Thursday, November 20, 2008

what i'm doing lately

KIRI

You complete my fate
The world unwinds inside of me
You complete my fate
The halo crawls away
You repeat my fate
Rewinding all we can
You refill my place
You refill my place

Come and save me
Come and save me

You complete my fate
The heavens stroll inside of me
You repeat my fate
Revealing who we are
You refill my place
You refill my place

Come and save me
Come and save me

Believe in me
Drink the wine
Take my hand
Fill me up

Believe in me
Drink the wine
Take my hand
Let me follow

@ MONORAL @

Facts taken from the official myspace of MONORAL


Band website:
http://www.monoral.com
Band myspace: http://www.myspace.com/monoralofficial
Band members: Anis Shimada (vocals), Ali Morizumi (Bass)
Influences: The Beatles, and pretty much everything else since... with a few from before thrown in...
Sounds like: if Radiohead, Pearl Jam, Soundgarden, and portishead all got drunk, had crazy sex and spawned 2 offsprings, they might sound something like MONORAL. Don’t believe us? Give a listen and let us know who your think better compares

Facts taken dari hasil pengamatan subjektif seorang SAIA, (hahaha!!!):

band jepun yang gak kedengeran Jepun-jepunnya sedikit pun. Lebih kayak denger band alternative-rock yang kebetulan personilnya punya darah Jepun (secara emang gak murni orang Jepun gitu, pada blasteran),hihi. Band ini punya vokalis berwajah imuuuuttth banget (terlebih setelah mangkas rambutnya jadi pendek) walau suaranya Rockin’ abis^^, keseluruhan track ditulis in English makin bikin ini band gak kedengeran ‘Jepang’ terlebih pronounciation-nya yang fluently abis (bisa ngomong L!! ^^V) gak kayak orang Jepun ngomong inggris yang kedengeran kayak kumur-kumur dan suka ganti-ganti kata itu.

Musik band ini termasuk dalam kategori “gampang-gampang susah”, maksudnya: gampang denger, gampang inget, gampang ngerti (since they wrote the whole lyrics in ENGLISH), gampang sing-along, gampang goyang-along, gampang diikuti, TAPIIIIIIIII susah buat ngapus dari kepala.
Catchy. Period.

Jujur, gw baru denger ben rok jepun dengan musik yang beginian (yaah, koleksi ben rok jepun gw juga gak banyak-banyak amaat siih), aneh aja musik begini keluar dari dua manusia berdarah jepun (yea, keduanya pun blasteran bukan asli jepun yee?), hehehe....
Lumayan buat koleksi...

Buat yang suka jenis-jenis musik alternative modern rock seperti Pearl Jam ( eh, alirannya pearl jam itu.. paan ya? grunge?masa' sih? *mikir-mikir* grunge tuh paan yaa?^^ ), mungkin akan sangat mudah beradaptasi, karena ini musiknya adalah bentuk paling sederhana dari musiknya Pearl Jam, kalo gw bilang sih... (sok fasih musik gini gw), yaah, pokoknya saat pertama kali gw denger musiknya Monoral, yang gw inget sih hits-hitsnya Pearl Jam, hehe.

Eniwei, gw lagi dalam usaha mendonlot turbulance (the album), walau harus bersabar mendonlot satu per satu lagu ( dalam hitungan minggu... bukan hari!! >,< ) dengan sambungan yang SUMPPAAAAHH!, bikin gw senewen sendiri, was-was mendadak berenti di jalan, hihi. Heran, ini sambungan perlu dipompa dulu apa yeee?! Ada apaaa siiih?!?!

Ah yaa... ada yang punya VIA?! Album baru MONORAL yang baru rilis bulan ini? ato ada yang tau link bagus buat donlot album ini? just lemme know yee.


ps:
tadinya mo kasih link buat denger ini lagu, tapi nyatanya... terlalu sulit bahkan untuk nyambungin diri ini dengan dunia maya itu butuh perjuangan dengan cucuran keringat dan air mata, serta sesak di dada (akibat keseringan ngehela napas lemah)

__________________________
Desperado abis dengan sambungan internet.... gw bahkan kesulitan buka gmail. Ini yg salah sambungannya apa jalur khusus ke kompi gw sih yang senewen ama gw???

Friday, November 14, 2008

Tentang Sebuah Film: "Moon Child"




Prelude:

Belom pernah ya gw review film ini? hehe.... film yang dengan suksesnya membuat gw bengong untuk beberapa saat hingga seksi credit title berlalu sekian menit, dan gw masih bengong dan berpikir, “ini.... udahan kaah? Ato masih ada part laen yang gak diupload pemilik channel?!”
Ciiih, bukan gw sebego itu, hanya saja... rasanya kok kurang ‘KLIK’ gitu loh. Nanggung tapi kok kurang banget yaak?? Bukan nanggung dong judulnya ya?

Eniwei, first time ever seen this movie sebenernya lewat sekian belas part yang disediain free lewat KamuTabung sekian taon lalu, yang sayangnya, channelnya itu entah nampaknya dihanguskan oleh KamuTabung.
Pada saat itu, gw tengah penasaran-penasarannya sama ini pelem, sampe ngebela-belain nongkrong di warnet deket rumah yang padahal, punya loading sumprit lama banget, dibanding di kantor. Maunya sih, nonton di kantor, tapi aji gile... line internet bisa down seketika dan gw dipecut IT gw itu sih pastinya (eh, saat itu, masih ada si Bos deng)
Karena lama nian itu, maka gw menonton ini pelem tidak dalam urutan yang semestinya dan lebih milih adegan-adegan yang ada hydenya (gimana taunya klo gak ditonton yaa?), lalu memilih untuk benar-benar nonton 2 part depan, 2 part tengah dan 2 part terakhir.

