Monday, July 07, 2008

Incubus Going on Hiatus (kudos!)


Watching DVDs of Incubus brings back all the memories of experiencing their live act here in Jakarta. In my own opinion, I’d say that was the best concert I’ve ever experienced in my life. Well, it’s a bit not accurate thou, since that was the second concert ever I’ve been to.

Anyway…
I must say again that this band is one of the fewest bands outthere that worth every penny, every sweat, every blood, tears and bruise for their live concert anywhere the place. You won’t regret anything even if you have to come home in sore throat from yelling and sing (scream)-a-long and not able to talk for weeks or probably some cracks on your bones from surfing the crowds.
They’re worth, period.

But as the news I read few days ago, Incubus have already planned for experiencing more to life.
Meaning: going on hiatus. Having a baby and family, working on some solo projects, and even going back to school.
Hmm… sounds interesting and I sense a “much more to life” album is on the way thou’ that’s not gonna come out in a year or so from now.

They deserve it (life), a much more simple life (and much more real?).
Enjoy life guys, and please do experience it in a much more simple way ^_^
Hmm, just imagining Brandon spending his days in a library, working on his thesis and probably dating one of the campus girl (hope the real one not some plastic-made-girls)

So until the day a new album’s released, I’ll just please myself with all the collection of Incubus I have. Good thing is I never get bored of their oldies thou I listen to them every morning from my cell.


ps:
thanks to the ‘anonymous’ from Canberra who just sent me the dvds (and yea I was shaking when opening it and almost burst in tears), I owe ya…(how much?)

__________________________________
[on ears] la la la zoom zoom zoom

Friday, June 13, 2008

cuplikan singkat


Matahari yang mulai meninggi, memancarkan sinar yang begitu menghangatkan hingga menembus relung hati. Tak banyak awan putih yang berarak, membuat langit terlihat begitu biru.
“Gue masih inget, dulu, rumah gue gak punya taman yang luas, tapi di belakang rumah, ada sebuah pohon oak yang sangat besar.”

Rigel menoleh, sedikit menunduk menatap Shaula yang tengah terbaring di atas hamparan rumput hijau dan memandang langit biru dengan mata yang menerawang jauh.

“Nyokap ngebikinin rumah pohon, tapi tanpa atap. Hanya lempengan-lempengan kayu di atas dahan pohon yang kuat.” Shaula mengisi penuh-penuh relung paru-parunya. “Setiap musim panas datang, gue selalu meluangkan waktu di tempat itu. Hanya berbaring, menatap langit. Entah itu pagi, siang, sore atau malam sekalipun gue selalu menikmati langit di tempat itu, dan nyokap akan dengan senang hati menemani. Entah itu sambil membacakan cerita, bekerja, atau bahkan merajutkan syal.” Shaula membelai lembut syal rajutan biru navy yang membungkus lehernya. Syal itu sudah sangat tua dan usang, namun tetap terasa hangat.

Rigel menatap langit kembali, berusaha menyembunyikan ribuan rasa yang kini menyerbu dadanya. Apakah ini…

“Dari dulu, gue selalu menatap langit dan selalu berharap kalau gue dilahirin kembali, gue bakal jadi elang. Bebas mengepakkan sayap kemana pun gue mau. Tapi, gue gak pernah ngebayangin rasanya terbang,” Shaula tersenyum tipis. “Sekarang, gue gak bakal takut lagi.”

Rigel mengerutkan kening dan menoleh, “maksudnya?”

Shaula tersenyum, membalas tatapan Rigel sekilas, lalu memandang puas pada benda yang kini melayang membelah langit, “karena gue udah tahu rasanya terbang. Jadi, kalo saat itu tiba, gue gak perlu takut untuk mengepakkan sayap.”

Rigel menatap benda yang melintas di atas kepala mereka.

“Walau cuma paralayang, tapi seenggaknya, gue udah tahu aroma langit, sensasi angin yang menerpa wajah dan gak akan ragu untuk mengepakkan sayap.”

Jantung Rigel seakan berhenti saat sebuah pelukan membungkusnya lemah dari belakang. “Makasih ya,” bisik suara itu lembut.
Rigel memejamkan kedua matanya, mencoba melawan semua rasa yang siap pecah berhamburan. “Jangan pikir gue bakal ngelakuin itu lagi ya!” ancamnya tiba-tiba, mengenyahkan perasaan sakit yang menyayat hatinya.

