Tuesday, July 31, 2007

on ears recently: jenny by the click five

Yup!!
The new and improved one… [the band I meant] since the former vocalist already left the band and a cute good-looking newbie guy has replaced him.

Aiai!!
First time tuning in the song, I was like “hmm…” [one eyebrow was lifted] and when I heard the radio DJ announced the band, I was like “woo-ho, wait a minute, the click five? That ‘the click five’?”

Not being cynical me, just a bit confused because I once heard the first single of The Click Five like 2 or 3 years ago and I simply dislike it. I meant dislike it a lot! Never wanted to listen to any of their songs and switched the channel each time MTV airing it. I told my self “just another so-called boyband camouflage under rock and roll skins”.
Cute and pretty face holding gears and barely singing aloud.

BUT!!!
The new ‘The Click Five’ sounds better. Not because the so-gorgeous-looking newbie’s holding the mike now, [well, okay that’s too], but I must admit that they sound a bit much rocking than in the past. Thou the first single ‘Jenny’ still too poppy, but what do you expect, they categorized themselves as ‘pop-rock band’.

And yeah, the newbie, I’m talking about now here, contributes a lot in the band, as his voice is what you can call ‘the rocker-voice’. I supposed he should start making a better band [rock band I meant] if he wants to, maybe in the next 2 or 3 years [hell, he’s still 21 anyway!]. Why? Because he sounds pretty good [and looks pretty too? HA]. Too good to be in a band like ‘The Click Five’.
Well, may it’ll be a good start for him, at least before he then realizes that he’s meant for something more.

Meanwhile, before the newbie starts making his own new better band, I license myself to clearly listen to ‘The Click Five’ new album called ‘Modern Minds and Pastimes’, for free [before the whole album got converted to 30 seconds preview, hehe]
Hell yea, the new era of boyband [again] is coming.

If any of you likes the kind of songs that easy for listening to, then it might be a good choice. At least, the song ‘Jenny’ is everybody’s favorite. Am I correct?

Try to click the play button below then…




Jenny.by.The Click Five

She calls me baby
then she won't call me
says she adores me
and then ignores me
(Jenny, What's the problem?)

She keeps her distance
and sits on fences
puts up resistance
and builds defenses
(Jenny, Whats the problem?)

You keep me hanging on the line
everytime you change your mind

First you say you won't
then you say you will
you keep me hanging on
but we're not moving on
we're standing still
Jenny, you've got me on my knees
Jenny, It's killing me

She needs her own space
she's playing mind games
ends up at my place
saying that she's changed
(Jenny, what's the problem?)

I'm trying to read between the lines
you got me going out of my mind

First you say you won't
then you say you will
you keep me hanging on
but we're not moving on
we're standing still
Jenny, you've got me on my knees
Jenny, It's killing me

(ohh ohh ooohhhh)
It's killing me
(ohh ohh ooohhhh)
Jenny
___________________________________
Just few days before finally breathe in the sweet summer breeze ^_^
Counting down the days and can’t hardly wait!!!

Monday, July 16, 2007

6.6.6 = weirdy thingies

berdasarkan postingan berantai dari seorang teman kantor, akhirnya gw pun menyanggupi membuat “Daftar Keanehan Seorang Gw”, sebagaimana yang tercantum dalam judul postingan temen gw itu.

Well then, i’ll try my best to sort those weirdy-things inside of me to only 6 items. Secara ya... Weird/Odd/Extraordinary, is one of my middle names, hehehe.

Let’s get started then...

>> paling susah lepas sama satu barang ato bisa dibilang, susah ke lain hati lah. Terbukti dari keberadaan hape kakek noki gw yang tidak tergantikan sejak 6 taon lalu atau si simple three-stripes yang mendekati usia 8 tahun sudah itu.
Intinya adalah, kalo gw udah suka sama satu barang [terlepas dari merknya apa], gw akan terus menerus memakainya, hingga tetesan darah terakhir. Terserah deh, mw dibilang out-of-date ato jadul, hehehe.

>> kalo judulnya beli baju ato sendal, bisa sebulan keliling mall tanpa hasil dan berakhir dengan kembali mengenakan stok lama yang ada di lemari ato rak sepatu. Yang pasti, bikin orang yang nganter super BT deh, soalnya pasti gw akan keluar dari toko dengan... tidak membawa apapun yang berbentuk baju ato sendal.

>> so-called band groupie-ME. Kalo udah suka sama satu band/musisi, gw bakal rela ngulik seluruh musik si artis dari single, B-Sides, rare singles ampe semua album-albumnya. Emang gak musikalitas sih yang gw ulik, secara gw buta musik aja gitu. Tapi yang jelas, gw dengerin semuanya [thanks to the net then...], gw selami lautan kata-kata bernama lirik itu [walau harus berulang kali buka kamus klo bahasanya tidak universal] dan mendalami alunan demi alunan nada. Bisa gila sendiri deh!
Oia, gak lupa juga, surfing di situsnya, hehehe. Dulu sih demen banget nge-myspace, sekarang dah gak pernah lagi.

>> daya khayal tinggi. Saking senengnya ngayal, gw sampe punya paralel-world, hahah!! Neah... maksudnya gw sampe bisa bikin banyak sekali dongeng [walau masih tertulis di awang-awang]. Maklum, terlatih baik saat menulis NES [Never Ending Story part 1 & part 2] pada jaman putih-abu, hehehe. Jadi, jangan aneh kalo mendadak ditengah-tengah keramaian, gw terlihat asyik hilang dalam dunia gw sendiri [kayak autis aja], itu artinya gw lagi dapet ide cerita.

>> gak pernah bisa lepas sedetik aja dari musik. Makanya, gak aneh kalo di kantor, gw selalu jadi orang terakhir yang ‘tune-in’ gara-gara kedua telinga gw sumpel pake earphones dan set volume to the highest level. Music is the moody-killer buat gw, hehehe.
No music for a day? It can chew me to the bones... [it = bad mood, red.] and you surely don’t wanna mess around with me when it happens.