Naah, gw berpikir, karena gw nontonnya ngaclok ini, maka gw pun berakhir naas begitu.
Makanya, setelah membulatkan tekad, gw pun purchase pelem ini lewat sebuah situs (apalagi tambahan keterangannya yang bilang 3 CD terakhir berisi interview, behind the scenes, dan promosinya, GYAAAHHH >.<) Begitu pelem itu datang, langsung tanpa mikir panjang gw setel malem-malem, ndepis di pojokan kamar, dan muasin diri dengan layar kompi kecil plus burem, demi memuaskan gw mengubah nasib naas itu.


Dan nasib gw akhirnya ....

Cerita tentang pelem ini

Eniwei, pelem ini mengambil setting di taon 2000 – 2014 sampe 2045 bertempat di Mallepa (gak tau ini kota beneran ada ato kaga siih), yang dengan kocaknya tidak tergambarkan dengan jelas dan real keadaan di taon itu. Kebayang lah seperti apa taon 2045 itu? Pasti super tekno bukan? Tapi kenapa gw berasa liat pelem-pelem mandarin taon 80an yaak??? Kyahahaha!!!

Ceritanya.... walau gw gak gitu-gitu paham bener, ini sebenernya tentang persahabatan manusia dan vampire, yang diramu sedemikian rupa sehingga tidak bisa tidak dibilang tidak ciamik nya... (mampus loo!!) , dengan masalah imigran Jepang-Taiwan di Mallepa itu. Pokoknya klo kata gw, mallepa ini, sepertinya daerah slump gitu lah, yang kumuh dan perang antar ras itu udah biasa, tingkat kriminalitas pun tinggi. Nah di kota ini lah muncul seorang vampire cantik bernama Kei yang diperankan dengan sangat tidak sukses oleh seorang Hyde (walau sukses di part cantiknya, bukan vampirenya,hehehe).

Pada suatu ketika, Kei yang ditinggal mati (bunuh diri sih) temen vampirenya (gw lupa namanya siapa), melanglang buana sendirian, hingga 14 taon kemudian (2014), Kei yang lagi setengah berharap mati ditemukan oleh seorang berandalan cilik bernama Sho yang abis nyuri sekoper duit dari seorang penjahat. Nah, berhubung kasian, ini anak pun membawa si vampire Kei ke gudang persembunyian dia dan 2 orang saudaranya. Disitu, Sho baru tau kalo Kei adalah vampire, setelah Kei dengan sadisnya (engga sadis sih, malah kayak orang dungu lagi mangap dengan ceceran tinta merah di mulut, HAHAHA!!) menghisap darah si penjahat yang duitnya tadi dicuri Sho cs.

Dari situlah persahabatan Sho-Kei berawal.

Sho dewasa (diperankan oleh Gackt), tumbuh jadi preman pasar^^, yang dengan bantuan Kei, berhasil menjarah duit dari penjahat-penjahat Taiwan. Jadi mutual relationships gitu, si Kei bantuin dia jadi preman tangguh, nah si Sho nyediain makanan buat Kei berupa penjahat-penjahat itu.
Nah, suatu ketika, si Sho ma si Kei yang lagi beroperasi, ketemu sama.... hmmm namanya siapa ya?? Ye-Chen klo gak salah, yang diperanin sama Lee Hom Wang (yang ganteng bangeeet T_T), yang ternyata juga memburu penjahat yang sama dengan alasan beda, yaitu bales dendam pemerkosa adiknya. Sebelomnya, adeknya ini ketemu sama Kei di taman dan cewek itu suka sama Kei... (who’s NOT?!)

Later on, mereka malah jadi sobatan deh: Sho, Kei, Ye-Chen, Toshi, en Ye-Chen sister.

Sampe satu ketika, saat Ye-Chen sister lagi pesta launching lukisannya di sebuah taman, terjadilah insiden baku tembak yang mengakibatkan Toshi mati. Kei yang ngebela-belain hadir walaupun disengat sinar matahari di tengah hujan deras, membalas kematian si Toshi dengan menghisap darah penjahat itu sampe abis, di depan semuanya, naah... Ye-Chen Siblings itu kan gak tau klo Kei itu vampire, dan baru tau itu disitu.

Setting mendadak ganti ke taon... 2025
Sho nikah sama Ye-Chen sister (walo sbenernya si Ye-Chen sister itu sukanya sama Kei), punya anak cewe , jadi penjahat kelas kakap. Dan Ye-Chen cowok, jadi gangster di gang Taiwan. Dan mereka saling benci, saling berantem, musuhan deh.

Dimanakah Kei?
Di penjara (kok bisa?!)
Awalnya gw gak ngerti gimana si Kei bisa di penjara, dan gimana kok temen-temennya gak peduli. Tapi ternyata, si Kei itu menghilang dari temen-temennya, begitu kata Sho yang nengokin Kei di penjara setelah liat berita Kei di tipi (dan tipinya bukan LCD ato hologram gitu kek...ckckck... yakin tuh taon 2025?!)

Nah, di cerita si Sho ama Ye-Chen cowok yang saling bermusuhan itu, gank Ye-Chen nembak mati satu lagi sodara Sho, bikin Sho makin berang dan bersumpah balas dendam, tapi gak kesampean, karna si Ye-Chen cewek terjangkit kanker otak dan sekarat.

Saat Kei mau dijatuhi hukuman mati, mendadak Sho nelpon Kei di penjara dan minta tolong Kei menemaninya di tengah ia menghadapi cobaan idup (ciiieeh), lalu Kei pun melarikan diri dan menemui si Sho, nengok Ye-Chen cewek di rumah sakit. Lalu mendadak si Sho ngajak Kei nemenin dia melakukan revange pada Ye-Chen cowok.

Sebelum baku tembak, si Sho bilang, “klo ada apa-apa, tolong jaga anak gw ya.”

