw, yang sudah kerja pun, terasa begitu mencekik. Beruntunglah mereka, kata temen gw, “born as a rich-ass-kid” (sirik mode: ON), hahaha.

Tapi tidak hanya itu yang membuat gw cukup termangu dengan fenomena yang ada. Percaya atau enggak, mayoritas dari mereka yang menonton bukanlah mereka yang fasih dengan band yang akan manggung. Gak hanya soal personil (yang dimaklumi deh kalo yang cuma keliatan di mata itu sang vokalisnya doang), pun musiknya. Makanya, gak heran kalo selama nunggu, banyak yang nyumpel kuping mereka dengan earphone yang tersambung dengan ragam iPOD (asli iPOD, bukan mp3player abal-abal yang dijual di kereta). Komentar mereka, “iya, ngapalin nih, ketuker tuker gw lagu mereka”.

Gw dan teman gw pun saling tatap tak percaya.
They spent tho$$$e money untuk sesuatu yang gak mereka kenal?

Lucunya, ada lagi segerombolan cewek ABG yang, kalo gw bilang sih, dandanannya lebih cocok buat hang-out di mall, either itu ngadem sambil perawatan di salon, ato nyesap secangkir capuccino di starbucks. Sempet gak ngebayangin aja mereka berada diantara lautan moshing (walau emang gak ada moshing, tetep desak-desakan kan?), dan yaa, memang mereka tidak berada di kelas festival yang notabene sangat tidak mentolerir para putri keraton bergabung diantaranya, tapi di kelas tribune yang jauuh tapi bisa duduk dengan manis kalo bosen (baca: gak ngerti musik yang dimaenin).

Oke... sudahlah, they are indeed born as a rich-ass-kid, mau digimanain lagiih? Tinggal noel bokap ato nyokapnya, beberapa lembar keluaran Bank Indonesia itu pun langsung pindah tangan.

Tapi yang lucunya lagi, gw yang kebetulan dapet di barisan terdepan di kelas festival, kedapetan bersebelahan (temen gw sih yang bersebelahan), dengan seorang anak SM...P (!!) yang mengira kedua perempuan disebelahnya (gw ma temen gw, red!) adalah siswi SMA... lalu diralat.. kuliah. Sedikit terpana dan cukup termangu setengah gak percaya dengan kenyataan... “tampang kita semuda itu yaaa???”

Tapi tunggu dulu, bukan itu yang membuat gw semakin melebarkan bukaan rahang.
Anak ini dengan begitu lugasnya bertanya, “kemaren ke konsernya MCR?”
Eerrr.... gw pun mengerutkan kening dan menggeleng.
“kalo Black Dahlia? Wah, itu ya konsernya parah banget deh....”
gw cukup terkesima karena ternyata ada anak yang memang pecinta rock n roll dari semuda itu.
“enggak sih, gak gitu tau sama musiknya. Tapi suka aja dateng ke konser. Eh, gitarisnya Incubus siapa sih? Lagunya selaen Anna-Molly apa ya? gw belom ngapalin nih. Tadi dateng ke hotel Mulia gak? Oia, liat Muse gak dulu? Itu keren deh”

Dan gw hanya bengong sementara di otak gw, dengan cepat, bergerak angka-angka nominal harga tiket masuk konser yang rata-rata berkisar di pertengahan juta, alias, 500ribuan ke atas.
Misalnya nih, katakanlah dalam satu tahun itu ada 10 konser musik rock lalu dikalikanlah dengan harga 500ribuan itu... alamaaakkk... dengan duit segitu banyak, gw udah bisa muasin napsu traveling gw sampe mana yaa??? Korea ato Aussie kali ya minimal?

Ckckckck...
Kids today.