Shaula terkikik geli dan menjauhkan dirinya dari tubuh Rigel. Laki-laki itu bangkit dan menebuk-nepuk bagian belakang jeans hitamnya.
“Ayo cepet! Kita harus balik. Jangan-jangan bokap loe udah nyiapin gilda lagi buat motong leher gue.”

Shaula tak segera mengulurkan tangannya. Ia kembali membaringkan tubuh, menatap langit. “Apa hidup dalam sangkar bisa dibilang hidup?”

Rigel tercekat seketika.

@ sneakpeek to the story of shaula, written by poetriij, sumwhen between the end 0f 2003 until the middle of 2004 @
___________________________________

sedikit bernostalgia sama sebuah ‘proyek’ yang sempet gw kerjakan, dan dengan bodohnya, sudah hampir 4 tahun berselang, namun ‘proyek’ ini belum juga kelar. malahan, di kepala gw udah bergumul ‘proyek-proyek’ lain yang tak kalah membaranya (at least, to me).

Damn! I need to find a great time, place and moment to pour myself into it (or them?) or else… these projects won’t even finished. Not even a single one.

Aaarrrggghh…..
Pengen deh, punya seluruh waktu di dunia ini untuk merampungkan ‘proyek’2 itu tanpa sedikit pun gangguan. Well, in that case, I think I have to make myself dissapear to the unknown.

Siigghh….

Monday, June 09, 2008

...Meet The King Of Clay...


Though I placed my money on Djoker last friday on semi, actually my heart went to this Incredible-green-machine-Mallorcan Man.
And woop, there happened again in the final, against Rog.

Is there anyone outthere who can (aaaaactually) beat him on clay?
Hmm....

Guess there’s Rafa’s name patened in every clay court so that no one… I repeat.. NO ONE can take it away from him. Indeed, not even 'The Number One' Rog can break him down whenever he sets his two feet on the clay court.

Well, what do you know?
4 consecutive years and every clay’s trophy is landed in his arms (except for the Rome this year due to his injury I guess).
The last one this year is at The French Open. Won over Rog in 3 (eeeaaaasily) straight sets: 6-1, 6-3, and.... 6-0 (What happened to Rog?!?!)

Enjoy it while you can Rafa, couse when it comes to any-other-courts (except clay, red.), then you’re a history. You gotta work out a little bit so that you’ll be not only “King Of Clay” but also “King of all-Courts”.


Congrats and happy belated b’day (whatta 22nd b’day’s gift rite??)

Cheers!
ps:
hmmm, btw... i've always have a 'thing' for lefties, got to admit it... ;p
[all pictures are unrespectedly taken without any permission from gettyimages.com ^_^V]
__________________________
been a long time not writing a thing here since like.... forever I guess??
Been trying to compose an “internet for dummies” kinda like for the sales assistants
Don’t get surprised to find out that not everyone in this planet of Jakarta is friendly to the internet... or should I say... to computer?
Hmm.... something has to be done to our education programme i supposed?

Friday, May 16, 2008

...Napak Tilas...


Rabu kemaren, baru aja nyampe kantor, mendadak si newlywed menyambut dengan begitu ceria, “Put, satu juta kursi!”
Saat itu gw masih bengong dan gak tunning. Ternyata, yang dia maksud adalah iklan ‘Satu Juta Free Seats’ dari promo sebuah maskapai penerbangan berbudget rendah di Asia itu, yang baru aja keluar Rabu dini hari kemarin.

Begitu tunning, gw dan beberapa gelintir personil kantor lainnya pun mengelilingi si newlywed itu dan mulai merencanakan perjalanan. Tanpa pikir panjang, gw pun langsung tembak, “Gold Coast kita?”, yang langsung disambut koor setengah nyolot, “GILAA KALI LOE?!?!”
Dan gw pun terlonjak kaget campur ngeri digebuk massa.
Padahal, cetusan ide gue itu sangatlah mendasar pada apa yang pernah dibicarakan di jemputan beberapa waktu lalu kalo Gold Coast, Perth dan Australia sekitarnya layak dikunjungi mengingat si maskapai penerbangan itu pun sudah mengeluarkan rute ke negeri kanguru itu.
Well, daripada gw harus mencairkan Asuransi Kesehatan Rawat Inap dalam waktu dekat akibat babak belur digebukin, yasud, gw pun segera mengunci rapat mulut ini, hehehe.