>> kalo di rumah, sebelom tidur punya kebiasaan bawa satu gelas penuh air putih ke kamar. Berpikiran buat gw minum klo-klo keausan ditengah malem. Padahal, ujung-ujungnya mah kga diminum, saking gw kalo udah tidur susah bangun. Terus, besok paginya lupa ngeluarin dari kamar dan malemnya kembali membawa satu gelas air putih. Jangan kaget klo ke kamar gw dan menemukan beberapa gelas penuh aer putih yang tersebar dari meja komputer, meja samping kasur ampe rak buku. Tenang aja, gw gak sedang berguru ilmu hitam ato menjalani sesajian rutin kok, hehehe.


Well, since it only requires 6 items, ya sudahlah terpaksa gw berhenti disini.

Sebenernya sih masih bejibun, tapi klo diexpose semua, bisa-bisa gw digiring ke RSJ, hehehe...

Ada yang mau nerusin?
Be my guest!!
_________________________________
time is clicking yaa???maaan, gak kerasa, tinggal 2 minggu aja gitu. AAAARRRRGGGHHH!!!!!!!!!!!!!

Monday, July 09, 2007

sinetron indonesia: "caappeee deehhh...."

Terkapar seharian di rumah dan gak masuk kantor akibat demam dan gejala flu yang menyerang, membuat gw mati gaya di rumah. Mau tidur... (lagiih?! Seperti 12 jam itu masih kurang aja buat bikin mata gw makin sipit, hehe), makan... (yea rite, what’s more delicious than a plain-meat-soup for meals?! *shrug*), mau menulis... (ide apa yang keluar dari kepala yang berat akibat suhu tubuh yang tinggi dan hidung tersumbat???), mau baca... (tak satu pun rangkaian kata yang terindera itu membentuk suatu makna dalam benak)...
Phew!!
Mau gak mau, terpaksa dengan amat sangat mantengin tivi deh. Teken tombol sana sini, nyari channel yang isinya ‘bagus’, kepentoknya sama sinetron lagi sinetron lagi...

Heran ya, berapa juta ribu jenis sinetron sih yang tayang di sebuah stasiun tivi?
Kayaknya, tiap jam adaaaa aja sinetron yang tayang di stasiun tivi manapun. Gak bosen apa yaa??
Dan yang gw bingung, kok yao ada gitu loh yang bikin skripnya?

Dengan tidak mengurangi rasa hormat pada kreativitas anak bangsa, gw hanya bisa menghela nafas lelah pada jejeran sinetron yang tayang di tivi. Entah mengapa, cerita yang ditampilkan semakin lama semakin gak masuk akal, membosankan, membodohi diri sendiri, melemahkan mental dan hanya memberikan aura negatif pada perkembangan diri.

Coba deh, perhatiin, sinetron mana yang ceritanya masuk akal, tidak membosankan, memberikan inspirasi positif dalam hidup dan mengembangkan semangat hidup??

Jadi inget, seorang teman kantor yang begitu promosi abis-abisan mengenai bagus dan berbedanya sebuah sinetron, yang ujung-ujungnya berakhir aneh, gak masuk akal dan pada akhir yang mengenaskan hanya menyisakan satu kata..... payaah [sama seperti teman-temannya yang lain. Heran. Dimana unik dan berbedanya, yaa?].

Sebenernya, apa sih motivasi seorang penulis naskah sinetron itu?
Jujur, gw menghargai benar kekreativitasan para penulis naskah sinetron baik yang original maupun ‘jiplakan yang original’ dari sinetron negara tetangga (yang ujung-ujungnya berkembang dari 20 episode jadi 2000 episode ituu ^_^), tapi bukankah akan lebih membanggakan dan dihargai apabila sinetron yang dibuat itu benar-benar original dan tidak hanya sekedar kejar tayang?

Temen gw yang punya temen seorang penulis naskah sinetron pernah bilang ke gw kalo justru naskah yang cheesy adalah naskah yang ratingnya tinggi dibanding naskah yang bermakna (entah kapan tepatnya sinetron yang bermakna itu ditayangkan, hehe). Intinya, semakin cheesy, semakin bikin muntah, semakin gak masuk akal dan semakin ceritanya gampang ketebak, maka rating tayang pun makin naik.

Hmm... ini mungkin emang sifat orang indonesia yang suka banget dibodohi dan membodohi diri sendiri, jadi suka dengan cerita-cerita serupa ya?? Berlarut-larut dalam kesedihan, mengapung dalam ketidakberdayaan dan cenderung menyerah pada ‘nasib’.
Phiuhh... Capeee dee.

Jadi kangen sama masa-masa acara televisi didominasi oleh sitkom-sitkom, drama maupun soap-opera keluaran bule yang jujur aja, lebih masuk akal dan tidak membosankan dan... realistis.
Jaman dimana family series macem ‘Growing Pains’ ato ‘Full House’ ato ‘Family Ties’ jadi santapan hari-hari pengisi kebutuhan akan hiburan

Padahal, bule pun punya sinetron. Macam The O.C., One Tree Hill ato Desperate Housewives kan juga termasuk sinetron bukan? Tapi kenapa cerita mereka selain lebih masuk akal dan realistis juga lebih ‘mengajarkan sesuatu yang positif dalam hidup’ ya??

Mungkin ada baeknya sih, kalo sinetron indonesia ditiadakan untuk jangka waktu tertentu [setaon kalo perlu], digantikan dengan sitkom/drama/soap-opera bule, buat ngasih refreshment buat para penulis naskah. Siapa tau, dapet insight dan menelurkan karya sinetron yang spektakuler??
______________________________________

ditengah panasnya kedua mata ini, sedikit ditenangkan dengan alunan akustik seorang Alex Turner, haha... niiiiccceee!! I definitely heart this band.

Wednesday, June 27, 2007

Nowadays music? Or dare I [cynically] say… ‘nowadays boyband’?

Era boyband emang udah so-last-years.
Coba aja perhatiin, kancah dunia permusikan tidak lagi diwarnai dengan segerombolan laki-laki usia belia, bertampang imut nan menyejukkan jiwa, yang dipoles sedemikian rupa hingga memiliki kemampuan olah vokal yang melodik dan physically-trained mati-matian supaya bisa bergerak ritmis [baca: nari]. Ato, kalaupun bebel gak bisa nyanyi, bisa nari lah. Kalo pun emang bernasib buruk gak bisa nyanyi dan badan kaku, at least bisa berpose cool dan tetep... terlihat ganteng [terlepas dari apapun itu orientasi seksnya], toh ada teknologi bernama lipsync bukan??