Teringat di benak gw, pada saat gw berada di umuran mereka, saat beberapa band asing berdatangan untuk ngadain konser disini, betapa gw berusaha mati-matian untuk mendapatkan tiketnya secara gratisan (tapi gak pernah dapet T.T) dengan modal telpon rumah (yang masih sistem puter itu, plus gak ada sistem redial!), karena gak mungkin tiket itu terbeli dengan uang jajan. Kalopun nekat minta duit ke bokap-nyokap, itu artinya gw udah bosen idup, ato minimal gw udah bosen idup di rumah itu dan siap ditaro begitu aja di jalanan ato lebih bagusan dikit, di panti asuhan antah berantah.
Intinya... nonton konser di jaman gw SMP/SMA/(bahkan) KULIAH adalah... ngimpi aja deh lo!!!

Padahal, dulu harga tiket nonton konser masih berkisaran seratus ribuan yaah paling mahal dua ratusan kali ya? Apa kabar kalo dari dulu udah setengah juta harganya?????

Tapi lalu ada selentingan yang berkelebat di benak gw. Beli tiket konser semahal itu, sesering itu, biarpun gak kenal siapa yang ditonton ato jenis musik apa yang dimaenin, bisa dengan mudahnya dilakukan tanpa ngeluh. Tapi kenapa ya, beli buku pelajaran yang harganya berkisaran disitu dan udah jelas hanya 6bulanan sekali, ngeluhnya bisa sepanjang hari sepanjang umur?

Kalo kata temen gw, perkara tau gak tau, itu belakangan, yang penting... eksis!

Gila, kalo demi ke-eksis-an gw musti menghabiskan satu bulan gaji dalam hitungan sekian jam, itu namanya gw bunuh diri dengan cara yang paling kejam namun bodoh.

Yaah... lagi-lagi gw hanya bisa meng-Amin-i komentar temen gw, “Thank God they’re born as a rich-ass-kid”

Tapi jadi kepikiran, kalo mereka biasa jajan begitu, berapa duit yang harus mereka peroleh saat kerja nanti buat nutupin gaya hidupnya yaa???

Ckckckck....
Again... kids today [geleng-geleng kepala mode: ON]

__________________________________


[onears] The Academy Is .... Everything We Had




Thursday, July 17, 2008

on ears recently: I'm Yours by Jason Mraz


I’ve listened to this song some times ago, but never been really preoccupied like this before, as I put it on my only song list in the mp3 player. I let it replay over and over and over (since it’s the only song in the list) and suddenly that song stick in my head like a sticky bubble-gum.

Swallowed by the almighty curiosity, I then wandering around to amuse myself in the world of wordplay of Mr. A-to-Z. Hmm... interesting personality as well as the music.

One thing for sure, I always nibble this guy’s singles since the very first time The Remedy came to the radio (when was it? 2005? 2004? Can’t remember, sorry!). First impression of this song would be… “gosh, how could he sing this song live? it’s a tongue tight lyric!”.
I thought it was the only interesting single from this guy, but eventually, I found many of his songs as good and impressive as the single itself. And good to know that those songs come purrfect live as well. Nope. His tongue is pretty much fine. Not tightly tight.

The only bad thing is I don’t have any of his albums. Just listening thru the net. And the only song I had downloaded was just the acoustic version of the latest single, “I’m Yours”. Well, that the only song’s provided by the site anyway.

Well, perhaps, if I’m lucky enough, someone’s reading this blog got a clue for what present should s/he give me, hahaha… wishful thinking?

Well, in the meantime, I’ll just enjoy the soothe and peaceful melody then…
Hmm… listening to this song, makes you feel like you’re stranded in a quite island with its white sand beach (and a bunch of MALE-surfers?) and the only entertaining tool you have is the great guitar. playing some melody on it while gazing at the blue sky (or the starry night?), feeling the breeze calming your face and the only thing that worries you the most is when the world stops turning.
Hhaah…… when will I get a chance of living that kind of simple-life?

cheers!

btw, here's the lyrics, find yourself the clip in YouTube and enjoy it.