Baku tembak pun terjadi antara Sho dan Ye-Chen, namun saat duel ini terjadi, Sho membuat jarak agar Kei gak bantuin dia dengan menembak atap, jadi sinar matahari menghalangi mereka (aiiih....).
Lalu Sho yang udah gak punya niatan idup pun memutuskan untuk tidak menembakkan pistolnya, dan memilih mati dengan peluru Ye-Chen menyarang di dada (huhuhu...). Ye-Chen yang tau itu langsung marah pada Sho, dan Kei yang kalap liat Sho terkapar pun membabi buta meletuskan pistol ke Ye-Chen.

Mendadak taon jadi 2045 (masiiih juga bentuk kotanya gitu-gitu aja, aneeh)
Anak si Sho udah gede dan dapet beasiswa belajar lukis ke luar negeri. Kei yang jadi pengasuhnya, berpisah dengan si anak ini di taman. Setelah ia pergi, Kei menghampiri seseorang.... ya sudah pasti, SHO!
Dengan egoisnya, Kei mengubah Sho jadi vampire.

Lalu Kei ngajak ke pantai.
Di jalan, Kei bilang, “capek, pengen tidur”

Layar ditutup dengan mobil yang tidak lagi diisi oleh dua vampire, di tengah matahari terbit.

SELESAI....
Haaahhhh..... *legaaaaaa*



Overall...

Menurut gw, ini pilem kga mutu yang dimutu-mutuin pake senjata 3 pangeran oriental bernama Hyde, Gackt dan Lee Hom Wang.
Ciiih... klo gak karna 3 laki-laki itu, mana gw rela beli ntu pisidi?!

Gw gak ngerti deh, kenapa juga klo emang mo ngangkat tema persahabatan, kenapa kok musti loncat-loncat taon yang malah jadi terkesan kayak klip film kebanding satu kesatuan cerita ya? jadi gak ada jiwanya.

Dan kenapa si Hyde menginterpretasikan vampire jadi caleuy (letoy) gitu!!! Padahal di awal, udah bener tuh: rambut panjang acak-acakan, muka serem. Eh, tengah-tengah jadi vampire dandy, yang kurus bak papan penggilesan dan caleuy. Kenapa jaketnya selalu memperlihatkan 2 bahu mulusnya ituuhh? Dan kenapa harus bungkuk kayak kelaperaan?!!
Dan instead of terlihat seperti vampir yang kesakitan kena sengatan matahari, kenapa gaya kesakitan Hyde malah kayak yang... ehmm.... having a big O (orgasm... ihik, kan jadi gak konsen, ngebayangin yang enak-enak bareng dia *pikiran mesum mode: SUPER OOOOONNNNNN!!!!!!!!!* KYAAAAAAA!!!!!!!!! ^^V)
Aduuh, Hyde, do me a favour... just stay on the stage yaa... tetap di jalurmu yang benar saja, nak: MUSIK.

Soal Gackt...
Hmm, lumayan sih aktingnya. No more to say.

Lee Hom Wang?
What can I say? He’s just perfect, walau perannya dikit dan sedikit lebay, hihi. Tapi dia selalu jadi idola dari daratan Taiwan, bagi gw...^^V

Yaah...
Dari segi cerita aja udah aneh dari depan.
What do you expect coba?
Berakhir spektakuler?! Hahaha... terima ajalah.

Dan bonus yang gw dapat.... TIDAK BER-TEKS INGGRIS MAUPUN BAHASA NON GAMBAR LAINNYA. Gilaa!!! Satu-satunya yang gw paham hanyalah komentar Lee Hom Wang yang begitu manusiawinya interviu pake bahasa Inggris yang fluent abis (udah ganteng, pinter bahasa inggris lagi, anak siapa siiihh *jembeng-jembeng pipi Lee Hom Wang*)

Yaah, mungkin klo ini pelem tidak dibintangi 3 pendekar oriental itu, gw tidak mungkin nonton, walaupun diulang ratusan kali di channel Celestial, HAHAHAH!!!

Intinya: it’s A SHIT movie^^
Gilaa, gw baru nyela salah satu hasil kerja keras Hyde!
But, i’m being objective here.
Andai itu cerita lebih fokus ke kehidupan Kei dan bagaimana sebuah persahabatan mengubah hidupnya maupun hidup Sho, tanpa bumbu aneh-aneh maupun cerita ngalor ngidul yang malah ngurangin emosi didalamnya, pasti itu pilem jadinya bagus.
Jadi gak sesuai aja soalnya sama judul “moon child” itu sendiri.
Sampe akhir, gw gak tau kenapa judulnya “moon child”, apakah karena vampire? Tapi toh kehidupan Kei hanya pemanis buatan kok.

Moral yang bisa diambil dari pelem ini:
“jangan bersahabat dengan vampire, kecuali vampire cantik bernama Hideto Takarai, KKYYAHAHAHAHA!!!”

____________________________
Kickin the ears: orenji no taiyou
(mungkin, hanya OSTnya yang bagus ini film..hahahah!!! dan suara seksi Gakuto ituuuh...ckckck...)

Dengerin deh, lagunya enak kok, nyantei... *promosi mode: ON*


Thursday, November 06, 2008

Wandering at the SEASHORE

UMIBE
by L’Arc~en~Ciel

Yawaraka na sono hoho e to furete

Yasashii jikan ni hitasarete itai
Mou ichido ano umibe ni modori
Tada nanigoto mo nakatta ka no you ni


Kimi no koe ni kizuki mo sezu kisetsu wa sugisari
Kataku omoi maku wa orita yo
Sayonara mo nakute


Yoki senu hodo ni kage wo otoshita
Irozuku mae ni tsumitorareta kajitsu
Fui ni kokoro wo some agete yuku
Maru de jikan ga modotta ka no you ni


Kimi wa ureshisou ni hashagi umibe ni tokeai
Mabushisugita hizashi no naka wo oyoide itta
Ikura saigetsu ga sugitemo kioku wa kizamare
Kesshite kiezu ni boku wo nayamasu