Lucunya, tanpa persiapan, tanpa ide mau kemana dan tanpa juga tahu tanggalan, gw dan anak-anak kantor langsung bergumul dengan dunia satu klik yang mendadak pagi itu loadingnya sudah cukup membuat seluruh daftar hadir isi kebun binatang keluar dari mulut gw [saking lambatnya] ^,^

Dan yaah, setelah 3,5 jam berkutat di depan komputer, bolak-balik nelponin call-center maskapai itu sampe call-center kartu kredit untuk konfirmasi, dan menghabiskan daftar hadir isi kebun binatang, alhasil telah terkonfirmasi juga tiket perjalanan ke 4 negara Asia untuk.... bulan Maret 2009.

Hahahahaha!!!!
Dasar gila!!!

Pilihan tujuan negaranya?
Hmm...
Seperti judul postingan ini, “NAPAK TILAS”, itu artinya adalah, gw kembali menyambangi negara-negara Asia yang tahun lalu gw kunjungi.

Bosen?
ENGGAKK!!!!
Terus terang, saat gw kembali dari perjalanan tahun lalu, gw sudah bertekad untuk kembali menyambangi negara-negara itu, entah kapan. Dan ternyata, dalam jangka waktu yang cukup berdekatan!!

Well, it’s gonna be a lil’ bit chaotic since there will be like.... 7 others are coming with us. Eheee....

Oya satu lagi.... itu artinya, NABUUUUNGGGG!!

Gosh!

_________________________________
[onears] Fastball - You're an Ocean

Tuesday, May 13, 2008

Tennis: The “Anak Mami” Sport


Tunggu... tunggu... pecinta olahraga yang satu ini, jangan marah dulu!
I’m a tennis-lover as well kok.
Hanya sekedar iseng merhatiin permainan tenis.
Dari dulu gw selalu berpikiran kalo olah raga tenis itu (yang international championship yaa), bener-bener olahraga manja. Gw selalu bilang, olahaganya anak manja yang borju, hehe.
Gimana gak manja kalo sejak awal para pemain nginjekin kaki di lapangan, maka seluruh manusia yang ada di sekitarnya akan memberikan pelayanan super ekstra. Gak hanya official-nya tapi juga bahkan penontonnya.

Coba aja sebutin, active-sport mana yang secara terang-terangan melarang penontonnya bertereak menyemangati para pemainnya beraksi? Jangankan teriak, tepuk tangan aja langsung dipelototin. Bahkan demi menertibkan penonton fanatik yang nekat rame, chair-umpire bakal negur, “thank you, please!” dan disambung koor penonton laen yang peduli pentingnya ketenangan, mendesis, “SSSHHHHH!!!!!” ke arah penonton bengal itu. Hebat kan?
Bahkan binatang pun kena getahnya, bisa-bisa pemain berenti maen hanya gara-gara seekor kumbang tanah iseng keluar dari persembunyiannya di tengah lapangan untuk ikutan nonton.

Sebegitu pentingnyakah konsentrasi pada pertandingan tenis? Bukankah semua pertandingan juga perlu konsentrasi? Tapi kenapa hanya tenis yang repot bener menomersatukan konsentrasi pemain?

Gak hanya masalah konsentrasi, masalah ‘dilayani’ pun jadi masalah. Seakan yang main tenis itu adalah dewa.

Coba aja perhatikan fungsi dari keberadaan kira-kira 6 orang anak remaja yang terbagi rata di ujung-ujung belakang lapangan maupun di tengah dekat net. Mereka adalah ball-kids, yang tugasnya menurut buku primbon adalah membantu mendistribusikan bola dan membersihkan lapangan dari bola. Gak heran deh, kalo mereka ini jadi pemeran yang sering banget seliweran depan layar kaca ngejar-ngejar bola kuning itu. Kadang, bola muntahan servis yang gagal. Kadang bola hasil volly yang gak kekejar. Kadang, bahkan hanya sekedar bola yang dibuang oleh si pemain karena gak lulus seleksi dirinya sebagai bola ‘layak’ pakai, walau pada akhirnya akan dipakai-pakai juga kalo udah gak ada bola laen.