JASON MRAZ – I’M YOURS

Well you done done me and you bet I felt it
I tried to be chill but you’re so hot that I melted
I fell right through the cracks
And now I’m trying to get back

Before the cool done run out
I’ll be giving it my bestest
Nothing’s going to stop me but divine intervention
I reckon it’s again my turn to win some or learn some

I won’t hesitate no more, no more
It cannot wait, I’m yours

Well open up your mind and see like me
Open up your plans and damn you’re free
Look into your heart and you’ll find love love love love
Listen to the music of the moment and maybe sing with me
A la peaceful melody
And it’s our God-forsaken right to be loved love loved love loved

So I won’t hesitate no more, no more
It cannot wait I’m sure
There’s no need to complicate
Our time is short
This is our fate, I’m yours

I’ve been spending way too long checking my tongue in the mirror
And bending over backwards just to try to see it clearer
My breath fogged up the glass
And so I drew a new face and laughed
I guess what I’m saying is there ain’t no better reason
To rid yourself of vanity and just go with the seasons
It’s what we aim to do
Our name is our virtue

Repeat till fade

___________________________________

Monday, July 07, 2008

Tenacity and Preseverance

Those are two things that could be learned from what happened in 2008 Wimbledon Final.
Aha, another tennis-talk?
Honesty, am not a tennis player, but a watcher.

And what happened to the final in wimbledon last Sunday? Ooh, believe me, it worthed every second of my sleepless nite (yup, not even blink the eyes longer than a second). And I bet that’s exactly what thousands of people would feel about that final. It was something that (probably) never been done before in any era.
What you did see in that final (if you did watch it) was simply a magnificent final that perhaps, only the greatests are able to push their limits to the edges and perform what was happened that nite.

For nearly 5 hours of game (excluding the 2 times rain delay) millions of hearts were ready to be pumped-out or worst.... stopped at any given time. Tsk tsk tsk...
I can not describe how magnificent the game was because there are almost no words to explain it.

Again, it was Rog and Rafa in the final and like their previous final a year ago, they pushed each other to the limit where only two gods of tennis can actually perform that kind of game.

Two gods.
One with the style and clever movement, while the other posses what is called tenacity and preseverance in a high mental-ability.

In the end it seemed showing us that no matter how clever and smart you are, they don’t mean a thing unless you patiently and eagerly collect point by point until you win it, no matter how big the spectacles are or how long it will take.

And that nite, the god who posses tenacity and preseverance was no other than Rafa.
And he was the one who lifted up the throphy.
The god of tenacity and preseverance.

As the result, Rafa won the wimbledon 2008 in 5 remarkable sets [4-6, 4-6, 7-6 (7/5), 7-6 (10/8), 7-9]


(ps: picture will be provided soon, when I’m awake enough to find the good ones on the internet ^_^)

Incubus Going on Hiatus (kudos!)


Watching DVDs of Incubus brings back all the memories of experiencing their live act here in Jakarta. In my own opinion, I’d say that was the best concert I’ve ever experienced in my life. Well, it’s a bit not accurate thou, since that was the second concert ever I’ve been to.

Anyway…
I must say again that this band is one of the fewest bands outthere that worth every penny, every sweat, every blood, tears and bruise for their live concert anywhere the place. You won’t regret anything even if you have to come home in sore throat from yelling and sing (scream)-a-long and not able to talk for weeks or probably some cracks on your bones from surfing the crowds.
They’re worth, period.

But as the news I read few days ago, Incubus have already planned for experiencing more to life.
Meaning: going on hiatus. Having a baby and family, working on some solo projects, and even going back to school.
Hmm… sounds interesting and I sense a “much more to life” album is on the way thou’ that’s not gonna come out in a year or so from now.

They deserve it (life), a much more simple life (and much more real?).
Enjoy life guys, and please do experience it in a much more simple way ^_^
Hmm, just imagining Brandon spending his days in a library, working on his thesis and probably dating one of the campus girl (hope the real one not some plastic-made-girls)

So until the day a new album’s released, I’ll just please myself with all the collection of Incubus I have. Good thing is I never get bored of their oldies thou I listen to them every morning from my cell.


ps:
thanks to the ‘anonymous’ from Canberra who just sent me the dvds (and yea I was shaking when opening it and almost burst in tears), I owe ya…(how much?)