Yurusareru no nara hohoemi kakete yo
Yurusareru no nara
Ano natsu made aruite namiutsu sunahama e to kaerou


Kimi wa ureshisou ni hashagi umibe ni tokeai
Mabushisugita hizashi no naka wo oyoide itta
Kono michi wo tooru tabi ni kimi ga tsukisasaru yo
Maru de mune kara nagareru you ni afure dasu


Translation (secara harfiaah):
SEASHORE
L’Arc~en~Ciel

I reach towards your soft cheek

Wanting to be soaked in that gentle time
To return to that beach once more
As if nothing had happened


The season passes without hearing your voice
A solid, heavy curtain has been lowered
Without even a goodbye


I was unable to anticipate the shadows that fell
A fruit plucked before it ripened
Suddenly my heart is filled with it
As if I've gone back in time


You seemed so happy as you frolicked, melting into the beach
You swam away in the too-bright sunshine
No matter how many years pass, it's etched into my memories
It torments me, never to disappear

If you can, smile at me
If you can
Let's walk along the shore back to that summer

You seemed so happy as you frolicked, melting into the beach
You swam away in the too-bright sunshine
You pierce me every time I go down this road
Spilling out as if you're flowing from my heart

.........................................
Cerita Tentang Lagu Ini:

Enga enga, gak akan cerita bagaimana seorang hideto takarai mendapatkan inspirasi untuk menulis lagu ini, gak juga mau ngebahas Laruku kok (“Yooloh!!! Keajaibaaann!!!!” *sembah sujudlah sesegera mungkin^^*)

Eniwei, mendadak teringat lagu ini, lalu menyuntikkannya kedalam kalbu lewat kedua telinga ini dalam dosis melebihi takaran normal, setelah gw kembali menelusuri untuk menghapus inbox SMS yang mulai melewati limitnya, lalu terpaku pada sebuah SMS yang dikirim oleh seorang teman dari masa lalu.

SMS yang sungguh singkat, padat namun meninggalkan satu tanda tanya besar.
Sangat besar sejujurnya.
“had I done something wrong? Had I said something bad?”

Tapi pertanyaan itu tidak gw sampaikan pada dirinya, karena bila itu yang terjadi, maka dengan serta merta dia akan membalas, “kga napa2!” ato “lo sensi amat sih?!”, intinya adalah tidak akan mengakui apapun, walau tetap dengan berlaku dingin.

Atau mungkin memang tidak ada apapun? Memang hanya gw yang berhalusinasi dan menciptakan ilusi? Tapi mengapa begitu terasa tarikan garis itu? Atau memang seharusnya memang begitu?

Akhirnya, gw pun memutuskan untuk memainkan permainan yang dia mulai. Membantunya menarik garis lebih tebal, lebih dalam dan lebih panjang diantara kami berdua.
SMS itu, seperti akan menjadi SMS terakhir yang gw layangkan pada dirinya.

Sedih memang bila harus melepaskan sesuatu.
Rasanya aneh aja.
Bukan merindu, hanya kehilangan.

Tapi lalu merenung sendiri, “ne! somehow, I get used to it!”^^
Kehilangan.
Gak pengen terbiasa. Karena bila terbiasa kehilangan, hati jadi sulit merasa dan lama-kelamaan, bikin kita sediri jadi gak care sama orang lain dan berpikir, “well, anyway toh dia akan pergi juga.”
That is something I don’t wanna feel.

Lewat postingan ini, gw cuman bisa bilang pada dirinya, “Sumimasen”.
Maaf.
Entah mungkin gw tidak menyadarinya. Mungkin juga gw tidak mau berusaha untuk memahami dia dan situasinya? Mungkin sudah menyusahkan?
Entahlah.
Walau dia tidak mungkin membaca blog gw, tapi at least, gw sudah melimpahkan isi hati gw yang selalu berkecamuk bila membaca namanya di daftar kontak ponsel, lalu diliputi keraguan, telpon...engga...telpon...

Ja...
Seperti satu bait kutipan dari lagu UMIBE....

"Kimi no koe ni kizuki mo sezu kisetsu wa sugisari. Kataku omoi maku wa orita yo Sayonara mo nakute"
...The season passes without hearing your voice. A solid, heavy curtain has been lowered Without even a goodbye...

That’s how I feel. That’s what happens between us.

Sayonara, ne....
_______________________________

ps: gak niatan sebenernya mo mellow jellow gini, tapi tiap denger lagu ini, sedikit susah untuk gak jadi mellow dan kasuat-suat, terlebih.... penghayatan seorang hyde yang bikin gw pengen nangis bareng dia di pantai sambil menikmati matahari terbit diiringi lagu ini. Setelah itu, kita berdua sama-sama pergi menuju arah yang berbeda... aiiikkkkkhhh....... *tetep musti cuci otaaak!!!*

Tuesday, October 28, 2008

My ‘Another Frenemies’: Headphones



Beberapa waktu lalu, baca berita ini di salah satu majalah wanita kosmopolitan (yaah, ketauan deh) terbitan bulan lalu sepertinya. Berita itu bunyinya kurang lebih begini....
“headphones yang sering kalian pake untuk mendengarkan MP3 player ato player laennya, percaya ato enggak, mengandung 700kali (ato juta?) bakteri jahat...”


Eekkss!!! ‘@,@’ [*klontaaaanggg*]

Sedetik setelah baca itu, gw pun menatap headphones HP gw yang masih menggantung-gantung di leher, dengan satu alis terangkat dan tatapan sedih. Maklumlah, dia adalah benda paling berjasa dalam memompa adrenalin gw tiap pagi dengan mengalirkan beat-beat tinggi ke kedua telinga gw. Daan, itu terjadi setiap hari. 365days. Kalo gak gitu, bisa dipastikan mood gw akan terombang-ambing layaknya sampan mungil ditengah lautan lepas. And I bet you wouldn’t want to mess-around with me ^_^V

Lalu gw teringat lagi akan headphones super-ear-sealed (layaknya headphones buat rekaman di studio gituuh) yang dengan setia menempel di kedua telinga selama 8 jam gw mengabdi di depan komputer (gawe maksudnyaaaahhh) dan mengalirkan percikan-percikan energi ke tubuh gw.