Anyway...
Era itu memang sudah lama menjadi basi.
Terutama sih di Amrik.
Terbukti dari reuni beberapa boyband tidak cukup sukses di pasaran dan cenderung hanya jadi hiasan ala kadar di tangga-tangga lagu dunia. Lalu masing-masing anggotanya pun memilih untuk [sukur-sukur laku] bersolo karir.

Boyband... girlband... whatever you call it, is officially... DEAD!
Di belahan dunia manapun.

Namun, disadari atau tidak, muncul dalam bentuk lain.
Ato, kalo boleh dibilang sih, bereinkarnasi dengan sempurna.

Masih tetep sama sih formatnya.
Terdiri dari beberapa gelintir laki-laki. Berusia belia [DAMN! Youngsters ARE del.i.cious haha!]. Bertampang imut nan menyejukkan jiwa. Memiliki kemampuan vokal yang cukup melebihi tubuh terdahulunya [boyband dulu maksudnya]. Pun masih digila-gilai para perempuan terbukti dengan gerombolan groupies-cewek yang rela mengikutinya kemana pun demi secuil kemungkinan get laid. Pastinya sih masih juga bermusik dan punya titel band yang cukup catchy..

Namun, ada satu hal yang membedakannya..... kemampuan bermusik plus alirannya.

YUP!!
Dulu, boyband yang selaen nyanyi en nari pake maen instrumen juga, itu satu banding jutaan kali.
Dulu sih yang penting tampang, bisa cuap-cuap dan mampu menggerakkan tubuh.
Oh ya, dan alirannya, so pasti... POP [entah itu picisan ato pasaran]

Sekarang?
Boyband jaman sekarang sih, semuanya bisa maen alat musik [multi instrumen malah!], walau minus goyang koreografi, bisa nyiptain lagu, gak lagi bertampang manis dan berkelakuan anak mami, daan yang pasti tidak lagi beraliran musik pop.

Alirannya apa?
Well... you can say it.. alternative/modern rock/punk-rock/pop-punk even a socalled-emo ato buat yang sinis mungkin bakal nyebut bubblegum-poprock... apalah itu nama dan sebutannya, yang pasti musiknya sungguh ears-catchy walaupun berdandan gothic.
Intinya sih, the poppers can also shoe-gazing while listening to their music and the rockers take that as a side-dish or snack like fruit salad or potato chips.

Terserah deh mau protes gimana pun, tapi tetep aja mau gak mau ngaku juga kalo band yang lagi menjamur sekarang ini adalah kamuflase/reinkarnasi dari boyband jaman dulu.

I mean, c’mon guys!!
Fakta membuktikan bukan?
Musik yang ears-catchy [cenderung cheesy malah], mayoritas bertema cinta/relationship [juga], muka yang kamera-friendly, umur yang masih muda-muda, whatelse d’you call them?

Toh, pada kenyataannya secara musikalitas pun mereka gak jauh beda sama boyband jaman dulu, nilai plusnya hanya di alat musik dan kemampuan nyiptain lagu aja [temanya sih sama-sama cinta tapi racikan notasinya sedikit lebih rockin’].
Akuilah, they sux live [okay, sometimes not but most yeah!]
Buy the record, don’t go to any concert unless you got the backstage pass or got someone-else paid you to go or... you are just a [real] groupie.
They surely still need many years of experiences before hitting the word LEGEND [sorry, but that’s the fact].

Ada lagi yang berubah, selain aliran musik dan kemampuan bermusiknya, yaitu.... kelakuannya/Attitudes.

Sekarang sih, kelakuan boyband gak jaim layaknya anak mami. Malah, semakin bad-boy, semakin bejibun groupies yang ngintilin mereka. HIDUP BAD-BOYS!! LONG LIVE BAD-BOYS!!! ^_^V
Malah menurut gw, tampang manis udah gak jaman, yang penting kelakuan BADBOYnya itu. Dandanan lusuh mirip gelandangan gak mandi sebulan ato fully-pale-gothic-makeup? GAK MASALAH!
Semakin lusuh ato semakin gothic, justru semakin digandrungi. Semakin di-groupies-i.
Mau terang-terangan smoking-weed? Chewing-mushrooms? Keluar masuk jail? Semakin bermasalah, semakin digilai kok. Make more trouble, guys! We love troublemakers!
Bahkan yang gak ragu buat saling ciuman bibir [cowok vs cowok, red] ato tampil sensual menjurus seksual pun semakin meningkatkan ratingnya [ini gak mempengaruhi orientasi seksnya ya, kebanyakan mereka straight kok. ato terselubung yak? Hahaha!!].
Intinya, BAD-Attitudes COUNT!!

Well begitulah kenyataannya.
Boyband jaman sekarang memang bukan tipikal boyband anak mami jaman dulu yang menggusung lagu-lagu bikin ngantuk [walau jujur, it’s my biggest guilty pleasure too, ha!]
Yang sekarang ini, mungkin cocoknya disebut... ‘[bad]boyband’, hahaha!!
Ini mungkin karena cewek punya obsesi kencan sama BADBOYS yaak?? Hehehe...

Anak mami... step back!
It’s BADBOYS time! Let’s get W-W-WIIILD!!!

Mungkin kayak gitu sih, “The nowadays boyband”. Entah sampai kapan era ini bertahan. Mungkin pas taon 2010, boyband udah balik lagi ke masa-masa NKOTB, ato berubah jadi aliran metal? Mungkin malah ntar smuanya pake topeng tengkorak? Haha!
Tapi harus diakui.... bagaimanapun bentuk dan musik boyband itu, it’s still an enjoyable music to listen to.
Entah karena emang racikan musiknya yang catchy, muka yang kamera-friendly, usianya yang masih belia ato karena keBADBOYan mereka?

Apapun itu alasannya, still a guilty pleasure indeed!