__________________________________
[on ears] la la la zoom zoom zoom

Friday, June 13, 2008

cuplikan singkat


Matahari yang mulai meninggi, memancarkan sinar yang begitu menghangatkan hingga menembus relung hati. Tak banyak awan putih yang berarak, membuat langit terlihat begitu biru.
“Gue masih inget, dulu, rumah gue gak punya taman yang luas, tapi di belakang rumah, ada sebuah pohon oak yang sangat besar.”

Rigel menoleh, sedikit menunduk menatap Shaula yang tengah terbaring di atas hamparan rumput hijau dan memandang langit biru dengan mata yang menerawang jauh.

“Nyokap ngebikinin rumah pohon, tapi tanpa atap. Hanya lempengan-lempengan kayu di atas dahan pohon yang kuat.” Shaula mengisi penuh-penuh relung paru-parunya. “Setiap musim panas datang, gue selalu meluangkan waktu di tempat itu. Hanya berbaring, menatap langit. Entah itu pagi, siang, sore atau malam sekalipun gue selalu menikmati langit di tempat itu, dan nyokap akan dengan senang hati menemani. Entah itu sambil membacakan cerita, bekerja, atau bahkan merajutkan syal.” Shaula membelai lembut syal rajutan biru navy yang membungkus lehernya. Syal itu sudah sangat tua dan usang, namun tetap terasa hangat.

Rigel menatap langit kembali, berusaha menyembunyikan ribuan rasa yang kini menyerbu dadanya. Apakah ini…

“Dari dulu, gue selalu menatap langit dan selalu berharap kalau gue dilahirin kembali, gue bakal jadi elang. Bebas mengepakkan sayap kemana pun gue mau. Tapi, gue gak pernah ngebayangin rasanya terbang,” Shaula tersenyum tipis. “Sekarang, gue gak bakal takut lagi.”

Rigel mengerutkan kening dan menoleh, “maksudnya?”

Shaula tersenyum, membalas tatapan Rigel sekilas, lalu memandang puas pada benda yang kini melayang membelah langit, “karena gue udah tahu rasanya terbang. Jadi, kalo saat itu tiba, gue gak perlu takut untuk mengepakkan sayap.”

Rigel menatap benda yang melintas di atas kepala mereka.

“Walau cuma paralayang, tapi seenggaknya, gue udah tahu aroma langit, sensasi angin yang menerpa wajah dan gak akan ragu untuk mengepakkan sayap.”

Jantung Rigel seakan berhenti saat sebuah pelukan membungkusnya lemah dari belakang. “Makasih ya,” bisik suara itu lembut.
Rigel memejamkan kedua matanya, mencoba melawan semua rasa yang siap pecah berhamburan. “Jangan pikir gue bakal ngelakuin itu lagi ya!” ancamnya tiba-tiba, mengenyahkan perasaan sakit yang menyayat hatinya.

Shaula terkikik geli dan menjauhkan dirinya dari tubuh Rigel. Laki-laki itu bangkit dan menebuk-nepuk bagian belakang jeans hitamnya.
“Ayo cepet! Kita harus balik. Jangan-jangan bokap loe udah nyiapin gilda lagi buat motong leher gue.”

Shaula tak segera mengulurkan tangannya. Ia kembali membaringkan tubuh, menatap langit. “Apa hidup dalam sangkar bisa dibilang hidup?”

Rigel tercekat seketika.

@ sneakpeek to the story of shaula, written by poetriij, sumwhen between the end 0f 2003 until the middle of 2004 @
___________________________________

sedikit bernostalgia sama sebuah ‘proyek’ yang sempet gw kerjakan, dan dengan bodohnya, sudah hampir 4 tahun berselang, namun ‘proyek’ ini belum juga kelar. malahan, di kepala gw udah bergumul ‘proyek-proyek’ lain yang tak kalah membaranya (at least, to me).

Damn! I need to find a great time, place and moment to pour myself into it (or them?) or else… these projects won’t even finished. Not even a single one.