Kalo diitung-itung, jadinya udah berapa banyak bakteri yang berkembang biak dalam tubuh gw yaa??

Aaaakkkhh!!! Tidaaakk!!!!!
Haruskah gw menanggalkan mereka semua demi terbebas dari bakteri?!! >,<

Sekian detik berlalu setelah gw memikirkan hal itu (menanggalkan headphones selamanya), dan gw pun kembali menyumpal kedua telinga gw dengan bantalan hitam yang mengalirkan percikan energi itu.

Maaf!!
Berhubung saya SUDAH sakit (mentally illness lebih tepatnya ^_~ V), maka dengan ini diputuskan bahwa saya TIDAK akan peduli dengan 700juta ato 700 trilliun bakteri yang nempel di headphones dan kemungkinan besar mereka bertransmigrasi ke tubuh gw lewat kedua telinga ini.

KISS my F#@#$ A^^ (eeh, EARS yaa??) dear bacteries!!!
Kyahaha!!

______________________________
Kickin’ the ears: masih Laruku (kali ini gabung sama koleksi anime^^) - - - ini adalah usaha gw buat terbiasa dengan bahasa Jepun, sebelum gw memasuki sebuah rumah dan digodok habis-habisan disana dengan huruf kanji, KYAHAHAHA!!!! [ketawa devil mode: SUPER ON]
Oohh, Jangan galak2 ngajarnya yaaa.... *inget HYDE, Ken. Inget HYDE. 2011 ketemu HYDE. Pasti kamu BISA!*

Friday, October 24, 2008

Facebook: my worst frenemie


“Mba, buka ‘napa Facebook-nya?!” celetuk cewek mungil yang berprofesi sebagai penjaga gawang Aquarium tempat gw kerja (haa, gw kerja di toko Aquarium sepertinya....^_^V), di suatu siang.
Yang terlintas di benak gw cuman, “haruskaaahhh???!!!”
Bukan berarti ‘haruskah gw membuka Facebook’ itu, tapi lebih tepatnya adalah, ‘haruskah gw membuat komputer gw hang dan kehabisan memory hanya karena gw buka Facebook??’, begiiitthhhoo.

Entah sejak kapan, komputer gw emang melakukan permusuhan besar-besaran dengan Facebook. Bilamana gw membuka situs yang satu itu, maka window-window lain akan mengalami kelambatan proses yang amat drastis, lalu bila kasus ini didiamkan hingga lama, maka bisa dipastikan komputer gw akan hang –sengehang-ngehangnya daaaahhh-, dan itu berakibat gw tidak lagi mampu membuka YouTube, maupun menulisi blog ini.

Maka pilihan yang ada buat gw adalah:

buka facebook dengan konsekuensi gak bisa buka YouTube maupun Blogwalking,

atou

gak buka Facebook tapi bisa puas nongton dan nulis.

So... i choose the last one: ‘gak buka Facebook’

Jadiii... biarpun gw punya account di facebook, gw termasuk orang yang pualiiiiingggg muales untuk melakukan update apapun itu termasuk nyari konco. Maap sumaap daaah.... life is a matter of choice toh? Hahaha.....

Mangkanya lagi, when it comes to facebook, then I’m totally idled.
Bener-bener gaptek abis sama facebook, dan bisa terbengong-bengong dengan notifikasi ato invitation ato request yang muncul di halaman profil gw. Lalu ditengah kegaptekkan gw menceklak ceklik semua icon itu, muncul kotak pesan yang menyebalkan: “out of memory” di layar kompi, dan kompi gw pun pundung gak mau proses apa-apa.
“PUSSSIIINGG GWWW!!!”, gitu tereak si kompi.

Jadi yaaa.... daripada gw bikin kompi ini mbleduk trus gw diamuk sama si IT jutek itu lalu ditendang dari Aquarium ini, maka gw pun berdamai dengan mood kompi gw yang bener-bener mirip sama yang makenya (gw maksudnya), angot-angotan dan bener-bener milih kelancaran sambungan disesuaiin dengan situs yang dibuka.
Herannya, giliran gw donlot aja, ini kompi sangat bersahabat, bekerja cepat dengan sambungan yang lancar beeng, bikin gw sedikit merasa tidak bersalah sama sekali, gyahahaha!!!!

Oooh, Facebook... are you a friend or a foe?

_______________________________________

Kickin’ the ears: Laruku – Drink It Down (sering2 kek Laruku bikin lagu kayak gini, hihi)

Monday, October 20, 2008

Pelangi: Sebuah Jembatan..... kah?


Lucu juga.
Gak maksud sih mau ngebanding-bandingin, tapi pemikiran ini udah muncul sejak kemunculan sebuah band lokal beberapa tahun lalu, namun dengan cepat terhapus dari benak tatkala mengindera band itu melalui pancaindera komplit. Akan tetapi, pemikiran ini muncul lagi saat single barunya muncul beberapa minggu lalu.

Apa coba yang gw bicarain?
Kalo ada hubungannya dengan “Pelangi”, pasti tau dong band lokal sama bukan-lokal mana yang gw omongin itu?