Thanks to the major who’s clever ‘nuff in building market image, and hypnotizing us to stuck to it... ^_^
Hail to the new [bad]boyband era!


-Sedikit terinspirasi setelah liat live-act beberapa band baru dari daratan yang ngakunya sih... “the freedom land” [apanya yg freedom klo SARA aja msh laku disana?]-
___________________________________
[
on ears] ...System of A Down...
catchy in a brutal way? Exactly!
This is how you call them.
In short?
…amazing…

(yang pasti sih, biarpun groupiesnya segabruk, mereka sulit dikategorikan boyband… haha! Gak kebayang kan SoAD berpose boyband?? Err...)

Tuesday, June 26, 2007

Groupies OR [simply] Sl*Ts


Sebuah band musik bukanlah sebuah BAND tanpa kehadiran GROUPIES.
Walau pada kenyataannya, gak cuma band/musician yang punya groupies. Selama loe beken, dalam title apapun bahkan pemuka agama ato teroris sekalipun, loe akan bertemu dan dikelilingi oleh groupies.
Gak percaya? Coba aja perhatiin.

Tapi sekarang, yang mo gw jembrengin adalah groupies-nya Band/Musician [terutama female-groupies]. Kenapa? Ini mungkin terinspirasi setelah gw nonton konser lewat YouTube, ato denger berita soal salah seorang groupie yang menuntut seorang pentolan band karena menghamilinya [yea rite!].

Well, anyway, let’s just get started...

Kalo kita perhatikan, kemana pun, dimana pun, kapan pun dan sedang apa pun sebuah band, pastinya kita akan menemukan sekumpulan manusia [kebanyakan sih perempuan] yang ngintilin mereka dengan membawa-bawa papan/karton besar bertuliskan [dalam tulisan yang juga besar]:

[place the band member name here] SEX WITH ME!!!

Atau

MARRY ME [place the band member name here]!!!


Kumpulan manusia itu akan rela kehabisan suara akibat tereak-tereak manggilin nama tiap anggota band, mandi keringet, gak makan, gak minum bahkan kalaupun pada akhirnya harus berakhir di tenda P3K, demi mendapatkan kesempatan tidak hanya bertemu tapi juga melakukan sesuatu dengan anggota band itu.

Sesuatu yang dilakukan, pastinya berhubungan dengan sesuatu yang intim.
Terserahlah mau digimanain, mau berapa lama, mau keinget apa enggak, mau setelah itu ditendang keluar sama bodyguard apa kgak, ato ditinggalkan begitu aja, yang penting adalah pernah melakukan apapun-jenis-sesuatu-yang-intim dengan para anggota band.
Gak jarang juga, diadakan kompetisi terselubung diantara mereka tentang ‘siapa yang pernah kencan sama drummernya’ ato ‘siapa yang tau ukuran si vokalis’
Something stupid like that lah...

Gak ngerti juga sih, kenapa kok kepikiran ato what’s the point of it exactly, tapi memang begitulah niat mereka.

In somewhat level, mereka adalah fans dari band itu. Walau sepertinya mereka cukup buta akan makna dari kata fan itu sendiri, haha.
Yah, paling enggak, penyumbang devisa terbesar bagi keuangan band-lah.
Sebut aja merchandise/produk yang dikeluarin band itu, pastinya mereka punya. Dari single, album, t-shirt, mug sampe ke foto dalam segala macem pose dimiliki oleh mereka. Bahkan mungkin rela menguras kocek demi mendapatkan barang lelangan [mungkin baju dalem si Anu ato iket rambut si Dia], hingga jutaan...dollar.

Ckckckck....
Hmm... now you got the point how a band gains dollars rite?

Mereka ini pun akan hafal, tidak hanya seluruh lirik lagu maupun sejarah berdirinya band, tapi juga sampai ke kehidupan pribadi mereka. Apa yang disuka, apa yang gak disuka. Makan dimana. Liburan dimana. Mungkin apa aja yang dikeluarin dari perutnya pun mereka tahu, hhaha.

Intinya adalah... they know, every-single-thing.

Nah, mereka inilah yang digolongkan ke dalam sebuah istilah yang disebut GROUPIES [dalam bentuk jamak]

Sebenernya apa sih groupies tuh?
Ato sampe mana batas perbedaan antara groupies dan fans itu?

Karena jujur, fans pun sedikit banyak akan ngintip kehidupan pribadi Band favorit mereka just to kill curiosity, kan? Lalu apa semua groupies hanya ingin ditiduri ato emang ada groupies yang ‘bae’ [groupies yang berattittude] gitu?

Oke...
Dari literatur yang gw dapet dan sedikit penambahan nalar gw plus pengalaman gw pribadi sebagai fan, sebenernya term groupies pada awalnya itu, berarti sebuah grup atau kumpulan manusia yang menjadi tim sponsor/promo sebuah band.
Kumpulan inilah yang bakal rela beli seluruh album band itu, beli merchadisenya dan bahkan membentuk sendiri tim independent berjudul “[insert a band here] FANS CLUB” ato yang sekarang lebih terkenal sebagai “[insert a band here] STREET-TEAM”
Kumpulan ini juga rela mendatangi seluruh konsernya walau harus nyebrang benua [klo di club terkenal club-hopping, di konser juga ada, concert-hopping, hehehe. Ini istilah gw aja sih], yang juga rela ngantri buat meet and greet sama si band demi nunjukin ke band itu klo musik mereka berarti banget buat dia. Kadang, mereka gak sungkan buat mengkritik band kesayangan mereka itu dan biasanya sih justru band jadiin mereka barometer kesuksesan albumnya.

Intinya, apapun dilakukan mereka adalah dengan satu tujuan mulia...”mengharumkan nama si BAND di dunia musik” [dengan side project bagi band sih, menambah penghasilan si BAND, hehehe]

Namun, sekarang sih, istilah itu berubah jadi definisi yang lebih konotatif, yang bikin orang jadi lebih seneng ngebagi dua jenis penggemar band.
Fans dan Groupies.

Hal ini disebabkan karena kelakuan groupies [mayoritas female-groupies, red.] semakin lama semakin fanatik berlebihan cenderung psikopat.
Gimana gak psikopat? Mereka menghalalkan segala macam cara demi bisa berdekatan hingga berhubungan intim dengan anggota Band itu.