Aaarrrggghh…..
Pengen deh, punya seluruh waktu di dunia ini untuk merampungkan ‘proyek’2 itu tanpa sedikit pun gangguan. Well, in that case, I think I have to make myself dissapear to the unknown.

Siigghh….

Monday, June 09, 2008

...Meet The King Of Clay...


Though I placed my money on Djoker last friday on semi, actually my heart went to this Incredible-green-machine-Mallorcan Man.
And woop, there happened again in the final, against Rog.

Is there anyone outthere who can (aaaaactually) beat him on clay?
Hmm....

Guess there’s Rafa’s name patened in every clay court so that no one… I repeat.. NO ONE can take it away from him. Indeed, not even 'The Number One' Rog can break him down whenever he sets his two feet on the clay court.

Well, what do you know?
4 consecutive years and every clay’s trophy is landed in his arms (except for the Rome this year due to his injury I guess).
The last one this year is at The French Open. Won over Rog in 3 (eeeaaaasily) straight sets: 6-1, 6-3, and.... 6-0 (What happened to Rog?!?!)

Enjoy it while you can Rafa, couse when it comes to any-other-courts (except clay, red.), then you’re a history. You gotta work out a little bit so that you’ll be not only “King Of Clay” but also “King of all-Courts”.


Congrats and happy belated b’day (whatta 22nd b’day’s gift rite??)

Cheers!
ps:
hmmm, btw... i've always have a 'thing' for lefties, got to admit it... ;p
[all pictures are unrespectedly taken without any permission from gettyimages.com ^_^V]
__________________________
been a long time not writing a thing here since like.... forever I guess??
Been trying to compose an “internet for dummies” kinda like for the sales assistants
Don’t get surprised to find out that not everyone in this planet of Jakarta is friendly to the internet... or should I say... to computer?
Hmm.... something has to be done to our education programme i supposed?

Friday, May 16, 2008

...Napak Tilas...


Rabu kemaren, baru aja nyampe kantor, mendadak si newlywed menyambut dengan begitu ceria, “Put, satu juta kursi!”
Saat itu gw masih bengong dan gak tunning. Ternyata, yang dia maksud adalah iklan ‘Satu Juta Free Seats’ dari promo sebuah maskapai penerbangan berbudget rendah di Asia itu, yang baru aja keluar Rabu dini hari kemarin.

Begitu tunning, gw dan beberapa gelintir personil kantor lainnya pun mengelilingi si newlywed itu dan mulai merencanakan perjalanan. Tanpa pikir panjang, gw pun langsung tembak, “Gold Coast kita?”, yang langsung disambut koor setengah nyolot, “GILAA KALI LOE?!?!”
Dan gw pun terlonjak kaget campur ngeri digebuk massa.
Padahal, cetusan ide gue itu sangatlah mendasar pada apa yang pernah dibicarakan di jemputan beberapa waktu lalu kalo Gold Coast, Perth dan Australia sekitarnya layak dikunjungi mengingat si maskapai penerbangan itu pun sudah mengeluarkan rute ke negeri kanguru itu.
Well, daripada gw harus mencairkan Asuransi Kesehatan Rawat Inap dalam waktu dekat akibat babak belur digebukin, yasud, gw pun segera mengunci rapat mulut ini, hehehe.

Lucunya, tanpa persiapan, tanpa ide mau kemana dan tanpa juga tahu tanggalan, gw dan anak-anak kantor langsung bergumul dengan dunia satu klik yang mendadak pagi itu loadingnya sudah cukup membuat seluruh daftar hadir isi kebun binatang keluar dari mulut gw [saking lambatnya] ^,^

Dan yaah, setelah 3,5 jam berkutat di depan komputer, bolak-balik nelponin call-center maskapai itu sampe call-center kartu kredit untuk konfirmasi, dan menghabiskan daftar hadir isi kebun binatang, alhasil telah terkonfirmasi juga tiket perjalanan ke 4 negara Asia untuk.... bulan Maret 2009.

Hahahahaha!!!!
Dasar gila!!!