Hm...
Pertama kali denger band lokal itu, dari temen gw yang kebetulan banget selalu nonton band ini sebelom band ini ngeTOP. Komentar gw, “NIJI???!! Laruku?!”
Temen gw bilang (entah emang begitu adanya ato ini hasil karangan temen gw), “iya, terinspirasi dari lagunya Laruku, mereka emang suka ama band itu, tapi musiknya sih Britpop gitu kok. Cenderung Radiohead gitu.” [walau saat gw liat mereka sih, gw bilang bukan Radiohead, tapi Coldplay, terlebih cara vokalisnya si Giring itu nyanyi... alamaak... Chris-Martin-wannabe yaak?? ^_^]

Saat mendengar cerita temen gw tentang band-lokal itu, gw mendengus geli dan membatin, “gak cukup apa satu band-lokal penjiplak band asal Jepang itu muncul disini? Asal jangan ujung-ujungnya nolak disamain aja, kayak nasib band-lokal-penjiplak-tapi-gak-mau-ngaku itu” (padahal gw suka juga ma Jerok, tapi kenapa mereka musti banting tulang ngebantah disamain kalo pada dasarnya emang mirip sama band Jepun itu yaak?? Bukannya berterimakasih udah ngasih inspirasi, malah sok2an gak mau dibandingin.)

Eniwei, back to the topic daah...
Udah tau dong, siapa yang gw bicarain?
Ehum, “Niji” dan “Laruku”. Walau mungkin aliran musiknya beda, tapi secuil fakta membuat mereka cukup mirip, dan lucunya, semua dinaungi oleh satu kata: “Pelangi”, makanya gw bilang “pelangi itu jadi seperti jembatan”. Begini nih si “Pelangi” itu menjembatani dua band beda negara, beda dekade itu (mo nyebut beda rupa, gw gak enak ati... ^_^V).....


  • Nama band Rock asal Jepang, “L’Arc~en~Ciel” (ato Laruku~an~Shieru), diambil dari bahasa non-Jepun (Prancis tepatnya) yang arti harfiahnya kira-kira “Ark in the Sky” yang dimaksud adalah “Pelangi”.

  • Nama band lokal, “Niji”, diambil dari bahasa non-Indo (Jepang tepatnya), yang arti harfiahnya adalah “Pelangi” (gak tau sih apakah benar terinspirasi dari Lagunya Laruku juga)

  • Pada taon 1997, L’Arc~en~Ciel mengeluarkan single berjudul “NIJI” yang kemudian dijadikan sontrek sebuah film anime yang bercerita tentang petualangan seorang Samurai, judul animenya “Samurai X”

  • Kurang lebih sepuluh taon kemudian (2008), Niji mengeluarkan single baru berjudul “Laskar Pelangi” yang jadi sontrek sebuah film petualangan berjudul “Laskar Pelangi”

Fakta lainnya? Keduanya termasuk band yang ada dalam list favorit gw, walau kadarnya tentu berbeda 180 derajat, hihi. Mangsudnya, klo “Laruku” gw bela-belain nabung buat beli CD aslinya, klo “Niji” cukuplah gw sedot dari koleksi orang, hihi. Nah, kebaca dong kadar kemaniakan gw akan kedua band itu? ^_^V

Secuil fakta diatas bukan ditampilkan untuk mendiskreditkan satu atau kedua band sih tepatnya, hanya sekelibat terlintas dibenak tatkala denger single Niji yang terbaru itu saat filmnya baru mau rilis di bioskop, “kebetulankah? Atau memang “Pelangi” telah menjadi jembatan musik bagi dua negara yang berbeda?”, hihi...

[Poto diambil tanpa seijin empunya situs: http://www.missouriskies.org/rainbow/february_rainbow_2006.html]
_____________________________
Kickin’ the sights: 15th L’Anniversary dvd hasil bajakan yang cukup menyesakkan karena bagian extranya dipotong... hikkss, belom mampu beli yang asli neeeh, masih dalam tahap nabuungg buat beli smua dvd live Laruku, tapi udah nabung dari sejak gw gawe (berapa taon tuh yak??), kok gak kebeli2 juga siiih!!!... masa’ harus bergantung sama YouTube mulu? Mungkin klo history YouTube gw diperiksa dari taon 2005, isinya laruku semua... khuhuhuhu..... pissu!!^_^V

(note konser2 Laruku: sepertinya, vokalis2 band lokal harus berguru pada papi Hyde cara menyanyi yang benar dengan memBUKA rahang selebar-lebarnya dan menghasilkan vokal yang rapih dan jarang off-note. Hmm.... apa si papi ini juga belajar men-develop paru-paru cadangan ya? secara dia kan chain-smoker, kok bisa2nya dia kuat bersuara begitu??? Walau begitu harus diakui kalo di konser “Theater of KISS”, faktor usia mulai mempengaruhi stamina vokal, i hate the UMIBE version in that concert, walau penuh emosi, tetep gw gak sukaaa... >,<)

Thursday, October 16, 2008

Sebuah Ikatan Abadi


this thread was written on September 28th, 2008 04:23AM (abis sahur bukannya tadarusan malah ngeblog, heraaaannn!!! ^_^)


Malam minggu kemarin adalah malam penuh dilema bagi gw (yaampyuun, kesannya gw nih sibuk banget). No no no, sebenernya hanya kebingungan gw menentukan pilihan antara menghabiskan malam itu dengan nonton DVD (yang menghantarkan gw pada kebingungan lainnya: mau yang manaa?), cek imel, compose sebuah thread, nonton tivi atau yang paling menggoda iman: menghatamkan 3 buah CD yang siangnya dengan penuh napsu gw rampas dari rak 2 buah toko musik (hahaha!!!)
Dan pemenangnya malam itu: sebuah film di salah satu saluran televisi.

Sebenernya, film berjudul “The Forgotten” yang dibintangi oleh Julianne Moore itu bukanlah film baru. Bukan juga sebuah film yang memiliki jalan cerita menarik atau patut diacungi jempol banyak. Akting Julianne Moore sendiri, gw bilang sih berada dalam rating *cukup baik*, gak terlalu waah (walau fokus hanya tertuju padanya), tapi juga gak terlalu memble. Yaa, *cukup baik*-lah.