Seperti gw bilang sebelomnya, kalo mau jujur, groupies tuh gak beda jauh sama fans sebuah band. Well, it was a term to define it also anyway kan?
Mereka sama-sama menyukai bandnya [walau kemudian yang satu lebih suka musiknya, yang laen lebih tergila-gila pada vokalisnya];
Sama-sama mendengarkan musik/lagu dari Band yang sama;
Sama-sama menjejali kepala mereka dengan info band yang sama [bedanya yang satu lebih ke musical influence, yang satu lebih peduli kehidupan pribadinya]

Mungkin, perbedaan yang paling mendasar ya, terletak pada derajat-kegilaannya itu.

Intinya, para groupies tampaknya telah melewati ambang batas normal, bahkan mungkin sampai ke derajat psycho yang kadang gak hanya membahayakan nyawa si groupie tapi juga Band itu sendiri

A psychopath-obsess[er], so to speak.
Sepertinya, memang jadi sebuah kebanggaan atau sebuah pencapaian bila bisa mengencani [dalam arti meniduri atau ditiduri] anggota Band [eh, kadang sama roadies-nya juga mau... itu kalo udah desperate banget kali ya?? Dari pada enggak sama sekali kan? Upah tereak-tereak seminggu deh, hehe]

Kinda annoying?? Ehem...*manggut-manggut*... A LOT.
Gw yang bukan anggota band dan gak punya groupies aja risih liatnya, apalagi mereka yang 24 jam sehari selama 365 hari setaon diintilin orang-orang tak dikenal yang gak peduli apapun selain get laid oleh mereka ya??

Hiii...

Nah, sejak itulah istilah groupies jadi miring dan bisa dibilang sih, gak beda jauh sama wh*r&. Yaya... WHORE.
Gak ada deh orang yang mau ngaku jadi groupies, apapun definisi yang menjelaskan istilah itu.
Gw sendiri sih masih menggunakan istilah groupies, karena bagi gw, groupies dan fans itu maknanya beda.

Fans itu gak ngebela-belain nonton konser Incubus ke Israel, gitu loh.
Sementara groupies, walaupun tidak berharap ditiduri Brandon Boyd akan rela beli tiket konsernya sampe ke tengah padang pasir, gitu.

Makanya, gw lalu membedakan groupies menjadi dua. The sl*t-groupies dan the good-groupies. Begitu.

Anyway, jujur, menurut gw, semua band membutuhkan keberadaan groupies [dalam kedua istilah yang gw ciptakan itu sih].
Tanpa mereka, sebuah band tidak berarti apapun. Gak akan berarti pe-release-an album atau pagelaran konser sana sini tanpa kehadiran groupies yang setia mendatangi venue konser di belahan bumi manapun.
Dan ini means a lot buat penguatan eksistensi sebuah band di industri musik [pun penguatan sumber penghasilan mereka, heheh], bukan?

Akan tetapi, groupies seperti apa sih yang dibutuhin band?
Apakah sl*t-groupies yang hanya peduli si vokalis punya waktu senggang buat nidurin dia kapan, ato good-groupies yang gak sungkan-sungkan mengkritik musik mereka yang mulai terdengar ‘pasaran’?

Semuanya memberikan kontribusinya sendiri-sendiri sih memang.

Keberadaan groupies yang pertama, bisa jadi sedikit selingan buat melepas rutinitas para anggota band yang udah lama gak ‘maen’, hihihi.
Lumayanlah, bisa melepas rasa pusing menahan hasrat tanpa harus mengeluarkan sepeser uang pun bukan? Mereka rela kok berapa lama pun, dengan gaya sekinky apapun, gratis pula! Hahaha!! [seen a couple of blue-movies about sl*t-groupies and kinda having an aftermath-sick, hehehe. Yikes!!]

Sementara good-groupies bisa jadi cerminan kesuksesan album maupun Band itu sendiri di dunia musik, karena jujur aja, kritik paling berharga adalah kritik yang datang dari orang yang jelas-jelas mencintaimu bukan? Sepedas atau sesakit apapun kritikan itu. Karena toh pada akhirnya, hanya orang-orang yang berani berbicara jujurlah yang benar-benar teman baik.
Well, what do you know? Reality BITES!
Dan sepedas apapun kritikan itu, mereka akan tetap menjadi groupies [the good ones, I mean] band itu.
Sampai kapan pun.

Well, groupies, bukan groupies, ato sekedar penikmat musik, apapun itu jenisnya memang menjadi bagian hidup dari sebuah Band. Termasuk juga ukuran kesuksesannya.

Mungkin, buat anak Band sih, keberadaan groupies dalam derajat manapun semua ada untungnya dan biasanya sih mereka gak ambil pusing. Malah mungkin dengan senang hati memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Iyalah, gw juga kalo jadi anak band, kagak bakal menyia-nyiakan begitu aja kali. Mubazir kan? Segala sesuatu yang tersedia itu memang harus dimanfaatkan, hehehe.

Sekarang, yang musti dipertanyakan adalah pada para groupies yang cenderung sl*ts itu, apakah memang tujuan hidupnya hanya itu, ataukah hanya bagian lain dari euforia sesaat.

Kenapa itu yang dijadikan pertanyaan, karena kalau jawabannya adalah mereka menjadi sl*t-groupies sebagai tujuan hidup, well... mungkin ada baiknya mereka mulai membentuk Asosiasi Groupies Professional. Seenggaknya bisa dapet penghasilan juga kan? Pake manager dan lebih terorganisir bukan?

Nah, kalo jawabannya hanya untuk euforia sesaat, well... sepertinya harus siap-siap untuk tidak menangis atau menuntut si anggota Band bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan [baca: hamil tanpa dinikahi]. Bukan begitu? Karena sungguh akan terlihat sangat TOLOL.
You wanted it, you get it. Don’t complain!!!
Hahaha!!

Haaahh....
Kocak juga...