Pilihan tujuan negaranya?
Hmm...
Seperti judul postingan ini, “NAPAK TILAS”, itu artinya adalah, gw kembali menyambangi negara-negara Asia yang tahun lalu gw kunjungi.

Bosen?
ENGGAKK!!!!
Terus terang, saat gw kembali dari perjalanan tahun lalu, gw sudah bertekad untuk kembali menyambangi negara-negara itu, entah kapan. Dan ternyata, dalam jangka waktu yang cukup berdekatan!!

Well, it’s gonna be a lil’ bit chaotic since there will be like.... 7 others are coming with us. Eheee....

Oya satu lagi.... itu artinya, NABUUUUNGGGG!!

Gosh!

_________________________________
[onears] Fastball - You're an Ocean

Tuesday, May 13, 2008

Tennis: The “Anak Mami” Sport


Tunggu... tunggu... pecinta olahraga yang satu ini, jangan marah dulu!
I’m a tennis-lover as well kok.
Hanya sekedar iseng merhatiin permainan tenis.
Dari dulu gw selalu berpikiran kalo olah raga tenis itu (yang international championship yaa), bener-bener olahraga manja. Gw selalu bilang, olahaganya anak manja yang borju, hehe.
Gimana gak manja kalo sejak awal para pemain nginjekin kaki di lapangan, maka seluruh manusia yang ada di sekitarnya akan memberikan pelayanan super ekstra. Gak hanya official-nya tapi juga bahkan penontonnya.

Coba aja sebutin, active-sport mana yang secara terang-terangan melarang penontonnya bertereak menyemangati para pemainnya beraksi? Jangankan teriak, tepuk tangan aja langsung dipelototin. Bahkan demi menertibkan penonton fanatik yang nekat rame, chair-umpire bakal negur, “thank you, please!” dan disambung koor penonton laen yang peduli pentingnya ketenangan, mendesis, “SSSHHHHH!!!!!” ke arah penonton bengal itu. Hebat kan?
Bahkan binatang pun kena getahnya, bisa-bisa pemain berenti maen hanya gara-gara seekor kumbang tanah iseng keluar dari persembunyiannya di tengah lapangan untuk ikutan nonton.

Sebegitu pentingnyakah konsentrasi pada pertandingan tenis? Bukankah semua pertandingan juga perlu konsentrasi? Tapi kenapa hanya tenis yang repot bener menomersatukan konsentrasi pemain?

Gak hanya masalah konsentrasi, masalah ‘dilayani’ pun jadi masalah. Seakan yang main tenis itu adalah dewa.

Coba aja perhatikan fungsi dari keberadaan kira-kira 6 orang anak remaja yang terbagi rata di ujung-ujung belakang lapangan maupun di tengah dekat net. Mereka adalah ball-kids, yang tugasnya menurut buku primbon adalah membantu mendistribusikan bola dan membersihkan lapangan dari bola. Gak heran deh, kalo mereka ini jadi pemeran yang sering banget seliweran depan layar kaca ngejar-ngejar bola kuning itu. Kadang, bola muntahan servis yang gagal. Kadang bola hasil volly yang gak kekejar. Kadang, bahkan hanya sekedar bola yang dibuang oleh si pemain karena gak lulus seleksi dirinya sebagai bola ‘layak’ pakai, walau pada akhirnya akan dipakai-pakai juga kalo udah gak ada bola laen.

Fungsi ball-kids ini mendadak aja, jadi nambah jadi tukang handuk, tukang payung, sampe tukang ambil minuman. Saat sela giliran serve, mereka harus waspada dengan kode pemain, minta bolakah atau minta handuk. Mereka juga harus rela kalo pemain yang kesel karena kalah, malah mengembalikan handuk setengah ngelempar sampe kena muka mereka.
Iiih, kena handuk penuh keringet? Biarpun keringetnya Nadal, namanya juga keringet, jorok!

Pas waktunya pemain istirahat, para ball-kids ini akan segera berlari mendekati tempat duduk pemain dan melayaninya. Entah itu megangin payung besar yang berat banget, ngambilin aer mineral yang ada dalam cooler-box sekian jengkal dari tempat duduk pemain, ato cukup dengan berdiri tegak posisi istirahat menghadap pemain, siap menunggu perintah selanjutnya.