Yang membuat gw tertarik dengan film ini, simply karena makna dibalik cerita itu sendiri.
Filmnya sendiri bercerita soal Julianne Moore yang kehilangan anak laki-laki tunggalnya dalam sebuah kecelakaan pesawat terbang yang misterius. 14 bulan lalu, anaknya ini bersama dengan beberapa orang anak lainnya, mengikuti program summer camp di sebuah tempat dan untuk mencapainya harus menggunakan transportasi pesawat carteran. Namun di tengah jalan, pesawat itu hilang secara misterius.
Nah, yang bikin lebih misterius lagi adalah hanya Julianne yang merasa kalau ia memang pernah punya anak yang mendadak hilang itu. Baik suaminya, tetangganya, pengasuh anaknya, semua mengatakan kalau si Julianne ini emang gak pernah punya anak. Psikolognya pun bilang, kalo si Julianne ini mengalami apa yang disebut delusi parah. Intinya si Julianne ini mengalami gangguan kejiwaan karena gak punya anak.
Gak terima dibilang gila, maka Julianne pun berjuang membuktikan kalo dia punya anak, dan anak itu sebenernya masih hidup. Apalagi dipertegas dengan ikut terlibatnya NSA (agen pertahanan amrik yang super elite gitu laah) dalam usaha penghapusan memori Julianne akan anaknya itu.
To make it short, ternyata anaknya itu memang diculik oleh makluk ruang angkasa ( oh, believe me, it is a suck-movie) dan tengah jadi bagian dalam percobaan. Jadi yang namanya makhluk ruang angkasa itu lagi mengadakan percobaan soal hubugan ibu-anak. Ternyata satu-satunya yang gak bisa melupakan anaknya, ya si Julianne ini. Berulang kali si robot berusaha, tapi gak bisa. Termasuk dengan mencuri kenangan pertama kali si Julianne melihat anaknya yaitu saat kelahiran. Tapi si robot lupa, kalau hubungan ibu-anak sudah tercipta jauuuh sebelum anak itu sendiri lahir.
End of story, percobaan itu gagal dan Julianne kembali mendapati anaknya, walau yang tahu persis kronologi kehilangan itu hanya Julianne sendiri.
Happy ending. Period.

Terlepas dari jalan ceritanya yang cenderung gak masuk akal dengan keberadaan Alien yang menculik anak laki-laki tunggal si Julianne Moore itu, cerita ini memang punya makna tersendiri.

Kenapa dari 6 orang anak yang diculik itu, hanya Julianne yang masih memiliki ingatan kuat akan anaknya, sementara orang tua yang lain tidak? Jawabannya terletak pada emosi dan cara Julianne menjalani masa kehamilannya. She embraces the new life within her, she embraces the whole experiences of having a baby. No complaining, no sighing. She really enjoys every sip of the nine months of misery.
Dari situ gw belajar kalo kekuatan hubungan ibu dan anaknya itu dipengaruhi dengan bagaimana seorang calon mama menghadapi kehamilannya itu sendiri. Semakin ia menikmatinya, semakin kuat ikatan itu terjalin.

Hmm...
Sesuatu yang cukup sulit untuk dilakukan bukan?
Maa, I’ve no idea about it, karena memang belum merasakannya dan belum memiliki obsesi untuk menjalaninya. But, justincase gw memutuskan untuk settling down and have a baby, then I shall remind myself to re-read this thread, hahaha.

Selesai film itu, gw langsung nengok ke nyokap gw yang tergolek di sofa, kecapekan abis ngurus rumah dan masak buat buka puasa.
“I love you, Mom”, that’s all I could send her thru a gently wishper.

_____________________________
Kickin’ the ears (saat bikin thread ini) : Link (Kiss Mixed) by Laruku (agaaaaiiinn..... ^_^V)

Monday, October 13, 2008

Laruku: Terbukti Aman Dikonsumsi




Buat yang berpikir Laruku itu sejenis makanan atau minuman, harap perbaiki pengetahuan diri dengan mengetikkan kata itu (Laruku) di search engine atau kolom search di Wikipedia, dan temukanlah pengalaman menyegarkan didalamnya.
I’m not gonna tell you why it’s sparkling up ur day, just search it now.

Anyway, setelah mendapatkan sekilas info tentang Laruku, silakan lanjutkan membaca thread ini, hihi.

Oke, kenapa gw bilang Laruku: Terbukti Aman Dikonsumsi?
Jawabannya memang ada di seluruh track yang sudah diedarkan band Rock asal Jepang ini ke seluruh penjuru dunia.

Beberapa waktu lalu, gw baru menambah koleksi band yang satu ini dengan album terakhirnya KISS yang masa expired-nya diperkirakan pada tanggal 20 November 2011 (20112011?), yang artinya… gw harus puas menikmati Laruku lewat hasil rekaman studio-nya doang tanpa benar-benar sukses menikmati mereka secara LIVE di depan mata gw sendiri (bukan sebatas lewat YouTube yee).

Anyway, gw tidak akan repot2 membahas isi dari album ini, karena sudah banyak dilakukan di planetblog ini, jadi silakan sekali lagi di-search dalam google blog search, dan kalian akan menemukan banyaaak sekali review tentang album ini (KISS).

Sedikit selipan pujian, I like it, thou I have to put an extra effort to really listen to it. Since I listened to it in the middle of my sleeping time, hihi. Gak nyangka aja di kepala 4, Laruku masih bisa unjuk kehebatannya. Gak tau deh, gimana nasib live performance-nya dengan usia seperti itu. Walau kalo liat physical appearance sih, mereka gak kalah sama yang usianya setengah jalan dari mereka (terlebih si papi Haido-sama ya?)

Maa, harus gw akui kalau ketertarikan gw dengan musik Rock Jepang berawal dari band ini. Dan harus diakui juga, kalau dari beberapa band Rock Jepang lain yang udah gw dengerin, gw akan kembali ke selera asal. Lagu-lagunya Laruku.