Fungsi ball-kids ini mendadak aja, jadi nambah jadi tukang handuk, tukang payung, sampe tukang ambil minuman. Saat sela giliran serve, mereka harus waspada dengan kode pemain, minta bolakah atau minta handuk. Mereka juga harus rela kalo pemain yang kesel karena kalah, malah mengembalikan handuk setengah ngelempar sampe kena muka mereka.
Iiih, kena handuk penuh keringet? Biarpun keringetnya Nadal, namanya juga keringet, jorok!

Pas waktunya pemain istirahat, para ball-kids ini akan segera berlari mendekati tempat duduk pemain dan melayaninya. Entah itu megangin payung besar yang berat banget, ngambilin aer mineral yang ada dalam cooler-box sekian jengkal dari tempat duduk pemain, ato cukup dengan berdiri tegak posisi istirahat menghadap pemain, siap menunggu perintah selanjutnya.

Ckckck... mulia sekali jasamu naaak....
Coba bayangin, mana ada olahraga laen yang well-serviced begitu, bukan?

Ooh, dan satu lagi. Keberadaan teknologi komputer yang didisain secara khusus untuk mendeteksi apakah bola itu keluar atau masuk, sehingga pemain memiliki jatah untuk challenge. Setau gw sih, sampe detik ini pun belum ada teknologi komputerisasi khusus di dunia persepakbolaan yang bisa mendeteksi perihal offside, kecuali teknologi slowmotion, dan di sepakbola, gak ada tuh istilah challenge yang bisa menganulir gol, kecuali keputusan wasit dari sekian meter jauhnya di belakang, udah gitu ketutupan pemainnya lagi.

Gak jarang malah, official tempat berlangsungnya pertandingan, mengharamkan pemain ngangkut sendiri keperluan tandingnya. Jadi, pemain melenggang masuk dan keluar lapangan tanpa bawa apa-apa, tapi ada orang laen yang tergopoh-gopoh di belakangnya bawain tas gede isi raket dan tetek bengek laennya.

Hmm... whatta sport.
Walau gitu, gw tetep salut sama pemain tenis yang bisa nonstop sekian minggu ngikutin serial-tanding tanpa ada pemain cadangan, di berbagai negara pula. Kalo pertandingan laen macem sepak bola, balap, ato bahkan golf kan gak tiap hari dan minggu maen. Apalagi kalo punya pemain pengganti.

Biarpun manja, ternyata mereka tangguh juga kok.
Anak manja yang borju tapi tangguh?
Probably... ^_^

___________________________________
[on ears] 5 for fighting – If God Made You

Tuesday, May 06, 2008

CAN'T LET GO

Gak niat sih, posting 2 times in a row ttg musik, tapi mendadak aja gara-gara lagi boring, trus buka YouTube dan nyari klip musik penyanyi ini yang ‘Coffee Shop’ malah dapet juga single yang laen yang berjudul “Can’t Let Go”.

Not a special song esp. to me (despite of the goodlooking singer ^_~), sebenernya. Hanya saja pas denger lagu ini, mendadak gw teringat pada seorang teman dan ‘cerita-cinta’nya.

Well...
Gak nyalahin ato bermaksud memojokkan ato... entah apalah sebutannya itu siih.
Hanya terlintas bayangan temen gw itu saat mendengar lagu ini (walau tetep gak menggantikan bayangan si penyanyi aslinya lagu ini kok, haa!).

Somehow, it suits him very well (the song, i mean, not the singer!!)
Just listen to it, and y’all know what i mean ^_^V


.Can’t Let Go.





Well you’re the closest thing, i have
To bring up in a conversation
About love that didn’t last.
But i could never call you: mine,
Cause i could never call myself: yours
And if we were really meant to be,
Well then we’ve just defied destiny.
It’s not that our love died,
It’s just never really bloomed.

No i can’t let go, no i can’t let go of you
You’re holding me back without even trying to.
I can’t let go, i can’t move on from the past
Without lifting a finger you’re holding me back.

And then we saw our past, diverge
And i guess i felt okay about it.
Until you got with another man,
And then i couldn’t understand
Why it bothered me so,
No we didn’t die, we just never had a chance to grow.

And it might not make much sense
To you or any of my friends
But somehow still you affect the things i do.
And you can’t lose what you never had
I don’t understand why i feel sad
Everytime i see you out with someone new.