Ckckck... mulia sekali jasamu naaak....
Coba bayangin, mana ada olahraga laen yang well-serviced begitu, bukan?

Ooh, dan satu lagi. Keberadaan teknologi komputer yang didisain secara khusus untuk mendeteksi apakah bola itu keluar atau masuk, sehingga pemain memiliki jatah untuk challenge. Setau gw sih, sampe detik ini pun belum ada teknologi komputerisasi khusus di dunia persepakbolaan yang bisa mendeteksi perihal offside, kecuali teknologi slowmotion, dan di sepakbola, gak ada tuh istilah challenge yang bisa menganulir gol, kecuali keputusan wasit dari sekian meter jauhnya di belakang, udah gitu ketutupan pemainnya lagi.

Gak jarang malah, official tempat berlangsungnya pertandingan, mengharamkan pemain ngangkut sendiri keperluan tandingnya. Jadi, pemain melenggang masuk dan keluar lapangan tanpa bawa apa-apa, tapi ada orang laen yang tergopoh-gopoh di belakangnya bawain tas gede isi raket dan tetek bengek laennya.

Hmm... whatta sport.
Walau gitu, gw tetep salut sama pemain tenis yang bisa nonstop sekian minggu ngikutin serial-tanding tanpa ada pemain cadangan, di berbagai negara pula. Kalo pertandingan laen macem sepak bola, balap, ato bahkan golf kan gak tiap hari dan minggu maen. Apalagi kalo punya pemain pengganti.

Biarpun manja, ternyata mereka tangguh juga kok.
Anak manja yang borju tapi tangguh?
Probably... ^_^

___________________________________
[on ears] 5 for fighting – If God Made You

Tuesday, May 06, 2008

CAN'T LET GO

Gak niat sih, posting 2 times in a row ttg musik, tapi mendadak aja gara-gara lagi boring, trus buka YouTube dan nyari klip musik penyanyi ini yang ‘Coffee Shop’ malah dapet juga single yang laen yang berjudul “Can’t Let Go”.

Not a special song esp. to me (despite of the goodlooking singer ^_~), sebenernya. Hanya saja pas denger lagu ini, mendadak gw teringat pada seorang teman dan ‘cerita-cinta’nya.

Well...
Gak nyalahin ato bermaksud memojokkan ato... entah apalah sebutannya itu siih.
Hanya terlintas bayangan temen gw itu saat mendengar lagu ini (walau tetep gak menggantikan bayangan si penyanyi aslinya lagu ini kok, haa!).

Somehow, it suits him very well (the song, i mean, not the singer!!)
Just listen to it, and y’all know what i mean ^_^V


.Can’t Let Go.





Well you’re the closest thing, i have
To bring up in a conversation
About love that didn’t last.
But i could never call you: mine,
Cause i could never call myself: yours
And if we were really meant to be,
Well then we’ve just defied destiny.
It’s not that our love died,
It’s just never really bloomed.

No i can’t let go, no i can’t let go of you
You’re holding me back without even trying to.
I can’t let go, i can’t move on from the past
Without lifting a finger you’re holding me back.

And then we saw our past, diverge
And i guess i felt okay about it.
Until you got with another man,
And then i couldn’t understand
Why it bothered me so,
No we didn’t die, we just never had a chance to grow.

And it might not make much sense
To you or any of my friends
But somehow still you affect the things i do.
And you can’t lose what you never had
I don’t understand why i feel sad
Everytime i see you out with someone new.


@landon pigg@


_____________________________________________

O dear friend,
If only you read my blog, just want you to know that you should listen to this song, it suits you. Whatever defense mechanism you’re trying to apply to yourself, just admit it: You still can’t let her go. Still can’t move on from the past.


Hmm...Dan kenapa klo udah pada kehilangan, larinya ke gw sih?! *sigh*

(curhat colongan eeuuy!!! Hahahaha!!!)