[Sedikit catatan tambahan: groupies gak berarti harus perempuan, walau pada kenyataannya istilah itu lebih dilabelkan pada perempuan. Well, gak nyalahin juga sih. Istilahnya emang lebih cocok dibawa oleh perempuan, it’s a gender-word anyway. Dan memang, setelah pencorengan nama baik istilah, istilah groupies memang lebih sering dan cocok dipakaikan pada perempuan. Yah, sesuai juga sih, karena toh yang mencorengnya kan female-groupies juga toh?]

Pesan untuk para slut-groupies...
GET A LIFE, KIDS!! [unless this is actually what they called ‘life’? hmm...]
'nyway... klo nyari literature groupies, silakan cari di wikipedia aja. tersedia lengkap kok. or... just google it, hehehe....
___________________________________________
[
on ears] masih tertarik dengan “Arctic Monkeys”.
Interesting songs, sounds, music and... interesting people as well.
Musik yang gokil, berani, cukup cerdas nan sarkas [klo sinis msh tll halus], nakal dengan aksen Yorkshire kentel yang bikin pusing daan.... so pasti yang harus digarisbawahi mu-da, hehehe.
Good thing to go when you’re high [thou I don’t drink, ^_^]

Monday, June 25, 2007

On-ears today: Arctic Monkeys

Just had a shocking news this morning ‘bout my boss’s resignation [yup!! By the end of this June, he’dve resigned at his own risk]. The truth is, I was already told about this possibility [and I was sworn not to tell this to anybody. Not a word.], but still it was shocking. I mean, despite of every little hatred thing happened times ago, still he’s the boss and kinda respect him for that. But well, hopefully everything will be much better afterward, rite?
Kinda nervous of what the next authority is like...

Anyway, to cure the shocking thing, I’m listening to the band called Arctic Monkeys. The whole albums [‘Whatever People Say I Am, That’s What I Am Not’ and ‘Favorite Worst Nightmare’] and couple of live-acts and I must say that I’m impressed!

Like their songs. Thou many out there cynically criticized them as a copy-paster-band sorta thing or the overrated band or over-hyped band.
Just for a record, it’s a recycle-world anyway, correct? There’s no such thing as original nowadays.

So I must say that, Arctic Monkeys are one of great bands ever happen in this planet at this decade, at their kind of sounds and at their ages. You might want to compare them to the like, but what do you expect? They grew up listening to the sound-like. They’re from England for God sake! Things would’ve been the same, if they grew up in States and then they sound like MCR/TBS/The Used, rite? Deal with it, folks!

Just enjoy the music…








BRIANSTORM

Brian…
Top marks for not trying
So I'd like you to bless us with your effortlessness
We'd wait for and so trained and comforted


And I wonder
Are you putting us under
'Cos we can't take our eyes off his t-shirt
And ties combination

Well see ya later Innovator!

Some want to kiss some want to kick you
There's not a net you couldn't slip through
Or at least that's the impression I get
'Cos you're smooth and you're wet
And she's not aware yet, but she's yours


She'll be sayin' "Use me"
Show me the Jacuzzi
I imagine that it's there on a plate
you're our rendezvous rate
Means you'll never be frightened
To make em wait for a while
I doubt it's your style
Not to get what you set
Out to acquire
The eyes are on fire
You are the un-forecasted storm
Woop!!

Calm, Collected and Commanding
(Top marks for not trying)
You hit the other story standing
With your ambitions and jokes
I bet there's hundreds of blokes
That have wept 'cos you've stolen their...


Thunder
Are you putting us under
'Cos we can't take our eyes of his t-shirt
and ties combination
Well see ya later
Innovator

____________________________________

no’te:
thou a bit irritating I must say that their ascent is an interesting point. It would’ve been different if Chris Martin sing it, I bet... ehe..

Interesting album by the way... worth to collect I guess

Friday, June 22, 2007

The Legend Of A Simple Three-Stripes





Benda apakah itu?
Yah... gak lain dan gak bukan adalah ‘teman seperjuangan’ gw yang begitu setia.




Sebuah benda yang biarpun udah ada penggantinya ‘si biru genit’ ini , tetap tak pernah tergantikan kebersamaannya dengan gw.

Pertama kali mendapatkan ‘teman seperjuangan’ itu adalah saat gw berada di awal tahun kuliah. Gara-garanya, nyokap gw udah gemeeeesss banget liat gw yang ngampus pake sepatu buluk jaman SMA [sekarang sih udah diungsikan entah kemana]. Itu sepatu jaman SMA gw, saking buluknya, sampe takut mau dicuci, takut mreteli [bahasa jawa yang kira2 artinya pada copot].

Dengan pemaksaan besar-besaran, nyokap pun mencemplungkan gw ke sebuah toko SPORT. Memberikan keleluasaan sebebas-bebasnya bagi gw untuk memilih sepatu dan rela menanti gw menghabiskan sekian jam keliling mall. Maklum, kalo soal milih sepatu/sandal, gw bisa ngabisin waktu seharian penuh pindah-pindah toko dan mungkin pada akhirnya malah gak beli apapun.
Tapi, saat itu, nyokap gw mengancam, “kalo gak beli sepatu, kita gak akan pulang!”

Untungnya kok ya’o ndilalah [hahaha!!! Istilah Jawa lage nie], ada seonggok sepatu hitam-abu menarik perhatian gw. Bentuknya simple banget [terlalu simple malah!]. Pada saat itu, gw memang tidak mencari sepatu yang ‘eye-catchy’. Gw percaya pada filosofi “beauty lies in simplicity for eternal life”, hahahaha!!! [dipas-pasin terusss!!]
Yang gw suka dari sepatu itu adalah, loe gak akan tau kalo dia adalah ‘three-stripes’ karena logonya yang begitu kecil dan tersembunyi. Simple. Gak showing-off.
Sepatu itu pun masuk dalam daftar ‘top three hot picks’ imajiner yang gw bikin. Sementara nyokap gw duduk di suatu sudut dan asyik ngobrol sama SPB toko itu sambil megangin pilihan gw barusan, gw kembali mengelilingi toko itu, mencari-cari tandingannya.

Tapi yah, memang sudah jadi tambatan hati, dan gw termasuk orang yang sangat teramat setia pada pilihan, jadilah ‘dia’ berpindah tangan.