@landon pigg@


_____________________________________________

O dear friend,
If only you read my blog, just want you to know that you should listen to this song, it suits you. Whatever defense mechanism you’re trying to apply to yourself, just admit it: You still can’t let her go. Still can’t move on from the past.


Hmm...Dan kenapa klo udah pada kehilangan, larinya ke gw sih?! *sigh*

(curhat colongan eeuuy!!! Hahahaha!!!)

Friday, May 02, 2008

A Clever Clip


Udah 3 kali dalem sehari kemaren, gw menemukan vidioklip ini di salah satu channel musik. Ternyata emang baru rilis tanggal 1 Mei 2008 kemaren. Gak cuma versi full time-nya, tapi juga kilasan iklan kampanye sosial channel musik itu bareng salah satu badan sosial dunia.

From the moment I saw the clip, I was shut in silences just to connect all the dots that clip really trying to say, and in the end, I was amazed.

Harus gw acungin jempol.
Klo gw punya sepuluh jempol, mungkin kesepuluh-sepuluhnya gw acungin.
Gw gak tau sih, ini vidioklip yang bikin adalah si band yang bersangkutan ato channel musik itu sendiri buat kampanye EXIT-nya itu. Yang jelas, pesan yang mau disampaikan, ngena banget.

Makes me realized, something really cost more than you’d ever think.

Dan yang lebih mengejutkan, bahasa Indonesia (atau melayu?) turut terdengar didalamnya (“heh, c’mon! Ayo Bangun! Bangun!”). Hanya saja, bukannya membuat gw bangga, malah bikin gw malu.
Well, ternyata Indonesia (dan negara Asia laiinya, tentu) tidak menyia-nyiakan sumber daya yang dimiliki termasuk anak-anaknya, sepenuhnya dieksploitasi dan diperdagangkan. Ckckck....

Enjoy the clip, may it strucks you to the bones.




I’m the next step
Waiting in the wings
I’m an animal
Trapped in your hot car
I am all the days
That you choose to ignore

You are all I need
You’re all I need
I’m in the middle of your picture
Lying in the leaves

I am a moth
Who just wants to share your light
I’m just an insect trying
To get out of the night
I am still with you
Because there are no others.


@ all i need.by.radiohead @
____________________________
*sigh* band yang satu ini (radiohead) emang paling pinter bikin lagu yang menyayat hati. So dark and pain. Apalagi klo liat si Thom Yorke (vokalisnya) nyanyi, aiiih... bener-bener kayak orang ‘sakit’, hehhe.

In Rainbows, is definitely my ‘next CD to buy’.

Monday, April 28, 2008

A Tattoo

Ngikutin serial Miami Ink ato LA Ink, bikin gw terkagum-kagum dengan keputusan seseorang untuk memilih menusukkan aneka jenis jarum entah-ke-bagian-tubuhnya-yang-mana, demi menyegelkan suatu bentukan karya seni di situ.
Definitely a WOW.

Dan karya yang dihasilkan? Ckckck... magnificent.
Bahkan sekarang, a portrait tattoo lagi beken-bekennya. Dan gambar yang dihasilkan, totally mirip dengan potret aslinya. Hebaaat...

Beberapa waktu lalu (laluuuu buanget dah), saat gw di Bali, gw pun mendapatkannya (sebuah tato maksud gw), tapi tentunya yang temporer. Dengan tinta hitam yang menyerap kedalam kulit dan menimbulkan rasa geli-geli yang samar (gak gatel-gatel amat siih, tapi tickling)
Berhubung gw sangat menyukai bintang, gw pun mendaulat si perupa tato itu untuk menggambarkan hiragana jepang yang berarti ‘bintang’ (=hoshi) di belakang leher gw (tengkuk).

Hasilnya?
Well... walau gw gak yakin si perupa itu melukiskannya sesuai arah pasti pembentukan hiragana (dan entah apakah berarti sesuai harapan gw), gw cukup puas. At least, saat menarik rambut tinggi-tinggi, bentukan itu akan menyembul dan ditonton gratis oleh banyak orang yang jalan di belakang gw, hehe. Cuma tahan 2 mingguan (sebulan kalo gaya mandinya niru capung) sih, dan ujung-ujungnya menyisakan lunturan warna coklat yang enggak banget dah. But well... it’s worthed.