Lagu pertama yang bikin gw notice sama band ini adalah Niji, yang jadi soundtrack Samurai X the movie. Padahal, di serialnya juga ada OST yang dibikin Laruku (walau cuman buat sekian episode doang), tapi gak sukses bikin gw penasaran sama band yang satu ini, dan memulai pencarian tentangnya.

Setelah mendengar banyak track dari Laruku, gw hanya tersenyum-senyum sendiri sambil melakukan salute.
Menurut gw, Laruku memiliki komposisi yang cukup baik (kalo kata *baik* saja terdengar terlalu subjektif, maka gw tambahkanlah embel2 cukup itu, hehe), bagi sebuah band yang memiliki obsesi untuk go-internasional. Baik dari musiknya, liriknya, kreatifitas jenis musiknya, cara penyampaiannya, skill bermusik tiap personilnya, live act mereka, visual-image tiap personilnya, kelakuannya sendiri, sampe frekuensi dan isi berita yang tersebar tentang mereka, juga komitmen mereka dalam bermusik dalam satu band.
Simply in an exact formula, yang lucunya, gak membosankan.

Band yang satu ini udah beberapa kali hiatus (maksudnya *vakum*), dan masing-masing personilnya sibuk dengan proyek solo maupun maen pelem. Well, apa mau dikata, ‘perkembangan diri amatlah mendukung kesatuan sebuah band bukan?’
Tapi lucunya, setau gw, gak ada band lain yang mampu mengisi kekosongan hiatus mereka. Seharusnya saat hiatus itu, banyak band yang memanfaatkan, lalu nama Laruku hilang tertelan bumi bukan?

Tapi disinilah letak kebesaran sebuah band bernama Laruku itu. Usia boleh udah kepala 4, tapi kemampuan bermusik mereka jauuuh lebih segar dibanding band yang lainnya yang mungkin usianya terpaut lebih dari setengah usia mereka. They dare to drive themselves to the limit (muka mereka juga tetep fresh di kepala 4. heran juga gw, berapa juta Yen mereka keluarkan buat perawatan fisik yaa? ^_^V)

Koleksi musik mereka yang beraneka jenislah yang menurut gw menjadikan Laruku band yang aman dikonsumsi. Apapun jenis musik yang disuguhkan oleh band ini, mayoritas memiliki beat yang enak dan cukup bersahabat dengan telinga. Menurut gw, Laruku pun jadi pilihan awal yang tepat buat siapapun yang berniat untuk berkenalan dengan musik Rock Jepang. Walau gak ngerti-ngerti amat sama liriknya, menurut gw, cara penyampaian Hyde cukup berpengaruh untuk membuat pendengarnya menyatu dan menghayati lagu.
Itu sebabnya kenapa gw bilang Laruku itu terbukti aman untuk dikonsumsi. Dijamin kalau mengkonsumsi Laruku untuk jangka waktu lama dan dalam dosis melebihi anjuran, tidak akan membuat dirimu mati rasa, hehehe.

Maa, at least, kalaupun pada akhirnya tidak tertarik untuk mendengarkan band lainnya dari Negri Pencetak Pretty-Boys Bergaya Misterius itu, masih bisa survive bila suatu waktu berkunjung ke sebuah festival jepang (entah karena emang keinginan pribadi atau terseret). They speak in a Laruku-kinda-languange, so berbekal beberapa lagu mereka (entah donlot, bakar, ngopi ato asli), gw pastikan klo lo pasti bakal survive dan gak lost in translation ^_^.

Seenggaknya, esensi penting bernama *keeksisan diri* tetep terjaga bukan??
Hari gini masih gak kenal Laruku???!! Please deh anak SMP sekarang aja apal sama lagu-lagu dari album Laruku yang keluarnya bahkan mungkin pas anak-anak SMP itu baru lahir. Gw sendiri amazed kok, mereka dapet darimana siih? (gw soalnya gak punya, mo numpang ngebakar neeh ^_^)

Cheers!
__________________________________
Kickin’ the ears: Laruku-Nexus 4 (btw judul lagunya terinspirasi dari merk USB ya? ^_^)

Wednesday, October 08, 2008

The Traveller’s Journal Second Season: DADDY’S DAYS OUT

Intro:


Akhir minggu terakhir libur lebaran kemarin, keluarga besar dari garis bokap gw, seperti biasanya, ngadain halal bihalalan. Hanya saja, yang biasanya diadakan di bagian barat Jawa (entah itu di Jakarta, Bogor atau Bandung), kini beralih ke bagian tengah Jawa. Lebih tepatnya sih di Yogyakarta.

Dari taon lalu sih sebenernya udah cukup excited dengan rencana ini, karena berpikiran bakal punya waktu buat jalan-jalan di Yogya. Tapi berhubung belom jelas siapa yang mau ikut, maka sampe sebulan sebelom hari H, belom juga gw pesen tiketnya. Untung banget, maskapai penerbangan yang termasuk dalam pioneer budget airlines di Asia itu buka rute baru: Jakarta-Yogyakarta, syenangnya... yah, cukup menghematlah sekian rupiah..

Anyway, sabtu subuh kemarin pun gw, bokap gw dan kakak gw dengan mata sepet baru bangun tidur, berbondong-bondong menuju cengkareng untuk menjajal penerbangan subuh yang take-off jam 6 pagi. Udah siap-siap sih dengan pemberitahuan “delayed”, tapi nyatanya kami berangkat tepat waktu.

Seperti apa rasanya treveling di yogya dengan seorang bokap? Well... here goes the story. Dan gw pun memberikannya judul: DADDY’S DAYS OUT, hehehe.

Enjoy the 3 parts story below then...

_____________________________
Kickin’ the ears: still the album of KISS by laruku