Hari itu, gw pulang dengan sepasang teman perjuangan yang baru dalam pelukan, dan seulas senyum lebar [cengiran sih tepatnya] penuh kegembiraan yang membawa kelegaan tak terlukiskan di hati nyokap gw [bow, akhirnya spokat tak bermoral itu bisa gw buang sejauh-jauhnya!!! Gitu kali pikiran nyokap gw]

Sejak itu, ‘dia’ menjadi bagian hidup gw yang tak terpisahkan.
Hampir gak satu pun dalam kehidupan perkuliahan gw, gw lewatkan tanpa dirinya. Rasanya enak aja, begitu bebas melangkah dan gak perlu ribet ngurusin ‘hak sepatu’ yang kejeblos got ato kehilangan keseimbangan di kereta [note: gak cape juga kli klo hrs ngejar2 kereta].

Saking seringnya gw pake, dalam segala jenis cuaca dan keadaan jalan, dirinya pun mulai mengalami ‘wear-out’; sedikit luka disana sini menimpanya. Dan, nyokap gw kembali risih melihat anaknya yang tak pernah mengganti sepatu sampe sekian tahun itu.

Alhasil, gw kembali diseret ke sebuah toko sepatu keluaran eropa. Sebuah sepatu menarik perhatian gw, ‘si biru genit’ itu.
Tapi, layaknya penampilan yang jor-joran dan terlalu over-exposed, pamornya pun dalam sekejap menurun drastis. Itu pula yang menimpa ‘si biru genit’.

Hanya bertahan sekian bulan nempel di kaki, selanjutnya, kembali ‘soulmate’ ke pelukan. Dan nyokap gw, hanya bisa mengumpat kesal, karena gw selalu punya sekian ribu cara dan alasan untuk mempertahankan eksistensi si dia dan menyelamatkannya dari Tempat Pembuangan Akhir.

Bahkan, hingga kini dirinya pun tetap setia menemani hari-hari sporty gw.
Terakhir petualangan yang kami tempuh adalah perjalanan backpacking pertama gw dengan temen-temen kantor. Lalu kemarin, kami sama-sama menjadi norak di sebuah fitness club.

Lalu, apakah dirinya akan kembali menemani perjalanan yang lain?
Mungkin semilir angin sejuk di musim panas juga akan membelainya?
Tidak menutup kemungkinan kaaannn???


love you my lovely-bestest 'three-stripes', muaahh!!

Oyeah... dan nyokap gw pun udah habis kesabarannya, hihihi.
Pesan mengantar kepergian gw [sambil nenteng paperbag berisi sepasang belahan jiwa gw] ke kantor di pagi buta suatu hari lalu saat masih jamannya nge-pitnes adalah, “Ken, bener ya, nanti beli sepatu baru” dengan wajah beliau yang begitu terlihat memelas ditengah ke-desperate-annya. HAA!!

Dan ternyata.... sorenya, temen kantor gw pun ikutan PROTES, hahahaha!!!!
_________________________________
[on ears] Summer Romance (anti gravity).by.Incubus
(hmm, could that be a possibility too?? The summer romance I mean. Huhuhu....)

Friday, June 08, 2007

Free Hugs Campaign

Beberapa waktu lalu, pas lagi nonton acara musik di tivi, mendadak gw berasa digetok pake palu yang guedeee buanget, saat sebuah vidio klip muncul.

Lagunya sendiri gak begitu familiar sama gw saat itu, karena lagi-lagi vidioklip itu tidak disertai judul dan siapa penyanyinya. Akan tetapi, satu hal yang membuat gw tercekat, sesak napas dan tidak dapat melupakan vidio itu [bahkan orang yang di dalam vidio itu] adalah cerita dari vidio itu.

Vidio itu begitu sederhana, gak ada tanda-tanda kehadiran si anak band [walau tadinya, gw pikir orang di dalam vidio itulah yang nyanyi], yang ada hanya seorang laki-laki 30an, gondrong kriting, berjenggot, berkacamata, kluyuruan di pedestrian bawa-bawa satu karton gede tulisan FREE HUGS.

Apa yang terjadi selanjutnya?

Rekaman reaksi orang-orang di jalanan yang liat dirinya membawa karton itu. Ada yang nyureng ngeliatin trus melengos pergi, ada yang bengong, ada yang saking ekspresifnya bales meluk sampe jatoh-jatohan.

Tapi satu hal yang bikin gw tercekat adalah saat mereka berpelukan satu sama lainnya.
They’re completely strangers to one another, but share the exact same basic needs: a HUG.

Betulkan gw kalo salah, tapi saat kita merasa down, saat kita terpentok satu masalah berat yang bikin kita pusing 13 keliling dan berasa pengen bunuh diri, saat tidak ada jawaban yang dapat diberikan oleh siapapun, hanya satu yang kita butuhkan untuk meringankan beban yang ditanggung: sebuah pelukan yang begitu sederhana.

Kadang, kita tidak mencari seseorang untuk menjawab atau menyelesaikan masalah kita, karena pada kenyataannya, kita sudah tahu jalan keluarnya. Yang kita cari adalah seseorang untuk memeluk kita. Untuk mengatakan kalau “semua akan menjadi baik kembali dan kau tidak sendiri”.

Jujur, vidio klip itu membuat gw menangis.
Ya, menangis. Menitikkan air mata.
Merasa sesak di dada menahan agar air itu tidak jatuh, tapi gagal.
Dan kakak gw yang duduk bareng nonton vidio itu hanya menatap gw, nyureng sekaligus geli dan jijik mendapati gw seperti itu.

Apa mau dikata?
Karena kadang, gw sendiri lupa untuk memberikan pelukan pada orang terdekat dengan gw saat dirinya menghadapi masalah. Kadang, gw dengan frontal dan vokal malah memarahi atau mendengus dan bilang, “I told you before”.

Padahal, saat dirinya menelpon atau mendatangi gw dengan segala masalah yang membebaninya, dirinya hanya butuh dipeluk.
Gak perlu bicara banyak. Gak perlu bilang, “it’s okay honey”.
Gak perlu membelikannya barang-barang untuk menghibur.

Cukup sebuah pelukan yang hangat dan lembut.