Saat mengetahui itu, temen gw protes, “tanggung amat sih?! Yang permanen skalian ‘napa?”
Sontak, bayangan gw akan jarum berisi tinta yang ditusuk-tusuk ke tubuh berkelebat dalam kepala.
Dan jawaban gw saat itu?
“waah, gw belum cukup masokis untuk melakukannya.”

Tapi walau begitu, kalo berandai-andai punya tato (tentunya saat itu, gw sudah mengembangkan kepribadian baru bernama masochism), gw pastinya akan lagi-lagi memilih bentuk bintang. Like i said before, gw sangat adore dengan bintang. Ya bentukannya, ya filosofi si bintang itu sendiri.
Cuma, biar gak terlalu kaku, mungkin gw bakal menggambarnya bagai starfish, dengan tulisan kurus kecil hiragana hoshi mengisi ruang kosong bagian tengah bintang itu.
Ukurannya gak perlu gede-gede. Dan letaknya? Ada dua pilihan sih, di pergelangan tangan kanan bagian dalam, atau kembali di bagian belakang leher (tengkuk). Warnanya? Gw belum meyakinkan diri gw akan warna apa yang harus dipilih, gabungan merah, biru dan hitamkah?
Hmm... in that case, pastinya gw bakal harus bayar lebih, untuk minta didisainin sama diwarnain.

Ouuuh... bayar mahal untuk merasakan sakit? Well... I’m just not ready for it, yet.
Maybe next time? Yeah... when I already got the guts (and the personality?) to do it!!


well, anyway, here's the tattoo... (walau bleberan dan entah apakah memang begini hiragana hoshi itu digambarkan, hehe)




_________________________________

[onears] a crow left of the murder dari band yang vokalisnya punya koleksi tattoo paling keren menurut gw... (yeayea... incubus-lah yang lagi gw dengerin dan brandon boyd-lah yang gw maksud vokalis bertato keren itu! ^_^V)

Thursday, April 24, 2008

blog-o-holic me


a..ha... *manggut-manggut*
baru menyadari kalo gw sudah memiliki banyaaak sekali account di banyak provider blog gratisan. either itu yang secara aktif diisi postingannya, sampe ada yang niatnya buat nge-take alamat blog, tapi gak pernah di-update, hehehe.

eniwei...
gara-gara ini (punya blog banyak dan suka apdet dongengduniakecil begitu sering) temen-temen gw bilang, gw mengidap blog-o-holic kronis yang susah disembuhkan. mereka bingung aja, "segitu banyaknya blog yang lu punya?! buat paan siih? kurang kerjaan loeh?"
yaa.. gimana yak? gw juga bingung jawabnya. nagih kli yee??
klo temen kantor gw bikin blog buat sosialisasi (saking seringnya dia blogwalking dan menjalin jejaring), klo gw bikin blog simply buat ber-ekspresi. kadang kepala sama 'ati suka keberatan dan butuh dikucurin sedikit-sedikit, biar gak luber ato malah sesek.


how many blogs do i have??? let's count them all then!

1. blog.friendster? check!
2. blogspot? check! (i even have 2 accounts and 4 addresses there, hehe. exclude blog kantor tuh)
3. wordpress? check! (got 2 addresses as well)
4. livejournal? check!
5. blogdrive (ato blogsome yaak?gak pernah diupdate siih!)? check!
6. myspace? check! (walau sudah angus gara2 bikinnya pake hotmail, trus lupa username ma passwordnya)
7. multiply? check! (walau gak pernah diakses sama sekali)

hmm....
any other provider blog? mungkin gw akan berpartisipasi jadi membernya juga, hahaha...

tapi gw punya alasan kenapa gw bisa bikin account segitu banyaknya, karena tiap blog yang gw bikin di tiap provider gratisan itu, punya tema yang beda-beda. ada blog khusus musik, blog travelling dan yang baru kemaren gw buat adalah blog khusus buat menuangkan isi pikiran gw, mengingat beberapa orang sedikit protes dengan isi dongengduniakecil ini yang makin lama makin bikin kening mengkerut dan perut mual (gilaak, nyelanya hiperbolis amat gw sama blog sendiri). hahaha!

jadii...
buat temen-temen gw yang sedikit protes dengan isi blog gw yang katanya beraaatthhh, mulai sekarang, dongengnya bener-bener dongeng deh alias.... nyantei. hehehee

cheers!

...sedikit intermezzo...