Dan semakin gw menonton vidio klip itu, semakin gw merasa kesal pada diri gw sendiri.
Kenapa begitu sulit untuk menyisihkan sedikit waktu untuk memeluk seseorang?

Tidak butuh biaya besar. Tidak butuh mengeluarkan tenaga banyak.
Cukup hanya dengan membuka lebar kedua tangan, membiarkan tubuh rapuh itu mendarat di dada kita dan menghangatkannya dengan menangkupkan kedua tangan kita, melindunginya.

Hanya itu bukan?
Tapi kenapa begitu sulit???


Lalu hari ini, setelah lama tidak menikmatinya, gw menyempatkan diri untuk membuka situs FREEHUGSCAMPAIGN.ORG sekaligus menikmati vidioklipnya.

......Ready to change the world with nothing but your arms wide open?

Begitu yang tertulis di situs itu.
Andai semua orang melakukannya....
Mungkin, memang benar, dunia akan berubah menjadi lebih manusiawi.
Let’s just hope and start to HUG.


Visit FREEHUGSCAMPAIGN.ORG to find out more about the freehugsmovement or just to kill your curiosity disease. It DOES worth to visit.




I don't mind where you come from, as long as you come to me

I don't like illusions I can't see them clearly.
I don't care no I wouldn't dare, to fix the twist in you.

You've shown me eventually what you'll do.

I don't mind...I don't care...
as long as you're here

Go ahead tell me you'll leave again

You'll just come back running, holding your scarred heart in hand.
It's all the same.
And I'll take you for who you are, if you take me for everything
Do it all over again. It's all the same.

[secuplik lirik dari lagu All The Same by SickPuppies]


“sometimes it takes only one simple-tender-warm-HUG to cure the pain”
Sudahkah anda berikan pelukan pada seseorang hari ini?

x^0^x
_________________________________

Well, sedikit sharing di saat menjelang waktu kantor habis, hehehe...
Pretty good in ending the miserable week anyway. HUGS!!!

[2 threads in a row? Well, what do you know? It’s an escapism, HAHA!]

Thursday, June 07, 2007

Penelusuran EMO-logy


Beberapa waktu lalu, pas cek imel, ada satu info iklan baris yang menarik perhatian gw di atas kotak inbox. Bunyinya begini: “What the heck *is* emo?!”

Gw akui, gw bukan fans berat jenis musik ini, walau tiap hari dan detik mendengar musik jenis beginian [well, suka ato tidak, pengaruhnya emang lagi booming di musik sekarang bukan?]. It’s in every air, btw.
Sempet juga sih gw bahas panjang di blog gw ini [baca EMO: dicaci tapi bikin nagih], walau dari sudut pandang tidak expert cenderung buta musik, yang malah bikin pembaca semakin bingung dengan genre musik ini, hehehe.

Balik ke iklan baris di inbox mail gw, akhirnya, iseng-iseng, gw pun meng-click situs itu yang membawa gw ke kolom Ask Yahoo!
Artikel itu cukup bikin gw ketawa, soalnya ternyata yang nanya soal ini adalah seorang orang tua yang kebingungan anaknya tuh kok tergila-gila akan EMO dan dia pengen tau. Jenis makanan apa sih EMO tuh [kasarnya gitu kali ya].

Disitu dibahas singkat soal musik EMO. Singkat banget malah [tapi lebih jelas dari bahasan gw yang segambreng itu, haha]. Tapi di situs itu dikasih link ke situs laen yang membahas tuntas soal EMO . Pokoknya kalo nyari en mau tau segala hal soal EMO, silakan buka situs ini. Gitu.

Nah, iseng, gw klik aja link itu. Dan ternyata membawa gw ke sebuah situs yang [jujur] sangat membosankan tampilannya. Hanya berlatar hitam [polos], isinya tulisan gede-gede cerita soal EMO dari awal mula tercipta jenis musik itu, penggusungnya sampe musik EMO di masa kini. Begitu. Tapi harus gw akui, tampilan bukan segalanya. Yang penting ISI.

Hanya bertahan sekian menit di situs itu soalnya gak menarik juga [malah bikin gw makin lieur], tapi gw tertarik sama referensi link yang ditaro di situs itu. Gw klik link itu dan membawa gw ke situs myspace.
Ternyata itu bercerita tentang si penulis yang kebetulan penggila EMO dan other... extreme-games [!!!] Name it! Dia penggilanya.

Triiingg!!!
Seakan ada gong yang digebuk deket telinga gw, gw pun mendadak begitu excited [terlebih pas liat statement ‘single and straight’, huhuhu]. Maklumlah, siapa sih cewek yang gak kecantol sama ‘wildlife-man’?! hahaha!!! It’s every girl’s dream I dare bet!

Situs itu juga membawa gw ke situs laen yang notabene adalah situs pribadi si penulis itu dengan portfolionya [fotografer merangkap mechanical engineer merangkap backpack-traveler merangkap extreme-gamer merangkap EMO lover! olalala whatta combinations!!] dan gw mkn termehe-mehe.

Well, sepertinya detik-detik menjelang berakhirnya waktu-kantor, I shot many targets in one bullet [melek soal EMO, ngegebet muka keren, plus menikmati hasil jepretan orang itu]. Wonder if he ever thinks about traveling in Indonesia ato mungkin berpapasan [ato satu kamar?!?!] saat melepas lelah di musim panas nanti?

Hahaha!!!
Buat yang penasaran sama musik EMO [bukan sama Andy Radin-nya yaa], gw beri deh sources-nya


situsEMO
myspaceEMO
bisa juga sih klik disini wikipediaEMO [lumayan lengkap dan nyediain link tambahan yang lebih banyak. It’s a wicked-pedia anyway bukan??]

____________________________________________
[on ears] satu MP3 FULL “My Chemical Romance” (yg beberapa wkt lalu gw temukan di satu sudut Glodok) yang jadi suntikan pemompa adrenalin menemani sesi pelacuran. it prettyfits well anyway.
oh Dear GOD!!! It’s FINISHED!!! FINALLY!! It’s f’kn killin ME!!!
I miss my sleeping in peaceful dream. A LOT...